Ayo Ke Bima Teka Doro Tambora


Bima, Harianamanat.com,-Wilayah sekitar Tambora menyimpan pesona yang luar biasa, dengan berbagai kekayaan, keunikan dan khasnya yang tidak dimiliki di tempat lain.
bagi anda yang memiliki hobi tracking, mendaki gunung tambora bukan sekadar perjalanan pendakian biasa, tetapi perjalanan menelusuri titian sejarah lokasi letusan maha dahsyat, dan kita akan mendapati sejarah tiga kerajaan yang luluh lantak akibat letusan tersebut, yaitu kerajaan tambora, kerajaan pekat, dan kerajaan sanggar.

Letusan tambora terjadi, tercatat dalam sejarah dunia kehebatan nya menembus batas akal pikiran manusia, tercatat sekitar 6 juta kali kekuatan bom atom dan menewaskan 92.000 jiwa.

letusan maha dahsyat itu akhirnya membentuk kawah dengan lebar 9 km, dan kedalaman 1.110 meter,menyebarkan sekitar 50 km debu hingga mencapai kejauhan 13000 km.

Akibat letusan tersebut, jawa tengah dan kalimantan terselimuti debu hitam, meski jarak 900 km dari tempat letusan.
Dan kala itu berjatuhan debu setebal 1 cm, bongkahan letusan melayang hingga mencapai ketinggian 44 km.

Iklim dunia saat itu berubah drastis, terjadi tahun tanpa musim panas. Suhu minimum setiap hari secara tidak wajar menjadi rendah, di belahan bumi sebelah utara dari akhir musim semi hingga musim gugur, kelaparan meluas karena kegagalan panen.

Itulah sekelumit cerita dahsyat letusan gunung tambora yang melegenda.
Kawasan situs tambora yang terdapat di dusun tambora desa oi bura terdiri dari bangunan kuno peninggalan swedia, bangunan kantor, pabrik kopi, gedung bola, dan perumahan, serta situs arkeologi bangunan kolonial, yang dibangun tahun 1930 oleh pengelola kopi, berkebangsaan swedia.

menurut catatan jo lingger, tambora tahun 1897 sudah ditanami kopi pada 1902.

Pemerintah kolonial belanda mengelola perkebunan kopi tersebut.
Kedahsatan dan keunikan gunung tambora menjadi lebih fenomenal, ketika tahun 2015 Presiden Joko Widodo menetapkan gunung tambora menjadi Taman Nasional.

Walaupun kejadian meletusnya Gunung Tamboraapril1815. Namun hingga saat ini, erupsi Gunung Tambora dianggap sebagai salah satu letusan gunung berapi terdahsyat dalam sejarah tertulis dunia.

Bagaimana tidak, gunung berapi yang bahagian sebelah selatan, utara dan timurnya itu di wilayah Kabupaten Bima NTB ini,saat erupsi memuntahkan abu sebesar 150 km kubik, Aerosol yang dikeluarkan pun mencapai 60 mega ton.

Letusan juga menimbulkan kaldera dengan diameter 7 km dan sedalam 1,1 km, menjadikannya sebagai kaldera terdalam di dunia.

Tak heran, jika letusan Tambora tercatat sebagai letusan terdahsyat yang terekam di zaman modern karena mencapai skala 7 berdasarkan vulkanologi. Dan konon letusan Tambora tak terjadi secara tiba-tiba melainkan bertahap.

Dampak letusan Gunung Tambora memporak porandakan peradaban yang ada di sekitar Tambora.
Sebaran awan panas yang tebal menghabiskan dan mengubur hampir wilayah yang ada di sekeliling gunung, tak terkecuali kerajaan-kerajaan tersebut.
Dan konon, awan panas itu mencapai 800 derajat CelSius, sehingga apapun yang dilewatinya langsung menjadi arang, termasuk penduduk yang tak sempat menyelamatkan diri serta rumah-rumah penduduk yang kala itu masih menggunakan kayu.
Beberapa ahli sejarah mencatat bahwa letusan mengarah ke barat, selatan, dan utara yang merupakan wilayah dari kerajaan Tambora dan Pekat.


Abu letusan Tambora menyebar ke seluruh dunia selama 3 bulan, bahkan didorong angin menyebabkan abu sampai ke wilayah Kutub Utara.
Sedangkan kerajaan Sanggar cukup beruntung karena awan panas tak langsung mengarah ke Timur sehingga Raja Sanggar bisa menyelamatkan diri.namun karena situasi akibat letusan tersebut, kondisi kerajaan sanggar memprihatinkan dan miskin.


Dan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( LHK).SK.111/Men LHK-II/2015, dengan luas lahan 71.610,74 hektar Kawasan Tambora menjadi Taman Nasional. Dan UNESCO berdasarkan surta men LHK tertanggal 20 November 2017, Taman Nasional Tambora Menjadi Geo Park Tambora.


Ayo Ke Tambora, karena tempat ini cocok sebagai wisata alam dan objek wisata minat khusus, menjadi pusat penelitian ilmiah seperti penelitian arkeologi,ekologi, geologi maupun sosial budaya. ( Sri dan dok Dikpar Kab Bima )