Kepala BNPT RI Ajak Mahasiswa Tingkatkan Ketahanan Terhadap Ideologi Radikal

harian amanat.com

Banda Aceh – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) bersama Forkopminda Aceh, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh, serta Civitas Academica Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh menggelar Dialog Kebangsaan di AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala, Aceh pada Rabu (14/12).

Kepala BNPT RI Komjen. Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H. mengajak mahasiswa untuk memahami dan menghayati sejarah perjuangan para pahlawan akan memperkuat jati diri kita sebagai sebuah bangsa.

“Menghayati sejarah bukan hanya memahami penjelasan masa lalu yang pernah terjadi dan dan fakta yang pernah ada, tetapi lebih jauh dari itu. Sejarah merupakan spirit penentu masa depan yang lebih baik dan gemilang,” jelas Boy Rafli Amar.

Lebih lanjut dia menegaskan masyarakat harus mewaspadai virus intoleransi, radikalisme dan terorisme yang berbasis pada sebuah ideologi kekerasan. Dalam mewujudkan tujuannya, ideologi ini menggunakan narasi agama yang ekstrem dalam merekrut masyarakat dengan tujuan menghancurkan ideologi Pancasila dari dalam.

“Mereka memiliki tindakan yang sangat tidak Islami menggunakan narasi-narasi agama, inilah salah satu dari karakter mereka dengan menyalahgunakan narasi agama dan bersifat intoleran, radikal eksklusif, anti kepada kemanusiaan, menggunakan kekerasan ekstrim,” tutur Jenderal bintang 3 tersebut.

Boy Rafli melanjutkan bahwa pada era sekarang, suara jihad yang disampaikan oleh oknum-oknum tersebut telah mempengaruhi generasi muda untuk membenci dan memusuhi bangsanya sendiri. Sangat berbeda dengan Jihad Fissabilillah yang dikumandangkan oleh para pahlawan, khususnya para pejuang dari Aceh.

“Berkembangnya ideologi terorisme dan radikalisme pada saat ini pun telah bertransformasi melalui media digital. Caranya, dengan menggunakan sosial media. 204 juta hari ini pengguna internet, sekitar 179 juta menggunakan sosial media dan 60% diantaranya adalah generasi muda. Inilah yang mereka manfaatkan untuk menjaring dan bahkan hari ini pergerakan mereka dapat dilakukan secara mandiri,” Boy Rafli menerangkan.

Dalam rangka mitigasi, ketahanan seluruh elemen bangsa dalam menangkal paham intoleransi, radikalisme dan terorisme harus ditingkatkan khususnya kepada generasi muda.

“Menurut harap kami, dengan kegiatan ini akan membuat ruang sempit ideologi terorisme masuk ke dalam sistem kehidupan masyarakat. Apabila karakter ini dapat dikembangkan dengan baik tentu estefat kepemimpinan dapat menjamin keberlangsungan dari kehidupan bangsa ini,” tambah Kepala BNPT RI.

Dilain pihak, Rektor Universitas Syiah Kuala, Aceh, Prof. Dr. Ir. Marwan menuturkan bahwa kolaborasi ini memberikan dampak positif dan juga edukasi kepada seluruh civitas akademica yang hadir dalam mencegah penyebaran paham intoleransi, radikalisme dan terorisme.

“Kita tentu semuanya sepakat bahwa terorisme adalah musuh kita bersama, karena bangsa ini akan sulit untuk tumbuh dan melanjutkan pembangunannya jika radikalisme dan ancaman terorisme terus menggerogoti keutuhan bangsa kita,” jelas Marwan.

Dirinya menambahkan bahwa pencegahan ini jelas menjadi tanggung jawab bersama, khususnya di lingkungan perkuliahan yang ada di Aceh.(HMS)