harianamanat
Lombok Barat,- Majelis Adat Sasak memberi gelar kehormatan kepada Bangsawan Lombok, Lalu Muhammad Iqbal.
Yakni Manggala Bhumi Pengerakse Agung (MBPA), Rabu 10 Desember 2025.
Pemberian gelar adat kepada Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, bukanlah sekadar seremonial.
Ini adalah peneguhan mandat besar sebagai Manggala Bhumi dan Pengerakse Agung.
Sebagai Manggala Bhumi, MBPA Lalu Muhammad Iqbal memikul tanggung jawab sebagai penjaga kelestarian tanah (bumi) dan pengayom masyarakat NTB.
Ini adalah komitmen untuk memastikan alam kita tetap lestari dan terawat, mencegah bencana, serta mewariskan lingkungan yang sehat.

Pemberian gelar tersebut untuk mengangkat satu pesan besar yakni memperkuat konsolidasi dan soliditas kesasakan dalam spirit sebumbung, sewirang, sejukung.
Gubernur Dr. Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas penghargaan yang diberikan MAS.
Ia menilai gelar tersebut merupakan bentuk kepercayaan sekaligus komitmen MAS dalam mendorong hadirnya pemimpin yang mampu membawa NTB mendunia.
“Bukan hanya sebagai putra Sasak, tetapi memimpin dan mengayomi seluruh masyarakat NTB.
NTB adalah rumah bagi semua orang, dengan agama dan suku yang berbeda untuk bersama-sama mendunia,” ujarnya.

Gubernur Iqbal menegaskan gelar Manggala juga mengandung amanat untuk menjaga kelestarian alam.
“Menjadi seorang pemimpin bukan hanya memimpin rakyat, tetapi juga memimpin sungai, gunung, dan laut yang harus dilindungi. Itu bagian dari kepemimpinan dalam tradisi Sasak,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap penguatan budaya, mulai tahun 2026 Pemprov NTB akan membentuk Dinas Kebudayaan tersendiri.
“Ini komitmen pengarusutamaan budaya.
Budaya bukan hanya tradisi, tetapi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan pemerintah,” tegasnya.

Arti dari Pengerakse Agung menurut Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan, SH., MH., Pemimpin yang memperjuangkan nasib kebaikan untuk rakyat, menekankan pentingnya posisi gubernur dalam struktur sosial-budaya masyarakat Lombok. Menurutnya, Gubernur tidak hanya memegang jabatan formal sebagai kepala daerah dan wakil pemerintah pusat, tetapi juga memiliki mandat moral untuk mengayomi masyarakat adat.
“Gubernur harus menjaga situs sejarah, melindungi cagar budaya, serta merawat kemalik dan ruang-ruang sakral di Lombok,” ujarnya.
Dirinya menjelaskan pula makna gelar yang diberikan yang diuraikan sebagai Manggala, artinya pemerintah, bumi artinya tempat berpijak. Jadi Manggala Bumi Pengerakse Agung, Pemimpin harus menjaga Ubi-Bene dan Ubi-Patria, hubungan antara pemimpin, tanah, dan adat istiadat.

Menurut Lalu Sajim, seorang pemimpin yang tercerabut dari budaya lokal akan mudah mengalami guncangan, baik dalam menjalankan pemerintahan maupun dalam jati dirinya sebagai manusia Sasak.
“Adat itu penyangga. Jika akar budaya hilang, maka hilang pula keseimbangannya,” tegasnya.
Sedangkan
Dengan memegang teguh nilai Tindih, Maliq, dan Merang, mari kita dukung ikhtiar Miq Iqbal dalam menjaga alam dan menyejahterakan rakyat menuju NTB Makmur Mendunia. (Dis)







