Crizna : Jalan Tani dan Rusaknya Hutan Penyebab Bencana Banjir

Daerah, Lingkungan290 Dilihat

harianamanat

KOTA BIMA,- Setiap musim hujan, warga kota bima mulai panik, akibat sungai-sungai meluap hingga ke pemukiman warga.

Menghadapi kondisi tersebut BPBD Kota Bima menggelar Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana.

Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog), Nazamuddin, Penyebab banjir dan tanah longsor adalah akibat banyaknya program pembukaan jalan tani di kawasan pegunungan.

” hujan bukan lagi soal anugerah, namun juga bergandengan dengan musibah.” ujarnya.

Ia menilai bahwa pengawasan terhadap pengelolaan hutan terlampau longgar, bahkan ijin terhadap pemanfaatan hutan kebablasan, masa di bukit juga diberikan,” ujarnya.

Menurut Bung Crizna sapaan akrabnya, bahwa hutan lindung dan konservasi sebagian besarnya telah beralih fungsi, sehingga dampaknya bukan saja kekeringan saat musim kemarau, namun banjir dikala musim hujan menghantam.

Dan dampak Psikologi seperti Kecemasan dan duka bagi masyarakat di kawasan hilir, terus berlangsung.

Ia menjelaskan, dahulu terdapat ratusan sungai diatas hutan dan gunung yang berfungsi sebagai pemecah laju air menuju daerah sungai dan pemukiman warga. Sehingga, meskipun curah hujan dengan intensitas tinggi, tetapi kecepatan air tetap terjaga menuju daerah sungai dan pemukiman penduduk.

Namun dengan banyaknya program pembukaan jalan ekonomi/jalan tani, itu merubah alur air.
Pada musim hujan, jalan ekonomi ini berubah dan beralih fungsi menjadi jalur dan sungai baru, serta mempercepat laju air menuju daerah sungai dan membawa sedimen dan lumpur.

“Contohnya di Lanco Gajah Jatibaru Barat, Lampe, Dodu, sebelah timur PT Tukad Mas, bahkan sepanjang jalan menuju Kolo setiap musim hujan akses jalan pasti tertutup lumpur, sedimen dan bebatuan memenuhi jalan raya tak terhindarkan,” ungkap Nazamuddin.

Kondisi ini harus berani kita sampaikan sesuai realita dilapangan. Sehingga kita semua berharap akan menjadi arah kebijakan yang terukur bagi pimpinan daerah dalam rangka melindungi kawasan hutan dari setiap ancaman bencana.

“Pilihannya sederhana, kita harus punya keberanian untuk mengambil langkah penyelamatan alam atau kita terkubur dalam bencana,” ujarnya.

Ia juga mengajak warga Bima untuk kembali menghijaukan Bima, sebelum tanah kelahiran kita Bima ini tenggelam.

Kasihan anak cucu kita kelak, hanya mendapatkan kesusahan dari apa yang ditinggalkan kita saat ini.(Dd)