Desa Berdaya NTB: Pengentasan Kemiskinan Ekstrem Menuju Pencapaian SDGs

Berita, Featured208 Dilihat

harianamanat

Kemiskinan masih menjadi tantangan struktural pembangunan Indonesia, termasuk di
Nusa Tenggara Barat (NTB).
Persoalannya tidak lagi sekadar soal jumlah penduduk miskin,
melainkan juga kedalaman dan keparahan kemiskinan—jarak antara pengeluaran rumah
tangga miskin dengan garis kemiskinan, serta ketimpangan di antara kelompok miskin itu
sendiri.
Inilah yang membuat kemiskinan sulit diputus jika hanya ditangani dengan
pendekatan bantuan sesaat, melakukan program biasa-biasa saja.

Dalam konteks tersebut, peluncuran Program Desa Berdaya NTB oleh Pemerintah Provinsi
Nusa Tenggara Barat pada 16 Desember 2025, serangkaian Hari Ulang Tahun ke-67
Provinsi NTB, menjadi langkah strategis yang patut dicermati secara nasional.
Program
unggulan di bawah kepemimpinan Gubernur Lalu Muhammad Iqbal ini menandai
pergeseran paradigma pembangunan desa: dari sekadar distribusi bantuan
menuju pembangunan berbasis keberdayaan dan kemandirian.

Sebagai provinsi dengan karakter kepulauan, basis ekonomi perdesaan yang kuat, serta
ketergantungan pada sektor primer, NTB menghadapi tantangan kemiskinan yang khas.

Fluktuasi iklim, keterbatasan akses pasar, serta kerentanan bencana memperbesar risiko
rumah tangga miskin untuk jatuh lebih dalam ke jurang kemiskinan ekstrem.
Secara nasional, pemerintah telah menetapkan target nol kemiskinan ekstrem, sejalan
dengan agenda pembangunan berkelanjutan dan komitmen global Indonesia
terhadap Sustainable Development Goals (SDGs).

Khususnya Tujuan SDGs 1: Tanpa
Kemiskinan. Namun, capaian target ini sangat bergantung pada efektivitas implementasi
di daerah—terutama di tingkat desa, tempat sebagian besar penduduk miskin bermukim.

DESA BERDAYA MENJAWAB ISU STRUKTURAL DARI AKAR

Program Desa Berdaya NTB dirancang untuk menjawab persoalan struktural tersebut.
Program ini tidak berdiri sebagai proyek sektoral, melainkan sebagai platform konvergensi
pembangunan desa yang mengintegrasikan perlindungan sosial, pemberdayaan ekonomi,
penguatan sosial, dan inklusi keuangan.

Pada tahap awal, Desa Berdaya menyasar desa-desa miskin ekstrem dengan
pendekatan model graduasi—sebuah strategi yang memastikan rumah tangga miskin tidak
hanya menerima bantuan, tetapi juga memperoleh pendampingan intensif, aset produktif,
dan peningkatan kapasitas hingga mampu keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan.

Pendekatan ini sejalan dengan praktik baik global dalam pengentasan kemiskinan ekstrem
yang telah diterapkan di berbagai negara berkembang.

KONTRIBUSI NYATA TERHADAP SDGs

Lebih jauh, Desa Berdaya NTB berkontribusi langsung pada sejumlah tujuan SDGs, antara
lain:

  • SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan): melalui penghapusan kemiskinan ekstrem berbasis
    graduasi.
  • SDGs 2 (Tanpa Kelaparan): dengan penguatan ketahanan pangan desa dan
    pengembangan pertanian lokal.
  • SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): melalui penguatan mata
    pencaharian dan ekonomi berbasis potensi desa.
  • SDGs 10 (Berkurangnya Kesenjangan): dengan fokus pada kelompok paling rentan dan
    miskin ekstrem.
  • SDGs 11 (Permukiman Berkelanjutan): melalui tematik desa tanpa kawasan kumuh
    dan hunian layak.
  • SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim): lewat penguatan desa hijau dan desa
    tangguh bencana.
  • SDGs 17 (Kemitraan): melalui kolaborasi lintas sektor, pemerintah, swasta, perguruan
    tinggi, dan komunitas.
  • Pendekatan tematik Desa Berdaya—mulai dari Desa Mandiri Pangan, Desa Tangguh
    Bencana, Desa Hijau, hingga Desa Bebas Sampah—menjadikan program ini relevan
    tidak hanya bagi agenda daerah, tetapi juga bagi pencapaian target pembangunan
    nasional dan global.

Dari Desa untuk Indonesia
Yang membuat Desa Berdaya NTB menarik dalam diskursus nasional adalah orientasinya
yang sistemik dan terukur. Program ini berbasis data, fokus pada hasil (outcome), serta
dirancang untuk dapat direplikasi.

Dalam konteks Indonesia yang tengah memperkuat
peran desa sebagai motor pembangunan, Desa Berdaya menawarkan model konkret
bagaimana kebijakan nasional dapat diterjemahkan secara efektif di tingkat lokal.

Lebih dari itu, Desa Berdaya menegaskan bahwa pencapaian SDGs bukanlah agenda global
yang abstrak, melainkan proses nyata yang dimulai dari desa—dari rumah tangga,
komunitas, dan potensi lokal yang dikelola secara berkelanjutan.

Menuju NTB Makmur Mendunia
Desa Berdaya NTB bukan sekadar program pembangunan, melainkan gerakan perubahan.

Dari ketergantungan menuju kemandirian, dari bantuan menuju keberdayaan.
Jika
dijalankan secara konsisten, program ini tidak hanya mempercepat pengentasan
kemiskinan di NTB, tetapi juga memperkaya praktik baik pembangunan desa di Indonesia.

Dari desa yang berdaya, NTB menatap masa depan—dan dari NTB, Indonesia belajar bahwa
pembangunan berkelanjutan memang harus dimulai dari akar.

Penulis : Giri Arnawa
Editor : Sri Miranti
Foto : DisKominfotik