Semerbak Nuansa Sejarah Bima Pada HUT ke-383

Daerah, Headline1910 Dilihat

harianamanat.com

Kabupaten Bima,- Tahun 2023 merupakan tahun ketiga Periode Kepemimpinan Bupati Hj.Indah Dhamayanti Putri,SE.M.IP dan Wakil Bupati Bima, Drs.H.Dahlan M.Nor,M.Pd.

Tentu kekompakan dan partisipasi aktif semua komponen masyarakat Dana Mbojo merupakan modal penting dalam menjabarkan visi dan misi, yang telah ditetapkan di dalam RPJMD tersebut.

Dan Perayaan HUT Bima yang ke-383 ini tentu memiliki kesan tersendiri.
Semarak upacara dalam balutan nuansa adat Bima.

Terlihat seluruh peserta upacara maupun undangan yang hadir mengenakan pakaian dan tenunan ada Bima.

Mari sejenak kita kembali mengingat perjalanan sejarah Bima.

Kesultanan Bima adalah salah satu kerajaan islam yang saat itu didirikan tahun 1621 yakni 19 tahun, sebelum La Kai mengumumkan Perubahan sistem Pemerintahannya dari Kerajaan menjadi Kesultanan.

20 tahun setelah mempelajari sistem Pemerintahan Penobatkan Raja La Kai menjadi Sultan Abdul Kahir I, tanggal 5 Juli 1640, bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Raja Kesultanan Bima yang pertama merupakan raja ke 27 Kerajaan Bima yang bernama Lai Kai.

Dalam sejarah Kesultanan Bima, sistem pemerintahannya sempat dipimpin oleh 14 sultan.

Asal Mula Berdirinya Kesultanan Bima

Kesultanan Bima terbentuk saat Raja Bima ke 27 yaitu Lai Kai mengubah pemerintahannya menjadi bentuk Kesultanan.

Kesultanan ini berdiri pada tahun 1640 dan berakhir masa pemerintahannya pada tahun 1958.

Pada awalnya Kerajaan Bima bercorak Hindu yang didirikan pada abad ke 11.

Pada saat itu Kerajaan Bima disebut juga sebagai Kerajaan Mbojo.

Kerajaan ini dibentuk oleh Sang Bima.

Sesaat setelah dibentuknya kerajaan, Sang Bima pergi ke Kerajaan Medang sehingga ia meminta anaknya yang bernama Indra Zamrud untuk memimpin Kerajaan Bima dan Indra Kumala menjadi pemimpin di Dompu.

Awal Kerajaan Bima berubah menjadi bentuk kesultanan karena ada pengaruh dari para pedagang Kesultanan Demak.

Para pedagang yang singgah menyiarkan agama Islam sehingga sejarah Kesultanan Bima dimulai.

Tokoh penyebar islam di tanah Bima adalah Sultan Alaudin yang datang pada tahun 1619.

Beliau mengutus para pemuka agama ke wilayah Kesultanan Lawu, Tallo, dan Bone.

Lai Kai yang merupakan Raja Bima memeluk islam pada tahun 1030 hijriyah.

Kesultanan Bima berpusat di Bima dan wilayah kekuasaannya meliputi bagian timur Sumbawa, Manggarai, dan beberapa pulau kecil di Selat Alas.

Wilayah pemerintahannya berbatasan langsung dengan Laut Jawa dan Samudera Hindia.

Lokasinya cukup strategis sebagai jalur perdagangan.

Pada tahun 1938, wilayah Kesultanan Bima sempat mengalami penyempitan akibat adanya perjanjian yang telah dibuat dengan Gubernur Hindia Belanda.

Wilayah kekuasaan Kesultanan Bima bagian timur sampai Manggarai dan sebelah barat adalah Dompu.

Namun pada tahun 1928, Kesultanan Bima memperoleh kekuasaan Kerajaan Sanggar dan Kerajaan Tambora.

Raja dan Masa Kejayaan Kesultanan Bima
Awal mula terbentuknya Kesultanan Bima adalah saat La Kai memeluk islam sehingga dirinya dinobatkan sebagai sultan pertama.

Sultan Ismail menjadi salah satu sultan yang menjabat pada tahun 1819 hingga 1854.

Sultan Bima yang terkenal selanjutnya adalah Sultan Abdul Kadim. Beliau menjadi sultan ke 8 Bima.

Dirinya berkuasa sejak 1765 dan memberlakukan berbagai aturan politik dan kerjasama dengan VOC.

Sultan selanjutnya yang sempat memerintah adalah Sultan Abdul Hamid.

Beliau memimpin Kesultanan Bima mulai tahun 1773 M.

Saat masa pemerintahan Sultan Hamid, seluruh kapal kapal yang berlayar di sekitar Bima memperoleh izin dengan mudah.

Sayangnya saat itu perdagangan Kesultanan Bima berada di bawah monopoli VOC.

Sultan yang terkenal dari Kesultanan Bima adah Sultan Muhammad Salahuddin (1915 M).

Beliau merupakan sultan yang dikenal karena membawa banyak perubahan.

Sultan Muhammad Salahuddin banyak mendirikan sekolah islam, mengubah system politik dan pemerintahan.

Dan pada masa Sultan Salahuddin, rakyat Bima saat itu yang masih sebagian besar berkeyakinan animisme (makakimbi dan makakamba)akhirnya semuanya menyatakan memeluk Islam sesuai yang di ajarkan Sultan Muhammad Salahuddin.

Sultan Salahuddin mulai mendirikan beberapa masjid dan Sekolah di setiap desa yang berada di bawah Kesultanan Bima.

Tak hanya itu, system peradilan juga dipertegas sesuai dengan peradilan islam.

Beliau juga memimpin peperangan untuk memperjuangkan berdirinya Indonesia.

Dan HUT Bima kali ini sebagai wahana Pelestarian Budaya.
Itu yang di ungkapkan Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE. M.IP.

Upacara HUT Bima kali ini di ikuti pula oleh Wakil Bupati H. Dahlan M. Noer, Wakil Walikota Bima Feri Sofiyan, SH, Anggota DPR RI H. Muhammad Syafrudin, S.T., M.M, Ketua DPRD Kabupaten Bima Muhammad Putra Ferryandi,S.IP.M.IP dan unsur Pimpinan DPRD Kabupaten Bima, Direktur Manajemen Penanganan Bencana dan Kebakaran Kemendagri Edy Suhermanto M.Si, Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, Sekda Drs. H.M. Taufik, HAK, M.Si, Kepala Balai Pengelola Transportasi Jalan Kelas II NTB, para Pejabat Eselon II dan Eselon III, Ketua PKK Kota Bima, Hj.Ellya Alwaini, Ketua TP. PKK yang juga Ketua GOW Hj. Rostiati Dahlan, S.Pd, Ketua Majelis Adat Sara Dana Mbojo Hj. Ferra Amalia, MM, Ketua MUI Kabupaten Bima, Pimpinan Instansi Vertikal/BUMN/BUMD, Pejabat Fungsional dan Staf OPD Lingkup Pemerintah Kabupaten Bima.(Sura)

Komentar