Seuntai Syair Untuk Para Nakes oleh Safwan Hadi

Bima,Harian amanat.com. Tulisan ini adalah goresan tangan dari sahabat dr.Hj.Reny Bunyamin. Sebuah ungkapan rasa untuk sahabat-kerabatnya para Tenaga Kesehatan.

NAKES
Jam menunjukan pukul 00.30.
Dini hari telah menjelang.
Sepi, dan hening
beberapa orang nakes tertidur di sela-sela meja di tempat kerja.
Kelelahan didera jam kerja yang mulai tidak jelas.

Seorang dokter duduk sendiri mencoba memahami situasi yang dihadapinya.
Hembusan nafas panjang mengiringi bisikannya di dalam hati
Ah..sudah lima belas bulan aku dan teman-teman nakes di seluruh negeri
bekerja keras bersimbah peluh dalam balutan hazmat level tiga
meneyelamatkan pasien dengan resiko tertular penyakit dari pasien.
Kelelahan fisik dan mental sudah mendekati ambang batas.

Tingkat kematian menaik tajam dengan munculnya varian delta
Pasien terus berdatangan ke rumah sakit untuk dirawat
IGD, ICU dan ruang isolasi penuh.
Lorong-lorong rumah sakit penuh dengan pasien.
Pasien dengan kondisi fisik yang sudah lemah terpasa
harus antri berjam-jam di IGD untuk mendapatkan perawatan.
Pasokan oksigen dan obat-obatan menipis bahkan
di beberapa rumah sakit persediannya habis.
Para nakes kelelahan berkerja tanpa mengenal waktu.

Ah..sudah lebih dari seribu teman nakes telah gugur
dalam menjalankan tugas melayani dan
merawat pasien covid-19 di seluruh negeri.
Kapan semuanya ini akan berakhir? bisknya lirih di dalam hati
Apakah masyarakat belum juga sadar pentingnya
laksanakan protokol kesehatan?

Ya Allah, Ya Rabb,
Aku sudah sagat lelah menjalankan tugasku
sebagai seorang nakes di masa pandemi ini.
Suasana begitu tidak pasti.
Maut setiap saat siap menjemput.
Setiap hari ada yang meninggal termasuk teman nakesku.
Berilah aku kekuatan dan ketulusan hati
untuk menjalankan tugasku menolong pasien-pasienku.

Hening, malam bertambah pekat dan sepi.
Hanya kesunyian malam yang meliputi hatinya.
Di tengah keheningan yang dalam, terdengar
bisikan lembut di dalam hatinya.

Aku tahu kau letih, tapi ini jalannya menuju Tuhan.
Dalam keheninganlah kau kan mendengar Dia berbisik.
Kesunyian adalah bahasa-Nya.
Dengarkanlah bisikan-Nya di dalam hatimu.
Hati adalah rahasia dalam rahasia.
Jalanilah profesimu sebagai dokter dengan penuh cinta.
Ini jalanmu, hanya jalanmu saja
tidak ada yang dapat menjalaninya untukmu.
Pertaruhkan dirimu demi cinta, kalau mau jadi
manusia sejati penolong sesama.

Di tengah situasi yang tidak pasti,
bak malam penuh derita dan kegelapan,
jadilah seperti lilin, tebarkan cahaya dan kehangtanmu hingga fajar.
Sapalah semua pasienmu dengan kasih Tuhan
yang bersemi di hatimu agar kau lihat apa-apa yang suci,
dan selamatkan hatimu dari gelapnya kesombongan dan kebencian.

jangan kau pernah putus harapan,
Saat kau terima dengan rela kesulitan-kesulitan yang diberikan
kepadamu pintu Sang Kekasih kan terbuka lebar.
Keajaiban ada dalam yang kesulitan.
Setiap detik, dalam kesulitan, bakarlah dirimu
dalam kobaran api cinta-Nya.
Nyalakan pelita harapan di setiap hati pasienmu
dengan api cinta-Nya .

Tak perlu kau pergi kemana-mana tuk dapatkan
kebahagiaan dan kedamaian,
melanconglah ke dalam hati pasienmu
Mandilah dalam cerlang senyum indah pasienmu
saat mereka merasakan kehadiran dan kasihmu.
Saat kau rasakan kegembiraan penuh kedamaian
liputi hati pasienmu, saat itulah kau rasakan dekapan
hangat-Nya merangkul dirimu.

Disandera oleh pikiran-pikiranmu sendiri kau cemas akan semuanya.
Cemas apakah kau dan kawan-kawan dapat melewati pandemi ini.
Cemas maut menjemputmu.
Tapi sekali kau mabuk cinta tuk menolong sesama
apapun yang kan terjadi, terjadilah kau tak perduli.
Kau hidup lebih dalam di hatimu dan
mata air kasihmu jadi lebih jernih dan bersih
tuk hapuskan dahaga pasienmu.

Biarkan kesedihan liputi hatimu karena ketidakberdayaanmu. .
Kesedihan siapkanmu tuk sukacita nan menjelang
Sang Kekasih kan sapu bersih semua isi rumah
kesombonganmu agar kesadaran akan Kemaha Kekuasaan-Nya
menyentuh hatimu dan sukacita-Nya dapatkan ruang untuk masuk.

Kematian setiap saat datang membauimu, menunggu
saat yang telah ditetapkan tuk menjemput ruhmu.
Semua orang takut mati, tapi hati yang penuh cinta
pada sesama hanya tertawa menjemput maut.
Jazadnya lebur di dalam tanah namun ruhnya abadi
dalam pelukan Sang Kekasih.
Tiram sadar, apapun yang menimpa
cangkangnya tidak merusak mutiaranya.
Kilau mutiaranya tetap indah abadi menyinari setiap hati.

Sebelum kematian mengambil apa-apa yang diberikan kepadamu,
berikan apa saja yang dapat kau berikan.
Berikan semuanya, jangan ada yang tersisa karena semuanya titipan.
Hilangkan dirimu, hilangkan dirimu dalam cinta sesama
agar kau temukan Kasih Sayang-Nya.

Bila taqdir menentukan kau terpapar covid,
dan sebagai ahli kau sadar kecil kemungkinan untuk sembuh
sambutlah maut dengan senyum di hati,
ia akan membawamu menjumpai Kekasihmu.
Seperti yang telah dilakukan sejawatmu, berikan
ventilatormu kepada pasien yang besar
kemungkinan untuk sembuh.

Di akhir hayatmu, saat hanya satu nafas tertinggal,
mintalah sejawatmu duduk di sampingmu tuk melantunkan
kalam suci di telingamu.
Lantunan indah kalam suci kan mengiringi gerak bibirmu
mengesakan Tuhanmu, Kekasihmu.
Lenyap dalam Kasih Sayang-Nya
La illaha illallah…

Katakan kepada keluargamu, sejawatmu, para nakes
dan sahabat-sahabatmu,
saat lihat peti jenazahmu dibawa ambulan menuju
pemakaman tempat peristirahatanmu yang terakhir,
jangan tangisi kepergianmu.
Katakan kepada mereka tuk mengiringi kepergianmu dengan doa
Kau tidak mati, kau telah sampai di keabadian cinta.


Puisi untuk pahlawan kemanusiaan,
sahabatku para dokter, perawat, mahasiswa
profesi kedokteran dan keperawatan,
tenaga kesehatan, dan relawan.
Darma baktimu untuk kemanusiaan takkan terlupakan.
Semoga Allah memberikan kekuatan,
keikhlasan dan kesabaran dalam menjalankan tugas
kemanusiaan yang mulia ini, aamiin.

Bandung 15 Juli 2021
Safwan Hadi