IAKMI :Waspada Stunting-Diabetes dan HIV Aids

harianamanat.com

SIARAN PERS IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia)

Jakarta, 19 Oktober 2022
COVID tidak akan pernah berakhir, sebagaimana Flu Spanyol yang disebabkan oleh virus
H1N1 yang mereda bukan berkat obat, tetapi mereka yang terinfeksi telah membentuk kekebalan
atau meninggal.

Sampai saat ini status pandemi COVID-19 juga masih belum dicabut oleh WHO,
sementara masyarakat sepertinya sudah tidak peduli lagi dengan kondisi pandemi COVID-19.

Kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan semakin menurun:

tidak lagi menjaga jarak,
cuci tangan sudah mulai dilupakan, bahkan kepatuhan memakai masker sudah sangat rendah.

Sekolah-sekolah, Perkantoran, tempat-tempat umum sudah mulai buka dengan bebas dan sangat
minim menerapkan protokol kesehatan.

Ditambah lagi dengan mulai munculnya permasalahan
kesehatan lainnya, seperti TB yang angkanya meningkat, stunting, HIV AIDS, Hipertensi, Diabetes
Mellitus dan penyakit-penyakit lainnya.

Kondisi tersebut dimungkinkan karena hampir lebih 2
tahun ini sejak Maret 2020, pemerintah terfokus pada penanganan pandemi COVID-19, sehingga
program-program dan permasalahan kesehatan lainnya kurang mendapat perhatian.

Bonus Demografi Indonesia terancam stunting.
Mengutip dari P2PTM Kemenkes RI, bonus
demografi di Indonesia pada 2030 terancam terbuang sia-sia.

Stunting menurunkan kapasitas
intelektual anak sehingga pada akhirnya akan menurunkan daya saing SDM Indonesia.

Berdasarkan
data hasil SSGI 2021, prevalensi stunting di Indonesia ada di angka 24.4%, walaupun angka ini sudah
mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, namun masih jauh dari target prevalensi stunting di
Indonesia tahun 2024 sebesar 14%.

Bahkan di wilayah timur Indonesia, seperti di Provinsi Sulawesi
Tenggara, prevalensi stunting masih di angka 30.2% dengan beberapa Kabupaten seperti Kab. Buton
Selatan dan Kab. Buton Tengah memiliki angka prevalensi stunting yang ekstrem di atas 40 persen.

Tiga dasawarsa terakhir Indonesia selalu dihantui oleh TB.
Saat ini Direktur P2PM Kemenkes
RI mengatakan bahwa dari estimasi 824 ribu pasien TB di Indonesia baru 49% yang ditemukan dan
diobati dan terdapat sebanyak 500 ribuan yang belum diobati sehingga berisiko menjadi sumber
penularan. P2PM merencanakan skrining besar-besaran dengan memanfaatkan peralatan X-Ray
Artificial Intelligence untuk memberikan hasil diagnosis TB yang lebih cepat dan efisien yang
nantinya akan mempercepat eliminasi TB ditahun 2030.

Masa depan generasi terancam, cakupan dasar imunisasi lengkap (12 – 23 bulan) rendah.

Mengutip dari Kemenkes RI, ada sekitar lebih dari 1.7 juta bayi yang belum mendapatkan imunisasi
dasar selama periode 2019-2021.

Hal ini dapat berdampak pada peningkatan jumlah kasus penyakitpenyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi atau PD3I dan terjadinya kejadian luar biasa (KLB)
seperti campak, rubella, dan difteri di beberapa wilayah dan akan menjadi double burden bagi setiap
wilayah terdampak.
Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) berpendapat bahwa kondisi kesehatan
masyarakat saat ini perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah dan semua stakeholder,
perlu adanya upaya masif untuk kembali menguatkan ketahanan kesehatan masyarakat.

Perilaku
hidup bersih dan sehat perlu ditingkatkan kembali, protokol kesehatan dikuatkan kembali (Cuci
Tangan Pakai Sabun, memakai masker ketika keluar rumah dan menjaga jarak). Penguatan tersebut
tentunya perlu peran aktif semua komponen, tidak hanya pemerintah dan tenaga kesehatan,
komponen yang paling utama adalah masyarakat itu sendiri.

Oleh sebab itu, perlu dirumuskan bersama bagaimana kita menghadapi kondisi kesehatan
saat ini dan bagaimana agar Indonesia bisa melakukan transformasi kesehatan, sehingga terwujud
masyarakat yang sehat, produktif, mandiri dan berkeadilan sesuai dengan dengan Visi Kementerian
Kesehatan.

Untuk merumuskan hal tersebut IAKMI akan mengadakan kegiatan Kongres Nasional
(KONAS) XV dan Forum Ilmiah Tahunan (FIT) VIII yang akan diselenggarakan di Pekanbaru, Provinsi
Riau dengan Tema “Transformasi Sistem Kesehatan Menuju Cakupan Kesehatan Semesta 2030”.

Kegiatan tersebut akan menghadirkan tokoh-tokoh nasional, mulai dari Presiden/Wakil Presiden,
Para Menteri, Pimpinan Berbagai Organisasi Profesi Kesehatan, Pimpinan Perguruan Tinggi seluruh
Indonesia dan seluruh tenaga kesehatan masyarakat, yang akan menyampaikan gagasannya dalam
Plenary Session, simposium, workshop dan presentasi makalah bebas. Selain itu, akan dilaksanakan
juga sidang organisasi untuk menentukan kepemimpinan IAKMI 3 tahun ke depan.

Berikut beberapa tema besar yang akan dibahas dalam kegiatan Konas dan FIT IAKMI:

  1. Aksi Kesehatan Masyarakat Menuju Transformasi Sistem Kesehatan
  2. Smart Puskesmas: Menuju Digitalisasi Layanan Kesehatan Primer Penguatan Ketahanan
    Sistem Kesehatan Nasional
  3. Kesiapan SDM Kesmas dalam Mewujudkan Transformasi Layanan Kesehatan
  4. Transformasi Pembiayaan Kesehatan untuk Layanan Kesehatan Primer
    Selanjutnya, kami mengajak semua pihak (tenaga kesehatan masyarakat, dosen, pimpinan
    perguruan tinggi Kesehatan Masyarakat, seluruh organsiasi profesi kesehatan, Mahasiswa dan
    lainnya) untuk menghadiri dan memberikan ide-ide/gagasan/pemikiran dalam upaya
    mewujudkan cakupan kesehatan semesta tahun 2030.

Demikian seruan ini kami sampaikan. Semoga kita semua mampu menyelesaikan permasalahan
kesehatan di negeri tercinta dengan langkah dan hasil terbaik.

Jakarta, 19 Oktober 2022.

Ketua Umum,
Dr.Ede Surya Darmawan,SKM,MDM.

Ketua Panitia KONAS FIT IAKMI,

Dr. Hermawan Saputra, SKM., MARS., CICS