Puing-Puing Waktu oleh Muchlis Dj.Tolomundu (3)

Aku merengek pada Ibu, mengapa aku tak ikut bersama temen-temenku seTK di atas truk? Mengapa ayah ibu mereka, Om dan Tante, turut dalam karnaval? Mana hiasan kertas warna? Mana benderanya?

Setiap peringatan hari kemerdekaan, selalu melewati depan rumah: karnaval anak, gerak jalan, drum band, juga parade segala jenis kendaraan hias dari truk sampai dokar. Semuanya meriah dalam balutan aneka warna kertas maupun ragam busana. Dan pasti banyak bendera kertas.

“Bukan, Nak. Ini bukan karnaval,” ujar Ibu membungkuk ke arahku. Lalu pandangannya kembali ke arah iring-iringan truk.

Tetapi, deru mesin banyak kendaraan itu. Hiruk pikuk orang di tepi jalan. Suasana meriah itu. Aku sedang menonton karnaval. Warna-warni kain diterpa angin. Dan kelambu yang melambai itu.

Aku sudah menjadi murid klas 2 SD di utara istana kesultanan ketika Pak Ali Jahja, kepala sekolah, mengantar masuk ke klas beberapa murid baru. Dan semuanya kukenal. Ada Ang, Kae, Ing, Fung, Cucing, Yong, Cae, dan Sing. Mereka sebelumnya adalah teman-temanku di TK. Pada saat istirahat aku melihat ternyata ada adik Ang di klas 1. Juga dua kakak perempuan Fung jadi murid baru di klas 3.

Teman-temanku kembali. Namun sebagian lainnya teman satu TK tak lagi pernah bertemu denganku. Entah ke mana sejak pergi di dalam iring-iringan truk berkelambu melambai itu. Tak pernah kutanyakan itu pada para sahabatku. Tidak ada pula yang membicarakannya.

Hari ke hari kami belajar di klas. Bermain bola. Dan membolos, pergi menonton pacuan kuda. Aku kadang sebangku dengan Ang. Tubuhnya tinggi, kupikir hampir satu setengah kali badanku. Dia sering membantu untuk pelajaran berhitung. Kerap pula aku sebangku dengan Fung. Kami sama bertubuh mungil. Seringkali dia mengajari menggambar. “Tanganmu jangan kaku. Lenturkan jarimu,” katanya agak dongkol ketika menggurui aku menggambar lengkung pelepah dan detail daun kelapa. Dia terampil menggambar. Bola mata dan manyun bibirnya otomatis bergerak searah gerakan pensil di tangannya. Tak pernah kualami keadaan seperti itu apapun yang coba kugambar.

Kadang Ang dan Fung minta tolong untuk jawaban dalam pelajaran bahasa, sejarah dan pengetahuan umum. Menjelang ulangan kami belajar bersama di rumah Jamil. Rumahnya gedung yang luas. Ayahnya pedagang kain. Di rumah itu sering terdengar musik kasidah dari piringanhitam. Rumah tokonya bersebelahan dengan toko ayah Ang. Di sekolah, Jamil sebangku dengan Cucing. Syaiful dengan Ing. Dan Rais kadang dengan Yong. Rais lah yang kerapkali membentuk tim 2 x 6 orang untuk laga sepakbola di halaman depan deretan klas. Waktu istirahat, kami bertanding. Mayong, Kae, Rudin dan Rais adalah jagoan pencetak gol. Dua kakak perempuan Fung dan kakak perempuan Rais selalu menjadi supporter adiknya. Fung dan dua kakaknya—kurasa mereka berdua adalah perempuan paling cantik di sekolah kami—adalah anak OmRestoran. Ang kerap menggoda salah seorang kakak Fung. Jamil kepincut pada kakak Rais. ( To Be Continued)