Petani Bawang Merah Buming di Tengah Badai

Uncategorized1142 Dilihat

Bima. Harian amanat.com,- Di tengah pandemi Covid-19, petani di Desa Jia, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima.  Memanen Bawang Merah di atas lahan tiga hektare. Panen ini diharapkan dapat mendukung kebutuhan bawang merah baik di wilayah Kabupaten Bima maupun di Daerah lain.

Dari hasil pantauan Sri dari Harian amanat.com, petani merasa bersyukur atas panen bawang tersebut. Apalagi saat ini Negara tengah dilanda wabah Corona, ” Ini tentu menjadi penyemangat bagi kami dan bangga bisa membantu kebutuhan bawang merah di Negeri ini,” tutur Uba Ledo, kamis. (18/6/2020). Di Pelabuhan Bima.

Lahan tiga hektare lebih tersebut, kata Uba Ledo yang juga sebagai petani, diperkirakan menghasilkan sekitar 40  ton bawang merah. 

“Saya dan teman-teman para petani  tetap semangat beraktivitas menanam bawang merah di tengah situasi sulit saat ini. Kami tidak pernah berpikir tentang apa itu corona, kami hanya tau rumah dan sawah saja,” ujarnya.

Dan dia bangga karena saat ini harga bawang merah di pasaran sedang naik dan pemenuhan kebutuhan bawang merah NTB sudah tercukupi, bahkan dirinya sangat bangga,   karena Bawang merah Bima  menjadi Komoditas unggulan dan daerah  penopang bawang merah bagi negeri ini, setelah brebes. “dahulu kami sulit mencari distributor untuk bawang merah, sampai kami demo dolog berkali-kali, tetapi saat Bupati terdahulu kami dipertemukan dengan orang kementrian pertanian yang mengatakan bahwa bawang merah bima menjadi komoditi nasional, sejak itu kami tidak sulit memasarkan bawang merah, karena sebut ini bawang merah bima, langsung diatas truk atau diatas kapal..habis terjual.. “ ujarnya.

Dan saat ini, dirinya tengah mengirim hasil panen bawang  merahnya  ke Kalimantan, jumlah yang dikirimkannya tersebut mencapai 100 ton bawang merah, 50 ton jagung. Dan itu hasil panen dari 7 orang petani bawang merah sape, dan 3 orang petani jagung.

Dirinya berharap agar pemerintah, bisa memberikan kemudahan kepada para petani, baik berupa lahan tidur maupun tanah desa untuk ditanami bawang merah.”andai para kades-kades itu mau transparan, bantu anak muda pengangguran itu dengan memberikan pekerjaan menggarap tanah desa untuk ditanami bawang merah, kan tidak ada anak-anak sape yang  keluyuran, anak muda sape itu siap jadi petani bawang, tetapi tidak punya  lahan. Kami sudah usulkan hal itu kepada Camat agar disampaikan kepada  pemerintah tapi sampai hari ini tidak ada jawaban,” ujarnya.

Ia  mengaku bahwa,  baginya semestinya sudah selesai untuk urusan dengan pemerintah, karena dirinya sudah mandiri, tanpa dukungan  pemerintah, tetapi sebagai orang tua yang  mencemaskan generasi muda yang  banyak menganggur, itulah bentuk kegelisahannya. “ kami..terutama saya…Alhamdulillah..hidup sudah cukup dari hasil bawang merah ini…dua kali naik haji…anak-anak ada yang perawat…bidan….polisi….insinyur petani bawang merah ( sembari menunjuk putranya lulusan pertanian Unram, yang sedang  menghitung jumlah karung yang akan di naikkan ke kapal barang, red  ). Tetapi teman anak saya ini banyak..coba lihat yang membantu mengangat karung itu teman anak saya, mereka-mereka itu mau bekerja, tetapi tidak ada lapangan pekerjaan. Menanam bawang  merah ini bisa dilahan kering, dipasi. Sape dan Lambu itu pas untuk bawang  merah. Coba pemerintah cetak sawah baru dilahan-lahan kering itu,” harapnya.

Petani sekaligus Pengusaha Bawang Merah ini tengah berusaha, agar teman-temannya sesama petani bawang merah, membuat perkumpulan agar tetap satu kata dalam menjalankan usaha, sehingga para rentenir tidak punya posisi diantara petani bawang merah.

—– Jangan kamu merasa lemah dan jangan bersedih, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu beriman. QS. Ali Imran ayat 139.—–

Komentar