harianamanat
Kekayaan seperti apa yang sedang kita kejar, hingga hutan harus dibakar membabi buta? Hingga pohon-pohon tumbang, tumbuhan hangus, dan alam kehilangan napasnya?
Demi menanam jagung dengan harapan menjadi kaya dalam sekejap, jangan sampai kita lupa bahwa hutan yang dibakar hari ini adalah jalan kehidupan yang sedang kita hancurkan sendiri.
Tanah yang kehilangan pepohonan, alam yang rusak, dan udara yang semakin panas bukanlah warisan yang baik bagi anak cucu kita. Jangan berharap kesejahteraan tumbuh dari cara-cara yang merusak. Sebab, keuntungan yang dikejar hari ini bisa berubah menjadi kerugian yang harus ditanggung bertahun-tahun kemudian.

Wahai para pemangku kebijakan, jangan jadikan hutan sebagai panggung pencitraan politik demi meraih suara!
Jangan biarkan alam dikorbankan demi kepentingan sesaat, sementara rakyat dan generasi mendatang harus menanggung akibatnya. Jangan sampai janji kesejahteraan hanya menjadi pemanis kata-kata, sedangkan hutan yang menjadi sumber kehidupan justru dibiarkan terbakar dan rusak.
Ingatlah, jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, dan suara rakyat yang dahulu diperebutkan akan menjadi kenangan. Namun, kerusakan alam bisa diwariskan kepada anak cucu hingga puluhan tahun mendatang.

Ada tanggung jawab moral, ada tanggung jawab hukum, dan ada pertanggungjawaban di hadapan Allah. Jangan sampai kelak kita dimintai pertanggungjawaban atas kerusakan yang sebenarnya bisa kita cegah, tetapi kita biarkan demi kepentingan dan keuntungan politik.
Api bukan hanya menghanguskan pepohonan. Ia juga mengancam sumber air, kesuburan tanah, udara bersih, dan masa depan kehidupan. Ketika keserakahan terus dituruti, sebanyak apa pun yang diperoleh, hati mungkin tak pernah merasa cukup.
Allah telah mengingatkan manusia agar tidak berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.
Carilah rezeki dengan cara yang baik. Tanamlah harapan tanpa membakar masa depan. Kejarlah kekayaan tanpa mengorbankan kehidupan.
Sebab, kekayaan sejati bukan sekadar hasil panen yang melimpah atau tebalnya isi kantong. Kekayaan sejati adalah rezeki yang berkah, hati yang tenang, alam yang lestari, dan kehidupan yang membawa kebaikan bagi sesama.
Bersabarlah dalam ikhtiar, ikhlaslah menjalani keadaan, dan jangan biarkan keserakahan mengalahkan rasa syukur.
Jangan sampai kita sibuk menanam jagung demi kekayaan, sibuk mengejar suara demi kekuasaan, tetapi justru mewariskan bencana kepada anak cucu kita.

Hutan bukan alat untuk membeli kekayaan. Alam bukan komoditas pencitraan politik. Dan bumi bukan warisan yang boleh kita habiskan sesuka hati.
Rawatlah bumi hari ini, agar anak cucu kita kelak masih memiliki kehidupan yang layak untuk disyukuri.
JagaAlamKita
AlamJagaKita
Penulis/Editor :Sri Nur Hayati
foto : Dedi jangka Bima /mbojoinside











