Puing-Puing Waktu oleh Muchlis Dj.Tolomundu (6)

TIGA ATAU EMPAT HARI sesudah Jumat kemelut sekejap itu. Kakek datang.
Biasa. Mampir dua kali seminggu. Tengok cucu. Ibuku anak tunggalnya.

Kakek seorang yang tertib dan necis. Pakaiannya tersetrika licin. Ujung atas pantalonnya melingkar di atas pusar, diikat ban pinggang. Ujung bawahnya jatuh tepat seinci di atas sepatu yang tersemir mengkilap.Seringkali duduk dengan kaki bersilang. Mengobrol dengan siapapun, dengan Pangeran—adik kandung Sultan—pun, tetap bersilang kaki. Ujung sepatu Kakek kadang nyaris menyentuh ujung sepatu Pangeran yang sama bersilang kaki. Anak perempuan mereka bersahabat dekat. Dua dari sedikit perempuan masa itu yang dikirim sekolah ke Jawa.

Kakek pembaca yang bukan saja rakus. Pada buku-bukunya bisa ditemukan garis tinta merah, biru, hijau, atau hitam di bawah teks yang dianggapnya menarik. Di ruang kosong teks, di tepi kanan atau kiri halaman dengan teks yang menarik perhatiannya, Kakek menulis—kadang dalam bahasa Belanda—catatan atau pertanyaan dengan tinta merah.

Kepada tamu, siapapun itu, yang mampir di rumahnya, Kakek selalu membacakan kutipan teks buku yang telah digarisbawahi. Sekaligus catatan atau pertanyaannya. Tidak perduli tamunya suka atau tak suka. Aku kerap tertawa, geli melihatnya seperti berdeklamasi.

Di rumahnya banyak buku. Beberapa rak. Di atas rak yg paling lebar diletakkan bingkai foto—persis foto di dinding rumahku—pria berkacamata, kemeja putih lengan pendek dan berkopiah. “Perdana Menteri yang menyatukan Indonesia ketika hampir bubar,” ujar Kakek menatap foto.

Siang itu aku sedang menemani Kakek di meja makan, membaca koran dan majalah. Aku cuma membolak-balik, membaca judul-judul, melihat foto-foto pada setumpuk publikasi langganan Ayah. Harian Abadi dari Jakarta; Petugas Pos datang membawanya sekali seminggu, sekaligus 6 edisi; Pesawat terbang jenis DC-3 bekas perang Korea yang diubah jadi pesawat penumpang terjadwal sekali seminggu ke kota ini. Ada juga Majalah Panjimas, Jakarta; Buletin Adil, Solo; Majalah Berita Sketmasa, Surabaya; Ada yg seronok, majalah hiburan Varia.

Ketika itulah masuk Yusuf dari teras belakang memapah Om Tasrif sampai di ruang tengah. Dibaringkan di sofà. Tampak rautnya menahan kesakitan. Dia berkulit gelap. Rahangnya menonjol. Tajam sorot matanya. Bekerja sebagai pegawai negeri pada satu kantor pemerintah. Berasal dari kecamatan dengan tradisi berani untuk tidak takluk. Di sana lelaki bertarung bebas satu lawan satu sebagai perayaan tiap selesai panen. Leluhurnya menolak patuh pada perintah sultan karena perintah sultan harus membayar bea kepada Hindia Belanda. Pembangkangan itu akhirnya mereka tempuh dengan perang. Melawan bedil dan sangkur, tentu kalah dan banyak yang gugur. Anak cucunya bangga, setiap tahun merayakan sikap dan tindakan pendahulunya. Dari komunitas itulah Om Tasrif berasal. Tak aneh bila cap pemberani lekat padanya.

Dia keponakan Kakek. Sering datang mengobrol dengan Ayah Ibu. Kepadaku dia selalu tersenyum. Kerap membawakan untukku buah srikaya gunung, kadang mangga atau tebu. Tetapi sekali ini datang tanpa buah di tangannya. Tak tampak senyum. Dia muncul dengan wajah lebam, bonyok, luka. Suaranya terdengar merintih. Tangannya menangkup di bagian perut. Langkahnya tertatih. Tidak lagi tegap.

Dari meja makan dan setumpuk majalah aku beranjak memberitahu Ayah. Kakek tak bereaksi, tetap membaca. Ayah bergegas keluar kamar hanya dengan sarung dan kaos oblong, mendelik ke arah Om Tasrif.

“Tiga hari saya disekap di markas. Begini jadinya,” keluh om Tasrif. Spontan Kakek berdiri.
“Verdomme..Stop sedu merintih itu,” Kakek membentak.

“Komandan yang dulu menangkap musuh, ternyata segolongan dengan yang ditangkapnya. Komandan yang sekarang, saya kira segolongan kita, ternyata menahan dan kejam menyiksa,” jawab Om Tasrif meradang.

“Hei Tasrif, saya disiksa dan dipenjara oleh dua penguasa berbeda sebelum zaman ini,” kata Kakek. Kepal tangannya berkacak di pinggang. “Ketahuilah, Nak. Orang-orang berkuasa datang dan pergi. Seperti musim, ganti berganti. Tetapi yang mereka genggam adalah zat kekuasaan yang sama.”

Kukira Kakek akan diam mendengar Om Tasrif masih meratap. Ternyata tetap bicara. “Orang berkuasa memihak kepentingannya sendiri. Selalu demikian. Di luar itu adalah korban. Bergiliran. Pada saatnya mereka juga adalah korban. Begitulah selalu yang terjadi.”

Tak hirau percakapan itu, Ayah menuju meja kecil di sudut ruang tengah. Diputarnya engkol telepon hitam, lalu berbicara kepada operator sentral telepon minta disambungkan ke telepon rumah dokter Hasan.

Belum lama menikahi sepupu ibuku. Ia paman dari temanku Sing. Dokter satu- satunya di kota ini, bahkan di sekabupaten ini. Baru dua tahun lulus dari Universitas Airlangga sudah langsung diangkat sebagai kepala rumah sakit kabupaten. Rumah dinasnya hanya berjarak empat rumah di sebelah barat masjid raya. Sedangkan rumah kami, diselingi seruas jalan, berada di timur masjid.

Dokter datang dengan tas hitam. Berkacamata tebal. Dan senyum yang tak pernah tanggal dari pipinya yang tembem. Laksana melekat pada wajahnya. Menatap parasnya serasa seisi dunia ini damai belaka. Dokter tidak bertanya yang terjadi pada pasiennya. Hanya menyentuh perlahan dan memeriksa menyeluruh pada permukaan tubuh.

Dengan stateskop tergantung di leher, dan airmuka yang senantiasa memberi senyum itu, ia laksana dewa penyelamat.(tunggu sbungannya yah…)