Ramadhan Yaa Ramadhan (7)

RAMADHAN YA RAMADHAN (7)
DO’A DIIJABAH, DOSA BERGUGURAN
Oleh : Dr. Muhammad Irwan H. Husain, MP.

Alhamdulillah, manusia beriman yang menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan telah berada pada tahap sepuluh kari kedua. Manusia beriman tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dan akan terus berupaya untuk meraih ampunan melengkapi rahmat yang diperorleh pada sepuluh hari pertama. Ikhtiar menambah amaliah ramadhan terus merekah dari hari ke hari, disertai do’a yang tiada henti untuk terus mampu melaksanakan ibadah puasa secara utuh hingga akhir nanti. Orang yang berihktiar tanpa berdo’a adalah sia-sia dan tergolong orang yang sombong. Allah berfirman “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdo’a) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”(Qs. Al-Mu’min.40). Rasulullah saw bersabda “Barang sipa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan memurkainya (HR. At-Turmudzi).

Manusia yang tidak berdo’a saja dapat masuk neraka dengan keadaan hina, lantas yang mengaku beriman tetapi tidak mau melaksanakan segala perintah Allah SWT baik yang wajib maupun sunah tentu nasibnya akan lebih parah dan lebih hina lagi. Dengan kesombongannya, orang seperti ini terus melanggar segala perintah Allah, melakukan perbuatan sesuai dengan kehendak nafsunya, menimbulkan keresahan dan kerusakan bagi orang lain. Bulan ramadhanpun telah dipahaminya sebagai bulan pengampunan dosa, tetapi belum juga mau beranjak dari kesombongannya. Berbeda dengan orang beriman yang melaksanakan kewajiban dan sunah lainnya. Ia selalu berdo’a, semoga amal ibadah yang dilakukan selama ini dicatat sebagai kebaikan dan menggugurkan segala dosa yang telah diperbuatnya. Yang taat melaksanakan segala perintah Allah SWT saja terus berdo’a agar diterima oleh Allah, bagaimana orang yang melakukan sebaliknya dan berharap dapat diterima do’anya.

Do’a merupakan sarana yang menghubungkan manusia dengan Sang Maha Pencipta. Hamba beriman dan bertakwa mencurahkan segala isi hatinya untuk didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Dalam suasana suka maupun duka, hati dan jiwanya selalu berkoneksi dengan Allah SWT. Terlebih di bulan ramadhan yang mulia ini, orang yang berdo’a di dalamnya dan dikabulkan dikatagorikan sebagai orang yang mulia, karena meminta di bulan yang mulia. Allah berfirman “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (Qs.Al-Baqarah, 186). Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya Rabb kalian Tabaraka wa Ta’alla itu Mahamalu dn Mahamulia. Dia malu untuk mengembalikan hamba-Nya yang sudah menengadahkan tangan kepada-Nya dalam keadaan tangan kosong (HR. Abu Dawud, At-Tutrmudzi dan Ibnu Mazah).

Orang beriman menyadari sepenuhnya salah satu hikmah bulan Ramadhan adalah bulan yang menghanguskan dosa-dosa dan membakarnya dengan amal-amal sholeh. Oleh karenanya, orang yang berpuasa semakin semangat untuk melaksanakan dan menghidupkan ibadah baik wajib dan sunnah dengan selalu berdo’a untuk mendapatkan ridho Allah dengan memberi pahala yang dapat membakar dosa-dosa yang telah dilakukan selama ini. Rasulullah saw bersabda “Barang siapa berpuasa di bulan ramadhan atas dasar iman dan mengharapkan pahala, maka akan terampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Pada hadis lain Rasulullah saw bersabda “tidak ada yang lebih mulia di sisi Allah selain do’a (HR Ahmad dan Turmudzi).

Manusia yang berpuasa tidak menginginkan do’a-do’a terhadap segala dosa yang dilakukannya akan sia-sia. Dosa besar dan kecil, disadari atau tidak disadari, tampak atau tidak tampak yang dilakukan di luar bulan ramadhan maupun di dalam bulan ramadhan selalu diminta diampuni dengan cucuran air mata. Doa-doa dipinta pada waktu-waktu bulan ramadhan yang diijabah seperti waktu shahur, malam-malam pada bulan ramadhan, waktu berbuka, ketika dipanggil untuk sholat, antara adzan dan iqamat, ketika sujud di waktu sholat, pada hari jum’at dan waktu-waktu yang lainnya. Di waktu-waktu itu dia menghiba, bersimpuh dan berharap agar lantunan dan rangkaian kata-kata do’a dapat diijabah dan diterima oleh Allah SWT.

Kendati demikian, Allah SWT tidak akan menerima do’a dan pengampunan dosa-dosa bila tidak memenuhi syarat yang ditentukan yaitu bertaubat secara menyeluruh sebagaimana firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha yaitu taubat yang sebenar-benarnya (Al-Tahrim,8). Meskipun manusia diberi kesempatan untuk tetap bertemu beberapa tahun dengan bulan Ramadhan, selama taubat hanya terucap oleh lisan tidak disertai ungkapan hati, hanya didengar oleh orang lain, taubat dengan sumpah palsu, taubat dengan berbohong dan manipulasi dan dilakukan berulang-ulang maka jangan berharap taubat akan diampuni. Rasulullah saw bersabda “Merugilah orang yang mengalami Ramadhan tetapi dosanya tidak diampuni (HR. Ahmad dan Turmudzi). Taubat yang terucap adalah taubat semu hanya untuk memenuhi kepentingan dunia, dengan mengabaikan kepentingan akhirat. Taubat yang dilakukan bukan taubat yang benar tetapi taubat sandiwaram dan sungguh ia telah menipu dirinya sendiri dan orang lain, tetapi bagi Allah tidak mempan bahkan mendapat ancaman yang pedih.

Momen ramadhan merupakan kesempatan terbaik untuk bagi kaum beriman dan yang berpuasa untuk diijabahnya do’a-do’a dan menggugurkan segala dosa. Doa dan taubat dilakukan secara sungguh-sungguh dan tidak akan mengulangi perbuatan dosa. Allah sangat bergembira menerima doa dan taubat dari hamba-hamba-Nya terhadap segala dosa yang pernah dilakukannya bahkan yang akan datang. Sekarang kita masih berada pada pelaksanaan puasa yang hari-harinya penuh dengan pengampunan terhadap segala dosa. Harapan dan doa semoga dosa-dosa kita gugurnya tidak seperti lembaran daun yang jatuh per helai, namun semuanya berguguran dan akan hilang berterbangan di bawa angin dan terbenam dan hancur dibawah gundukan tanah. Kita hindari dosa-dosa pada saat ini dan masa lampau, berikrar untuk tidak mengulanginya kembali pada masa-masa mendatang.

“Ya Allah terima segala harapan dan pinta kami, jangan engkau biarkan tangan ini lelah mengangkat, mulut ini capek berucap, bibir ini kering meminta, tubuh ini lelah menghiba. Jauhkanlah kami dari sikap durhaka terhadapMu. Beri kekuatan kepada kami untuk melalukan taubatan nasuha di bulan yang penuh kemuliaan dan pengampunan ini. Jadikan taubat kami sebagai pertanda kami untuk mengakhiri segala kehidupan yang penuh dengan sandiwara”. Bersihkan hati, jiwa kami yang penuh dengan noda hitam dan kotor di bulan suci ini ya Allah”…
.