Ketika Alam Menyatu di Bombo Ncera

Featured, Pariwisata80 Dilihat

harianamanat

Ada tempat di Kabupaten Bima yang seolah menyimpan cerita alam dalam setiap aliran airnya.
Di sana, hamparan sawah bertemu perkebunan, hutan lebat berdiri kokoh, sementara sungai-sungai mengalir di antara dinding batu dengan tekstur alami yang memikat.

Tempat itu adalah Desa Ncera.

Desa yang berada di tengah kekayaan alam Kabupaten Bima ini bukan hanya menawarkan panorama hijau yang menyejukkan mata.
Di balik lanskapnya, tersimpan pula jejak sejarah dan tradisi masyarakat yang terus dirawat dari generasi ke generasi.

Salah satu pesona alam yang paling menarik perhatian adalah Bombo Ncera.

Airnya mengalir melewati bebatuan alam dan membentuk sejumlah tingkatan. Pada salah satu bagian, air terjun mencapai ketinggian sekitar lima meter, kemudian jatuh ke kolam alami yang airnya berwarna biru kehijauan.

Suara gemericik air, hijaunya pepohonan, serta bebatuan yang mengapit aliran sungai menciptakan suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota.

Di kawasan ini, alam seolah tidak bekerja sendiri.

Ia berpadu membentuk ruang-ruang kecil yang menyimpan keindahan. Ada Bombo Toi, Bombo Woha, hingga Bombo Ncera, kolam-kolam alami yang berada di antara bebatuan dengan bentuk dan tekstur yang unik.

Namun, Ncera bukan hanya tentang air, hutan dan bebatuan.

Di desa ini juga terdapat Wadu La Raji, sebuah situs bersejarah berupa sarkofagus atau kuburan batu yang menjadi bagian dari jejak sejarah dan kebudayaan masyarakat setempat.

Sejarah dan alam kemudian bertemu dengan tradisi.

Salah satu warisan budaya yang masih hidup hingga hari ini adalah atraksi Hadrah.

Tradisi itu dipercaya bermula ketika Sultan Bima, U’lumudin, datang ke Desa Ncera. Konon, ketika itu masyarakat sedang diliputi kesedihan akibat gagal panen.

Sang Sultan kemudian turun ke tengah sawah. Rebana dipukul, shalawat dilantunkan. Sementara itu, para prajuritnya melambaikan saputangan sembari menghalau burung-burung yang mengganggu tanaman.

Peristiwa tersebut kemudian dikenang masyarakat sebagai sebuah momentum kebahagiaan setelah masa sulit akibat gagal panen.

Sejak saat itu, Hadrah terus dilestarikan.

Bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi menjadi simbol rasa syukur, kegembiraan dan ingatan kolektif masyarakat Ncera terhadap perjalanan sejarah desa mereka.

Maka, ketika seseorang datang ke Ncera, yang ditemui bukan hanya sebuah air terjun.

Ada alam yang berbicara melalui gemericik air.

Ada sejarah yang berdiam di balik batu.

Dan ada kebudayaan yang hidup melalui bunyi rebana dan lantunan shalawat.

Ncera adalah pertemuan antara alam, sejarah dan tradisi—sebuah cerita Bima yang masih terus mengalir, seperti air yang tak pernah berhenti mencari jalannya.(Hayanti)

foto :Geogle