harianamanat.com

MOJOKERTO, – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) konsisten melibatkan masyarakat desa secara aktif dalam upaya deteksi dini aktivitas – aktivitas penyebaran ideologi kekerasan sejak dari tingkat desa.

“Kita harus tetap gandeng masyarakat desa secara aktif dalam upaya pencegahan dan deteksi dini aktivitas – aktivitas yang mengarah pada penyebaran ideologi kekerasan,” jelas Kepala Subdirektorat Kesiapsiagaan dan Pengendalian Krisis Kol. Inf. Indra Gunawan., dalam sebuah wawancara terkait kegiatan intervensi sosial di desa Kuripansari Mojokerto, Rabu (11/10).

Pendekatan intervensi sosial yang dilakukan berisi pembinaan dan pemaparan materi kepada tokoh- tokoh masyarakat yang dipilih untuk menjadi penggerak desa. Tujuannya agar penggerak dapat mensosialisasikan kembali materi pembinaan kepada masyarakat. Harapannya, desa Kuripansari bebas dari paham – paham jaringan pengusung kekerasan.

“Kita beri sosialisasi kepada masyarakat untuk menyebarkan virus kebaikan, mari kita peduli dengan desa kita. Desa Kuripansari jangan sampai jadi sarang ideologi kekerasan,” ujar Kepala Desa Kuripansari, Warijan.

Sementara itu, mantan anggota JAT yang hadir sebagai pembicara Ust. Haris Amir Falah meningatkan masyarakat pentingnya toleransi.

“Tidak boleh ada paham – paham intoleransi di diri kita. 5 agama di Indonesia, masing – masing punya hak hidup yang sama,” tuturnya.

Desa Kuripansari merupakan satu dari lima desa di lima provinsi berbeda yaitu Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, NTB dan Lampung yang menjadi pilot project program Desa Siapsiaga.(HMS)