Sumbawa dan Selangor serta Lelaki Tua dari Laut oleh Muchlis Dj.Tolomundi (4)

*AP dan AP (4)

TATKALA PADA akhirnya seluruh saham NNT, kecuali 17,8% atas nama Pukuafu (Merukh), selesai diakuisi oleh PT AMAN (Medco/Panigoro dan AP Invesment/Agus Projosasmito) dengan nilai Rp 34 triliun, di dalamnya sudah melebur silang sengketa kedudukan saham 2,2% dan 7% yang menggantung.

Panigoro dan Projosasmito menyasar apa, kok membeli perusahan dengan lokasi deposit sudah geruwak laksana kawah raksasa? Dalam konsesi NNT, wilayah tambangnya mencakup dari selatan Kabupaten Sumbawa Barat sampai selatan bagian timur Kabupaten Sumbawa.

Di sana, di sekitar Lunyuk, masih ada beberapa blok deposit mineral yang segera memasuki tahap produksi, misalnya blok Elang Dodo Rinti. Cadangannya lebih besar
dari blok Batu Hijau.

Sejak 2016 proses alih saham ini hingga tuntas pada 2018, harga saham Medco di bursa naik 6 kali lipat (600%).
Apakah di tangan Arifin Panigoro dan Agus Projosasmito (AP&AP) ada rencana membangun smelter? Saya menunda pertanyaan sensitif—perihal yang diduga menjadi salah satu alasan hengkangnya mitra asing pemegang saham NNT—itu dalam dua kesempatan bertemu bos Medco sekitar akhir 2016 di klub eksklusif miliknya pada lantai bawah kantornya, Gedung Equity, kawasan SCBD, Jakarta.

Tertalu dini mengusiknya dengan smelter mengingat saat itu AP baru saja memulai proses akuisisi. Dua tokoh yang bersama saya pada malam yang dipagut dingin itu membahas hal lain sembari menikmati wine bagus suguhan tuan rumah yang tampak sumringah.

Suatu hari dalam 2015, sekitar waktu para pemegang saham berancang melepas seluruh sahamnya di NNT kepada PT AMAN, manajemen NNT mengumumkan, bahwa selama operasi produksi sejak tahun 2000 NNT telah mengeluarkan lebih Rp 100 triliun berupa pajak, royalty, deviden, dan lain lain. Nah ‘dan lain lain’ ini disebutkan gaji dan total belanja serta CSR. Jangan-jangan termasuk pula pembelian impor barang modal (alat berat dan sejenis). Mungkin pula termasuk biaya konstruksi di lokasi pertambangan. Lha itu … gaji karyawan dan belanja barang saja mereka sebut padahal itu biaya operasi produksi yang bersifat internal yang memang seharusnya dikeluarkan untuk mendapatkan laba.

Lalu berapa dari sekitar Rp 100 triliun itu yang masuk kas negara sebagai pajak dan royalty? Sekitar Rp 34,7 trilyun. Bagaimana distribusi dan alokasi?

Peraturan perundang undangan NRI yang mengaturnya. Perda, Pergub, Perbup tak
kuasa menjangkaunya, lantaran menurut UU memang bukan domainnya. Dalam rentang masa itu, APBD Sumbawa Barat dan APBD Sumbawa per tahunnya berkisar antara Rp 500 miliar sampai Rp 1,5 trilyun.

Sementara itu, orang-orang dari berbagai penjuru dunia datang dan pergi—dengan segenap dana dan teknologi serta segala rupa siasatnya—untuk mati matian mendulang kandungan kekayaan wilayah ini tanpa bersedia—misalnya melalui smelter—untuk dikontrol dan sekadar berbagi nilai tambah proses olahan dari ribuan triliun rupiah nilai konsentrat yang sudah mereka angkut.

SELURUH GAMBARAN di atas, hanya sedikit yang dapat ditulis tentang betapa sungguh berlimpahnya kekayaan Sumbawa dan Sumbawa Barat.

Pada zaman silam ini adalah wilayah Kesultanan Sumbawa. Kecuali di timur, tiga sisi lain yang hampir mengelilinginya adalah laut. Tinggal menunggu teklonogi dan kecerdasan warganya untuk mengelola. Garis pantainya panjang dan di sebelah baratnya adalah selat dalam dan lebar—dekat dengan Selat Lombok dan Selat Makassaar sebagai alur laut Kepulauan Indonesia—di jalur perdagangan dunia : dari Pasifik ke Samudera Hindia dan sebaliknya.

Seperti Pulau Batam dekat Selat Malaka, lantaran letak geografisnya lalu dikembangkan sejak 1970an, awalnya hanya sebagai base logistik semua kontraktor bagi-hasil Pertamina dan terminal penyimpanan minyak.

Di utara-timurlaut bekas wilayah kesultanan ini ada Moyo, surga keheningan yang diburu para selebriti dan banyak ningrat dunia. Di sana juga teluk terbesar di Indonesia, kaya hasil laut dan bertebaran pulau-pulau kecil yang indah. Daratan Sumbawa luas, dengan padang rumput
bagi ternaknya. Kualitas daging sapi dan kerbaunya disukai pasar karena kepadatannya. Tersedia hamparan dataran dan potensi air yang meruah, menunggu tindakan untuk ekstensifikasi lahan pangan dan teknologi pertanian serta irigasi—menyusul bendungan besar yang sudah ada dan sedang dibangun: Mamak, Bintang Bano, Tiu Kulit.

Dari sawah eksisting, kualitas beras dan kacang hijau Sumbawa sudah lama terkenal. Hutan dan pugunungannya berjajar jajar mengandung keanekaragaman hayati dan keragaman mineral.
Inilah suatu wilayah yang memiliki seluruh dan semua syarat untuk menjadi makmur dengan penduduk dua kabupaten ini tak lebih dari 700 ribu—yang kehidupannya tidak mencerminkan limpahan kekayaan bumi yang dimukiminya. Sebagian diantaranya bahkan meninggalkan anak istri untuk memburuh, mengais remah upah, di negeri negeri jiran.

Bekas wilayah kesultanan seluas 8.400 km2 ini, lebih luas sedikit dari Kesultanan Selangor, negeri makmur berpenduduk hampir 6 juta, yang menjadi pusat dari Federasi Malaysia. Selangor—sama dengan Singapura— terletak di tepi Selat Malaka yang dangkal dan sudah sangat padat serta tidak lagi layak untuk masa depan ketika kapal kapal harus dibuat lebih meraksana demi efisiensi biaya logistik. Hal yang sama dari dua kesultanan ini: warga dan para sultannya berdarah Gowa Makassar.