Eid Mubarok

    IKRAR KEMERDEKAAN DIRI DI HARI KEMENANGAN
    Oleh. Dr. Muhammad Irwan H. Husain, MP.

    Mentari akhir ramadhan tengah menuju tempat terbenamnya di ufuk barat, akan pergi meninggalkan insan yang beriman yang setia bersamanya. Kepergiannya dilepas dengan berat hati penuh derai air mata, karena bulan yang membawa keberkahan dan karunia yang banyak tersebut akan pergi dalam waktu yang cukup lama, setidaknya 11 bulan dari sekarang. Namun demikian, meskipun tetesan air mata menyertai kepergian ramadhan, orang-orang yang beriman tidak larut dalam kesedihan, mereka diliputi oleh rasa bahagia dan suka cita karena di depan mata akan terbit cahaya mentari 1 syawal yang akan menyinari jiwanya yang telah berada dalam keadaan suci dan bersih. Jiwa dan raga insan yang berpuasa akan berada dalam keadaan bersih laksana mutiara putih yang tidak ada satu nokta hitampun di atasnya.

    Pada tanggal 1 syawal, setiap orang beriman menyatakan kegembiraan dan kemerdekaannya karena telah mampu meraih kemenangan dari pergulatan melawan berbagai godaan dan ajakan nafsu selama menjalani puasa di bulan ramadhan. Ramadhan sebagai bulan pembawa hikmah dan keberkahan telah mampu diraihnya, telah mampu menunduklan hawa nafsunya dari perbuatan-perbuatan yang tercela, telah mampu melawan sikap malas menjadi rajin dan aktif, mampu mengalahkan ngantuk untuk melaksanakan ibadah pada malam hari, mampu menahan pandangan mata dari hal-hal yang menggoda, mampu menjaga telinga dari bisikan-bisikan dan rayuan untuk membuka tabir serta kelemahan orang lain. Mampu menjaga solidaritas atas yang dirasakan oleh orang miskin dengan tidak makan dan minum pada siang hari pada tempat-tempat tertutup terlebih pada tempa-tempat terbuka. Terlebih pada10 hari terakhir orang yang berpuasa telah bebas dan merdeka dari bara dan panasnya api neraka.


    Malam 1 syawal merupakan kesempatan emas bagi orang yang berpuasa untuk memulai menabuh genderang kemenangan, pekikan kemerdekaan sebagai rasa syukur karena telah mampu menundukkan musuh bebuyutannya yaitu hawa nafsu. Orang-orang beriman mewujudkannya dengan mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil yang menggema dan membahana ke angkasa raya di seluruh pelosok negeri. Ikrar kemenangan dan kemerdekaan diri terucap dari setiap diri dan mulut orang beriman, semangat menggelora terus berkumandang hingga menyingsingnya fajar 1 syawal di ufuk timur. Seluruh jiwa yang kembali fitrah yang cerah ceria (laki, perempuan, tua, muda, anak-anak) melangkahkan kaki disertai dengan penampilan yang bersahaja menuju tempat-tempat pelaksanaan idul fitri. Mereka wujudkan rasa kemenangan itu dengan sholat dua rakaat disertai dengan mendengar khutbah khatb yang mengurai kilas balik bulan ramadhan dan tantangan yang semakin berat dihadapi setelah bulan ramadhan berlalu.
    Genderang kemenangan dan kemerdekaan diri semakin lengkap tatkala setiap diri melepaskan kegengsian dan ego pribadi untuk saling meminta dan memberi maaf. Tidak ada komando, tidak ada saling menunggu, semuanya bergerak serentak mencari karib dan sahabat untuk saling meminta dan memberi maaf. Yang muda menghadapi dan menghormati yang tua, sebaliknya yang tua menyayangi dan mengasihi yang muda. Sungguh indah suasana yang tercipta dari gemblengan ramadhan. Semua itu dilalukan tidak lain adalah untuk menjaga kefitrahan diri untuk menapaki proses kehidupan selanjutnya. Dia ingin mengiringi kehidupan selanjutnya dengan saling menjaga, saling membantu dan saling memberi sehingga terasa satu ikatan darah yang saling meningati. Ia menginginkan perjalanan kehidupan selanjutnya terus bermodalkan pada kebesaran jiwa dan selalu menjaga jiwa dari kekotoran supaya tetap berada dalam keadaan fitrah. Allah berfirman : “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.(As-syams;9-10). “Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya. (QS. Al-Mukmin17).


