Bulir-Bulir Penyesalan (3)

Awalnya mengemis itu hanya untuk memenuhi kebutuhan dapurnya, karena ditinggal suami dan tidak punya pekerjaan.

Meminta untuk jadi tukang cuci tetanggapun sudah tidak mampu, akibat penyakit sakit pinggang yang luar biasa.

Akhirnya Zaenab (70) asal kelurahan Jatibaru Kota Bima itu nekad jalan kaki menuju pasar Bima.

Sepertinya menempuh jalan sepanjang 3 KM dengan berjalan kaki sudah menjadi rutinitas sehari-hari, dengan mengenakan rimpu dan membagi tumpuan badan yang tambun pada sebatang besi yang dijadikan tongkat berjalan tertatih-tatih.
dengan langkah kaki cenderung diseret di tengah terik matahari, Tidak seorangpun yang peduli pada orang tua malang itu. jangankan untuk memberi tumpangan menegurnya pun saja tidak, bahkan setiap orang yang berpapasan dengannya cenderung berusaha memalingkan muka.
Begitulah rutinitas usai mengemis dipasar Bima.Pergi dan Pulang berjalan kaki.
Baginya hasil mengemis cukup untuk membeli beras, lauk pauk dan sabun. Sehingga sayang jika harus membayar ojek.

sudah tiga tahun harus bolak-balik dari kampung ke pasar yang berjarak 3 KM dengan berjalan kaki.

setiap hari di pasar itu Zaenab menjalankan profesinya sebagai pengemis tidak ada lagi sumber mata pencaharian untuk mempertahankan hidupnya kecuali dari mengemis.
namanya orang sudah tua kata dia terpaksa mengemis sebelum matanya menjadi rabun akibat katarak yang diderita sudah demikian parah.

Zaenab berkisah saat suaminya masih ada dan anak-anaknya masih kecil.
Mereka punya kios kelontong. Rame pembelanja. Karena hanya dirinya yang punya kios disekitar lingkungannya.
Tapi sejak anak perempuannya menikah, ia dan suami hibahkan kios kepada putri semata wayangnya itu dengan harapan tetap bisa tinggal bersama.

Tapi seiring waktu, ia dan suami terpaksa pindah dari rumahnya, tinggal dirumah saudaranya yang juga tua dan tidak bersuami.

Sejak suaminya wafat, dia memutuskan untuk menjadi pengemis.
seharusnya Zaenab lebih bisa banyak beristirahat dan mendapatkan kasih sayang dari keluarganya, namun semua kebahagiaan itu tidak dirasakan.

Zaenab merasa hidup sebatang kara dengan saudaranya yang juga miskin. dia hanya menggantungkan nasibnya dari belas kasihan orang lain.

Jika musim hujan tiba, atap rumahnya yang bocor, mereka terpaksa tidur di emperan rumahnya.

Suatu hari saat dia pergi mengemis kepasar Bima.
Dia mendapat banyak rejeki. Dia beli beras, minyak juga lauk pauk dan dua helai pakaian untuk dirinya dan saudaranya.

Namun saat ditengah jalan, tepatnya depan asrama kompi, suara sepeda motor yang kenceng dan memekakan telinganya membuat jatuh pingsan.

Akhirnya Para Karyawan Rumah Jompo yang melihat situasi itu mengangkat Zaenab.

Wanita tua ini menangis, saat Kepala Panti Jompo Wredatama Bima memintanya untuk tinggal diasrama.

” Jika saya sendiri disini, bagaimana dengan saudara saya, dia tidak bisa melihat,” tangisnya tumpah.

Akhirnya petugas Wredatama menjemput Sanaya (65)

Suatu hari, Putri semata wayang Zaenab datang, curhat dan menangis, jika dirinya dan suaminya sudah cerai.
Rumah warisan Zaenab sudah dijual akibat suaminya pemakai Narkoba.
Sedangkan anak perempuannya terpaksa dikeluarkan dari kampus, untuk jadi TKW di Hongkong.

Namu sayang seribu kali sayang.
Saat anaknya meraung-raung minta maaf, Zaenab sudah tidak mengenali Putrinya itu.

” kami minta dia pergi, karena ibu Zaenab tidak mengenalinya lagi, memang dia paksa minta maaf, tapi ibu Zaenab teriak ketakutan, akhirnya kami minta anaknya pergi, konon sekarang dia sudah diluar daerah,” ujar petugas Wredatama.

Menurut mereka, Jompo kedua Kakak adik ini sangat bersih.
Saban hari hanya sholat dan berdzikir.
Tidak ada kerjaanya, duduk berdua diemperan, kemudian masuk kamar jika sudah dengar adzan, sholat dan dzikir sampai jelang waktu sholat selanjutnya.

Beda dengan lansia lain.
Mungkin karena ibadahnya kuat, sehingga sangat bersih.

Kami petugas ini banyak belajar dari mereka.
Karena setiap mendapat bantuan, kakak beradik ini bertanya nama pemberi bantuan.
” Mereka berdoa semoga sehat, ada juga yang sakit parah, mereka bersedekah kesini, sebelum dibawa ke Bali, kami ajak kakak beradik ini mendoakan. Dan Alhamdulillah, katanya Bapak pejabat itu sudah sembuh, dan setiap bulan bagi sedekah kesini.”

Zaenab dan Sunaya jompo Sebatang kara, mantan pengemis itu dalam asuhan Panti Wredatama.
Dia sehat dan taat beribadah.
Dari mulutnya lafaz kalimat dzikir dan sebait kalimat, ” dalam senang dan susah, jangan abaikan orang tuamu.”(Ranti)

foto : geogle