PESONA HJB : Ketika Malam Menjadi Milik Rakyat

Headline, Pariwisata258 Dilihat

Begitu matahari tenggelam di ufuk barat, pelataran Kantor Bupati Bima sejak 29 Juni hingga 1 Juli 2026, berubah wajah. Lampu-lampu mulai menyala, alunan musik menggema, aroma kuliner lokal menguar dari deretan stan UMKM, sementara ribuan warga terus berdatangan.

Mereka datang bersama keluarga, sahabat, bahkan membawa anak-anak, menikmati malam yang terasa berbeda.

Selama tiga malam, sejak 29 Juni hingga 1 Juli, kawasan pusat pemerintahan itu tak lagi sekadar menjadi tempat mengurus administrasi.

Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan. Tempat masyarakat bercengkerama, menyaksikan seni budaya, berbelanja produk lokal, dan menikmati hiburan dalam balutan Pesona Dana Mbojo yang digelar dalam menyambut Hari Jadi Bima(HJB) Ke 386.

Satu demi satu penampilan seni dari setiap kecamatan menghiasi panggung.
Ada tarian tradisional yang diwariskan turun-temurun, ada pula kreasi-kreasi baru yang lahir dari tangan-tangan kreatif guru-guru dan warga masyarakat pecinta seni.
Semuanya tampil dengan ciri khas masing-masing, seolah ingin bercerita bahwa Bima memiliki kekayaan budaya yang tak pernah habis untuk dipentaskan.

Tepuk tangan tak pernah benar-benar berhenti.
Setiap penampilan selalu disambut meriah.
Dan kali ini di hamparan Karpet Biru itu Guru-Guru diberi ruang berekspresi berlenggang lenggok di atas Catk Walk untuk memperagakan hasil karya mereka akan busana kerja dari Tenunan Bima atau yang lebih dikenal dengan Tembe Mbojo.

Dan Wargapun larut dalam suasana yang hangat, menikmati setiap sajian yang dipersembahkan oleh putra-putri terbaik dari berbagai kecamatan.
Ada penampilan kreasi anak-anak Sanggar SMAS KAE WOHA yang membuka Panggung Kreasi Seni ini dengan hentakan Tarian Kreasi Baru, ada Penampilan Band Sekolah yang sudah menjuarai ajang Lomba Band Antar Sekolah di NTB ini.
Ada Persembahan Tumbu Tuta, sebuah permainan pencak silat adu kepala yang menjadi tradisi warga kecamatan Wawo.

Malam penutupan menjadi puncak kemeriahan. Kolaborasi musik tradisional seperti karepku kandei, Hadrah, Rebana, silu, sarune, Genda Mbojo, biola katipung yang dipadu padankan dengan alat musik modern di bawah pimpinan Aan Saputra dan Uda Gendis menjadi Puncak Acara Panggung Gembira Untuk Warga Bima itu, menghadirkan penyanyi kebanggaan Bima, Mira Santika, Fauzi Bima dan Ratu Ular.
Kehadirannya sontak menghidupkan suasana.

Ribuan warga bernyanyi bersama, berjoget tanpa sekat, membaur dalam kegembiraan yang sederhana namun begitu berkesan.

Di sudut lain, denyut kehidupan juga terasa di deretan stan UMKM. Produk kuliner, kerajinan tangan, hingga berbagai hasil kreativitas masyarakat menjadi magnet tersendiri.

Pengunjung tak sekadar melihat-lihat, tetapi juga membeli sebagai bentuk dukungan terhadap usaha lokal.

Di antara keramaian itu, Bupati Bima Ady Mahyudi bersama istri Murni Suciyanti tampak menyusuri setiap stan.
Selama tiga malam pelaksanaan, keduanya menyempatkan diri menyapa para pelaku UMKM, berbincang, sekaligus membeli produk yang dipamerkan.
Dengan nilai pembelian yang sama di hampir seluruh stan, perhatian itu menjadi penyemangat bagi para pelaku usaha.
Khusus untuk UMKM kriya tenunan, apresiasi diberikan dengan pendekatan berbeda, menyesuaikan nilai dan karakter produknya.

Namun, mungkin yang paling berkesan bukan hanya panggung hiburannya atau ramainya pengunjung. Ada perasaan memiliki yang tumbuh di tengah masyarakat.

Kawasan Kantor Bupati yang selama ini identik dengan aktivitas birokrasi kini terasa lebih dekat dengan rakyat. Itu terlihat saat Bupati Bima Ady Mahyudi beserta Istri Murni Suciyanti, Wakil Bupati Bima Irfan Zubaidy beserta Istri Hj.Anita saat ikut memperagakan Fashion Tenunan Bima itu mendapat sambutan luar biasa.
Tidak itu saja Bupati Dompu Bambang Firdaus dan Istri pun turut meramaikan ajang Panggung Seni Budaya Bima ini.
Satu Lagu dari Kelompok Five Minutes dinyanyikan dengan apik oleh Ama Rasa Dompu itu.

Dan Warga Bima memberi Apresiasi kebahagiaan atas malam indah dibawah bukan Purnama itu.
Mereka hadir bukan sebagai penonton semata, melainkan menjadi bagian dari sebuah perayaan.

“Semoga kegiatan seperti ini terus diadakan,” begitu harapan yang berulang kali terdengar dari para pengunjung.

Bagi mereka, Pesona Hari Jadi Bima bukan hanya hiburan.

Kegiatan ini menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, menampilkan kreativitas, menggerakkan ekonomi kecil, sekaligus merasakan bahwa pemerintah membuka pintu partisipasi seluas-luasnya.

Pada akhirnya, Pesona Hari Jadi Bima bukan sekadar festival tiga malam.
Ia menjadi cerita tentang kebersamaan. Tentang budaya yang tetap hidup karena terus diberi panggung. Tentang UMKM yang tumbuh karena diberi ruang.
Dan tentang sebuah pemerintahan yang berupaya mendekatkan diri kepada masyarakat melalui cara yang sederhana: menghadirkan kebahagiaan di tengah rakyatnya.(Sri Miranti Haris)