Minyak Goreng Mahal Pedagang Meregang

HARIAN AMANAT, MATARAM.

Ketersediaan stok barang kebutuhan pokok murah, seperti Minyak Goreng mulai dirasakan kesulitannya oleh masyarakat Kota dan Kabupaten Bima.

Dari hasil pantauan Harianamanat.com hari ini senin 14 maret 2022, dipasar Raya Bima harga minyak goreng merek Bimoli ukuran 1 liter, semula berkisar Rp.11 ribu saat ini berkisar Rp.18 ribu hingga Rp.21 ribu/liter untuk minyak goreng Kemasan.
Stok minyak goreng kemasan merek Bimoli tidak ada dipasaran sejak sebulan yang lalu, yang ada hanya merek lain.

Pihak TNI, Polresta Bima Kota, Polres Bima, dan Dinas Koperindag sudah mengantisipasi dengan melakukan operasi pasar sejak Rabu 9 Maret 2022.

Tidak ada timbunan minyak goreng yang dilakukan distributor maupun pengecer.

Menurut Koko Gun pemilik Toko Bintang Rejeki kelangkaan minyak goreng sudah terjadi hampir sebulan lamanya, pihaknya hanya menghabiskan stok yang ada dan itu sudah hampir dua minggu terakhir pihaknya sudah tidak memiliki minyak goreng Kemasan khusus bermerek Bimoly, sedangkan merek lain ada.

” Stok minyak goreng kemasan merek Bimoli habis, yang ada merek lainnya, hanya saja barangnya sudah mulai langka, terbukti sampai hari ini belum ada barang yang masuk, biasanya barang kami beli sendiri dari pabrik datang tiap Minggu, tapi sampai hari ini belum datang, hanya minyak goreng curah saja yang ada,” ujarnya.

Hal senadapun diungkapkan pemilik Toko Sumber Mas.
menurut Distributor ini bahwa minyak goreng kemasan sudah langka sejak sebulan yang lalu, barang biasanya datang setiap minggu, namun saat ini kosong terutama merek Bimoly, merek lain barang ads tapi sedikit, hanya minyak curah yang ada,” ujarnya.

Pemprov NTB terus mengawasi distribusi minyak goreng dan melakukan operasi pasar.

“Pola dan rantai distribusinya harus dipikirkan jalan keluarnya. Jadi hal seperti ini jangan dibiarkan terlampau lama, harus ada solusi untuk mengurai permasalahan tersebut,” tandas ummi Rohmi meminta Kadis Perdagangan agar terus memantau perkembangan keberadaan minyak goreng di NTB.

Ummi Rohmi berharap agar pintu masuknya minyak goreng dari pabrik ke distributor-distributor di NTB harus jelas. Baik itu jumlah distributor, cara droping ke retail maupun pasar hingga ke konsumen atau masyarakat.

“Jadi harus kita tau masuknya ke NTB, normalnya perbulan itu berapa, sehingga ketahuan prosentase terpenuhinya kebutuhan minyak goreng,” terang Ummi Rohmi Selasa lalu.

Menurutnya, pemerintah sedang menyiapkan sejumlah langkah. Salah satunya terkait upaya penambahan alokasi dan kuota minyak goreng.

Setiap bulan dibutuhkan 1,7 juta hingga 2 juta liter untuk kebutuhan konsumsi masyarakat.

“Jangan sampai UMKM kita yang mengandalkan minyak goreng sebagai bahan baku pokok, berhenti berproduksi,” ungkapnya.

Menurut data, kebutuhan minyak goreng untuk NTB 1,7 juta liter sampai 2,2 juta liter perbulan. Antara 50 ribu-60 liter perhari.

Dan saat ini para distributor hanya mampu sediakan kurang lebih 1.500 liter perhari.
Dan pasokan minyak goreng dari produsen ke distributor belum secara kontinyu tersedia.dalam sehari, datang 2-3 kontainer. Dalam sehari atau duahari langsung di droping ke retail dan pasar, sehingga hari berikutnya sudah tidak ada.

Terlihat dipasar Bima, Satgas dari TNI Polri, Pemkot, Pemkab Bima dan para distributor untuk mencari solusi dan menyelesaikan permasalahan minyak goreng.

Pemkab Bima melalui Dinas Koperindag melakukan operasi pasar diseluruh Kecamatan
kadis Perindag Kab Bima, Amrin,SE mengatakan bahwa Pihaknya menggandeng TNI -Polri dalam melakukan operasi di tiap kecamatan.

“ in syaa Allah, stok Minyak Goreng untuk Kabupaten Bima Masin aman, hanya harganya saja yang naik, dan kita sudah sepakat bahwa harga HET untuk minyak goreng kemasan sebesar Rp14.000,-/liter, sedangkan minyak goreng curah Rp.12 ribu /liter,” ujarnya saat ditemui Harianamanat.com di kantor Bupati Bima.

Ia mengakui bahwa harga HET minyak goreng itu hanya berlaku pada Distributor dan Grosir.
Sementara harga di Pasar Raya dan Pasar Rakyat itu bukan menjadi kewenangannya.

Seperti hari ini, dari pantauan Harianamanat.com, harga minyak goreng saat ini dipasar tembus hingga angka Rp18.000,- sampai Rp25.000,-/liter”.

Salah seorang Pemilik Kios di Kelurahan Nae mengaku tidak menjual minyak goreng kemasan sejak minyak goreng kurang dan mahal dipasaran. Ia mengaku kesulitan untuk menjual jika membeli dengan HET Rp.14 ribu/liter.

” selama ini kita membeli dengan harga murah dan untung Rp.500 / per liter, sekarang saya tidak berani membeli, khawatir tidak ada yang mau beli, daripada rugi mending saya tidak menjualnya,” ujarnya.

Pedagang gorengan di kelurahan Sadis, depan Puskesmas Mpunda mengaku bahwa untuk menyiasati kelangkaan minyak goreng pihaknya menaikan harga sebelumnya Rp.1500 untuk 1 potong, saat ini 4 potong Rp.5000.

Hal senadapun dikeluhkan oleh Pembuat Cake Rumahan di Pena Nae.
Biasanya mereka mampu menjual 30 Cake Bolu setiap hari namun saat ini hanya laku 10 saja setiap hari.

Ira pemilik cake rumahan Pane, mengaku sejak minyak goreng langka, dirinya sulit menyiasati harga bagi kue produksinya. (Admin)