Edy Muhlis ; Maaf Statemen Saya diplintir

Harian amanat com,Bima- Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Bima, Edy Muhlis,S.Sos mengklarifikasi terkait pernyataannya yang dimuat beberapa media on line Jumat kemarin.

Ia membantah bahwa, apa yang dimuat dari hasil Jumpa Pers dirinya dengan beberapa media on line itu tidak bermakna gaduh seperti yang ditulis media tersebut.

” Betul saya menyebut nama umi Dinda, tetapi itu saya mengutip ucapan mantan kadis perhubungan yang mengatakan bahwa memberikan kepada si A, si B dan sebagainya, tidak ada pernyataan saya, bahwa itu bagian dari konspirasi, apalagi ada kata tipu, saya menyesali statemen saya diplintir media, wajar jika umi Dinda marah kepada saya, mohon pernyataan saya ini segera dimuat, agar saya bisa minta maaf kepada beliau umi Dinda,” ujar Edy Muhlis kepada harian amanat.com Sabtu pagi 25 September 2021.

Dirinya menyesalkan akibat media salah menginterpretasikan pernyataannya berakibat pada sanksi untuk dirinya.

” Akibat pernyataan itu, saya di cap tukang gaduh, media yang memuat berita itu tidak profesional, dan dia harus meminta maaf atas tulisannya tersebut,” papar Edy Muhlis kepada harian amanat.com.

Edy mengisahkan bahwa dirinya hanya ingin menjembatani dan mengklarifikasi soal uang fee proyek yang dijanjikan mantan Kadis Perhubungan Kabupaten Bima, Syafrudin kepada saudara Aswad.
Untuk proyek pembuatan kapal dengan nilai Rp.4 miliar.
Untuk memuluskan tender proyek tersebut, Syafrudin meminta uang sebesar Rp.275 juta dengan iming-iming menang Tender.
Karena gagal tender, Aswad mengadukan kepada kakaknya Adlan yang juga anggota DPRD Kabupaten Bima.

” Sebagai teman, saya membantu untuk bertanya kepada Syafrudin, agar uang tersebut dikembalikan, saat itu saya ditemani pak Sulaiman,MT. Kami kerumah Syafrudin, karena untuk manggilnya sebagai kepala dinas, sudah tidak bisa, karena dia sudah pensiun.”

Apakah benar, dirinya tidak mengeluarkan statemen mengandung unsur fitnahan atas soal fee proyek tersebut, mengingat dirinya sering mengeluarkan opini tudingan kepada Bupati melalui medsos?!

Ia menjawab, ” saya tidak pernah menuding beliau, soal PD.Wawo itu saya sebut adik kandung Bupati, bukan Bupati, tetapi sebenarnya hubungan kami sudah baik, itu masa lalu, saya dan umi sudah baik, sudah cair, coba tanyakan kepada Dae Yandi, kami sudah baik, saya tidak lagi ikut dalam rapat yang berhubungan dengan Umi,”ujarnya.

Ia mengakui bahwa selama ini pernyataannya melalui media massa pernyataan sepihak, tetapi hal itu sudah berlalu.

Ia juga berharap dengan pernyataannya ini meminta seluruh pihak tidak mendramatisasi dan mempolitisasi lagi, sehingga dirinya dituduh sebagai biang kegaduhan.
Sebab, kata dia, pernyataan yang sebenarnya tidak seperti yang diberitakan.
Ia berencana akan memanggil media yang telah memelintir pernyataannya tersebut.

“Saya berharap dengan klarifikasi ini, saya tidak lagi disebut sebagai biang gaduh, saya akan memanggil media yang memelintir berita tersebut,”ujarnya.

Edy menjelaskan bahwa dirinya tidak ingin terlibat dalam urusan antara Syafrudin dengan Aswad.

“Mada ini hanya ingin menjembatani saja, agar Syafrudin mengembalikan uang Aswad, itu saja. Jadi Mada kaget, pernyataan Mada di plintir, pantas Umi Dinda marah, tidak mau senyum sama Mada saat paripurna semalam, mohon dimuat beritanya, Mada minta maaf dan akan menelepon umi,”ujarnya kepada harian amanat.com.(admin)