    Genderang kemenangan akan segera ditabuh, pekikan kemerdekaan diri akan diikrarkan karena segala perbuatan tercela yang berada dalam diri telah mampu dikalahkan dan dilumpuhkan. Nafsu yang menghinggapi kalbu sekaligus menjajahnya telah mampu ditaklukkan meskipun bersifat temporer. Betapa tidak, rasa sombong yang melekat di dalam diri telah diganti dengan kesederhanaan, sifat kikir dan pelit telah diganti dengan kedermawanan, rasa ego dan individu telah diganti dengan kebersamaan dan saling membantu, sifat marah dan tempramental telah diganti dengan sifat sabar dan tabah, godaan dan kungkungan nafsu materialisme duniawi tergantikan oleh kehidupan moderat yang menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Nafsu besar untuk menduduki jabatan dengan jalan yang tidak pantas telah pudar oleh amanah yang berat, bersikap semena-mena dan ketidakadilan telah menjadi bersikap netral dan seimbang. Semua penyakit jiwa dan duniawi itu telah dikalahkan dan diri telah merdeka berkat tempaan bulan ramadhan sebulan penuh.


    Kemerdekaan insan beriman dari sifat tercela sekaligus membersihkan dirinya dari noda dan dosa yang pernah dilakukan selama ini. Rasulullah saw bersabda :”Ketika idul fitri, para malaikat turun ke bumi. Merekapun berdiri pada ujung-ujung jalan seraya menyeru dengan suara yang dapat didengar oleh makhluk-makhluk Allah selain jin dan manusia. Mereka berkata “Wahai umat Muhammad, keluarlah menuju Tuhanmu yang Mahamulia, yang memberikan pemberian melimpah dan mengampun dosa-dosa besar” (HR.Ibnu Abbas). Pembebasan dan ampunan merupakan hikmah yang paling agung dan mulia diperoleh orang yang berpuasa dan melaksanakan sholat hari raya tersebut. Pembebasan merupakan karunia yang tidak terhingga datang dari Allah yang diberikan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Allah akan memilih siapa-siapa yang dikehendaki-Nya untuk diberikan kemerdekaan dari siksa api neraka.
    Mentari akhir ramadhan terus berputar menuju batas keberadaannya bersama umat manusia, sementara harum wanginya 1 syawal semakin terasa. Oleh karenanya menyongsong datangnya hari raya Idul Fitri, jiwa dan pikiran telah menjadi fitri (suci), maka tujuan dan orientasi kehidupan pada masa mendatang harus tampil dalam keadaan fitri. Genderang kemenangan yang telah di tabuh, pekik kemerdekaan yang telah diikrarkan tidaklah hanya bersifat sementa pada beberapa saat setelah idul fitri. Tampilan jiwa raga, sosial kemasyarakatan harus dalam bingkai kefitrahan yang berlandaskan pada nilai-nilai islami. Jika semua ini dapat dilaksanakan pasca ramadhan, merupakan indikasi diterimanya ibadah puasa.


    Kita wajib menjaga kemenangan dan kemerdekaan yang telah diraih dengan susah payah tersebut. Kita pupuk terus diri dan jiwa untuk terus disirami dengan hal-hal yang suci yang tidak mengotorinya meski hanya setetes. Kemenangan dan kemerdekaan diri yang telah diraih, adalah benteng yang harus dipertahankan agar ibadah puasa ramadhan bermakna. Betapa banyak orang yang tidak bisa mempertahankan benteng yang kokoh tersebut, karena terkesima oleh berbagai godaan duniawi. Mereka terjerumus dalam segala hiruk pikuk kehidupan duniawi yang meruntuhkan dan menghilangkan kemenangan dan kemerdekaan yang telah diraih. Desakan hawa nafsu yang didukung oleh Iblis yang telah lepas dari belenggu akan semakin berat dihadapi oleh umat manusia beriman. Nabipun mengatakan bahwa musuh terberat yang muncul setelah engkau mampu mengalahkannya adalah HAWA NAFSU. Seorang penyair berkata “Bukanlah hari raya idul fitri itu bagi orang yang berbaju baru, melainkan hakekat idul fitri itu bagi orang yang bertambah taatnya kepada Allah SWT.


    Sembari menanti kumandang azan magrib, dan selepasnya diikuti oleh lantunan takbir, tahmid dan tahlil sebagai pertanda 1 syawal 1442 hijriah telah bersama kita. Selamat hari Raya Idul Fitri 1442 H, taqabbalalaahu waminkum, wakuulu aamin waatum bikhair. Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah kita di bulan ramadhan kemarin. Mohon maaf atas segala perbuatan baik secara lahir maupun bathin.