Miq Iqbal dan Mori Hanafi berharap Evakuasi Wisatawan Brasil di Gunung Rinjani sukses

Berita, Daerah1252 Dilihat

harianamanat

Mataram,– Gubernur Iqbal menginstruksikan percepatan evakuasi seorang wisatawan asal Brasil, Juliana (27), yang jatuh ke dalam jurang saat mendaki Gunung Rinjani, Lombok Timur, pada Sabtu 21 Juni 2025.

“Pesan saya, bagaimanapun caranya, korban harus segera diselamatkan. Karena waktu seseorang untuk bisa bertahan hidup dalam kondisi darurat hanya sekitar 72 jam, apalagi tanpa bekal. Jadi harus segera dievakuasi,” ujar Miq Iqbal.

Meskipun medan dan cuaca ekstrem menjadi kendala utama bagi tim penyelamat di lapangan, dengan dugaan korban jatuh ke jurang sedalam 400 hingga 500 meter, Gubernur Iqbal menegaskan pentingnya upaya maksimal. Untuk itu, ia menyatakan akan menjalin komunikasi dengan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) yang memiliki helikopter khusus untuk operasi di medan ekstrem.

“Lakukan kemampuan terbaik kita, termasuk kemungkinan rescue melalui airlifting menggunakan helikopter dengan pilot spesifikasi airlifter. Supaya tidak kehilangan golden time penyelamatan,” tambahnya.

Gubernur Iqbal juga menyoroti pentingnya insiden ini tidak hanya sebagai upaya penyelamatan korban, tetapi juga sebagai cerminan reputasi NTB sebagai tuan rumah yang mampu memberikan perlindungan terbaik kepada para tamu asing.

“Ini selain kepentingan menyelamatkan korban juga soal reputasi kita sebagai tuan rumah bahwa kita mampu memberikan perlindungan terbaik kepada tamu-tamu asing yang mengunjungi NTB,” jelasnya.

“Bagaimanapun caranya, mohon korban segera dievakuasi dan diselamatkan.
Kejadian ini menjadi perhatian nasional di Brazil,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua KONI NTB H.Mori Hanafi.

“Semoga bisa segera di evakuasi.
Kendala kita adalah Perlengkapan alat Basarnas yang masih kurang.
Semoga Juliana kuat dan bisa bertahan.”ujarnya Sekretariat KONI NTB.

Mori juga meminta bantuan Basarnas RI, melalui komunikasi langsung via hp.
Meminta bantuan pesawat helikopter dan peralatan lain seperti tali dan kelengkapan evakuasi lainnya.

“Basarnas NTB dapat satu helikopter, biaya operasionalnya yang mahal sehingga Helikopternya di kirim ke daerah terdekat yakni Bali,” ujar mori mengulang dan menirukan suara Kepala Basarnas RI yang berada diseberang telepon.

Inilah Runtunan upaya penyelamatan (info dr Saudara Budi TNGR)

  1. Pukul 06.00 Wita, tim gabungan mulai melakukan pelacakan lokasi korban menggunakan drone mengingat kondisi cuaca yang setiap saat selalu berubah-ubah, untuk cuaca pagi ini terpantau cerah.
  2. Sekitar pukul 06.30 Wita, korban ditemukan terpantau melalui drone dalam posisi tersangkut di tebing batu dan secara visual dalam keadaan tidak bergerak.
  3. Upaya Tim Gabungan saat ini melakukan droping tali dan perlatan lainnya menuju cemara nunggal. Korban terpantau berada pada kedalaman 500 meter.
  4. Pukul 10.06 Wita, tim rescuer 1 turun dari punggungan dengan 8 orang personil terdiri dari 3 orang anggota Basarnas, 4 orang anggota SAR Unit Lotim dan 1 orang anggota Brimob.
  5. Menurunkan kembali 2 orang untuk memeriksa lokasi pemasangan anchor ke 2 pada kedalaman 350 meter, namun setelah dilakukan pengamatan ternyata dilokasi tebing 1 tidak bisa membuat achor karena ada 2 overhang sebelum bisa menjangkau korban. Tim rescue harus melakukan climbing untuk bisa menjangkau lokasi korban.
  6. Karena cuaca yang berubah sangat cepat, berkabut tebal dan pandangan terbatas, demi keselamatan tim gabungan menarik tim rescue yang di bawah kembali naik keposisi awal.
  7. Pukul 14.30 Wita, melakukan rapat evaluasi oleh Gubernur NTB, Wakil Gubernur NTB, Asisten II dan Kepala BPBD Prop NTB melalui zoom meeting, dari rapat tersebut Bapak Gubernur mendorong untuk proses evakuasi dilakukan secepatnya dengan mempergunakan helicopter mengingat “Golden Time” seseorang untuk bertahan di alam terbuka 72 jam.
  8. Kepala Kantor Basarnas Mataram secara teknis menjelaskan proses evakuasi mempergunakan helicopter dimungkinkan namun harus dipastikan spesifikasi helicopter paling tidak memiliki Hois untuk air lifting dan cuaca yang sangat cepat berubah juga mempengaruhi bisa tidaknya proses evakuasi mempergunakan helicopter

Sampai berita ini naik online Tim SAR gabungan terus berupaya keras untuk mengevakuasi Juliana secepat mungkin. (Dis)