Aji Kasnun : Banjir Itu Akibat Fungsi Hutan Menjadi Tegalan

Harian amanat,Kota Bima.

Banjir yang melanda Kota Bima disetiap musim penghujan mendapat simpati dari Pengusaha Bima Asal Wawo HM.Kasnun H. Ahmad.

menurutnya langkah-langkah taktis yang dilakukan Walikota Bima sudah cukup apresiatif.

Begitulah kondisi daerah kita sesungguhnya, saat ini Kota Bima yang wilayahnya ada dalam bahagian daratan cekung yang dikelilingi pegunungan. Sehingga Akibatnya jika Gunung disekeliling gundul maka setiap musim hujan aliran air dari gunung yang membawa humusan akar kayu sisa penebangan, kerikil, tanah yang sudah tidak bisa menahan air hujan, Berakibat Banjir Bandang.

Ia menguraikan bahwa permasalahan ini sangat komplek diakibatkan program Jalan Usaha Tani yang masif, sehingga seluruh pegunungan di Kota Bima menjadi Program Jalan Usaha Tani.
Dan dampaknya seluruh Hutan di Gunung berubah menjadi Tegalan yang bisa dirambah dan itu belum termasuk program HKM.

” Bisa dibayangkan hutan yang ada digunung itu oleh Pemkot dikatakan Tegalan, sehingga muncul proyek Jalan Usaha Tani, karena yang bisa menyatakan bahwa itu Tegalan atau Hutan hanya kewenangan Pemerintah, dan Pemerintah Pusat akan memberikan ijin sesuai dengan apa yang diajukan oleh Pemerintah Daerah, jadi banjir itu bukan karena rakyat saja, tetapi itu bahagian dari Program Jalan Usaha Tani Pemerintah Kota Bima,” ujarnya.

Program Jalan Usaha Tani itu artinya Pemkot Bima memberi Akses Kepada Masyarakat Untuk Merambah Hutan menjadi Tegalan.

“Jadi Banjir itu bahagian dari Proyek Jalan Usaha Tani, semoga kedepan sudah tidak ada lagi proyek-proyek seperti itu, begitu juga Pemberian ijinHKM diberhentikan, sehingga pemerintah daerah bisa memiliki kewenangan dalam pengawasan hutan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa disamping perubahan program Hutan menjadi Tegalan karena ada pembukaan Jalan Usaha Tani dari Pemkot Bima, juga karena Pertambahan penduduk terus meningkat, sedangkan lahan pertanian hanya segitu saja konstan.

” Yang menjadi masalah saat ini adalah jika lahan ditutup, nah bagi Walikota saat ini terpaksa makan bubur terus, dan minta kesadaran masyarakat pengelola tegalan untuk membuat terasering dan menanam pohon keras.”

Disamping itu Lanjutnya, Walikota HML bisa meminta para pemilik lahan tegalan tersebut untuk membuat lobang air di tengah tegalan misalnya 50 CM Lebar x 150 Cm dalam.
Jadi untuk luas lahan 1ha bisa membuat 40 lubang.

Ia juga mengajak Walikota HML untuk membuat bendungan besar penahan air sekaligus untuk bahan baku air PDAM.
lokasi yang strategis yakni diujung lampe untuk menahan air dari Kecamatan Wawo, diujung dodu juga Nungga.

” pokonya cari dimana sumber datang banjir disitu untuk pembuatan bendungan, apalagi sekarang Pemkot tengah membangun satu bendungan besar di lampe itu lebih cepat lebih bagus,” ujarnya.

Menurutnya yang terpenting saat ini masyarakat Kota Bima sabar, yakinlah bahwa Walikota HML punya niat baik untuk memperbaiki kondisi hutan dan gunung yang sudah gundul tanpa mematikan usaha para petani.

“Dia datang ke kota Bima ini karena peduli, tetapi kenyataannya pemilik tegalan di wilayah kota Bima itu orang-orang penting, yang punya kedudukan, yang punya uang, hanya sedikit Rakyat petani asli, jadi bisa dibayangkan bagaimana mengurainya,” ujarnya.(admin)

Foto : Kelurahan Kendo