harianamanat
MATARAM,- Gubernur NTB Dr.H.Lalu Muhammad Iqbal menyebutkan bahwa NTB kini tengah menapaki arah baru dengan memperkuat diversifikasi ekonomi berbasis sektor pertanian dan pariwisata.
Gubernur Miq Iqbal optimisme bahwa perekonomian daerah akan terus tumbuh positif, meskipun tanpa mengandalkan sektor pertambangan yang selama ini menjadi penopang utama produk domestik regional bruto (PDRB).
“Dalam jangka panjang, kita akan memastikan diversifikasi ekonomi NTB. Sektor pertanian dan pariwisata memiliki potensi besar dalam menopang ekonomi NTB ke depan,” ujar Gubernur Iqbal kepada awak media di Mataram baru-baru ini.
Optimisme Gubernur Iqbal sejalan dengan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, yang menunjukkan tren pemulihan ekonomi daerah. Setelah sempat minus 0,82 persen pada triwulan II akibat pembatasan ekspor tambang, ekonomi NTB kembali tumbuh positif 2,82 persen pada triwulan III 2025.
Beberapa sektor bahkan mencatat lonjakan pertumbuhan signifikan, seperti industri pengolahan sebesar 66,65 persen, akomodasi dan makanan minuman 2,96 persen, serta jasa keuangan dan asuransi 6,70 persen. Adapun sektor penyumbang terbesar terhadap PDRB NTB adalah pertanian (22,92 persen), pertambangan (15,36 persen), dan perdagangan (14,27 persen).

Ekspor Menguat, Inflasi Terkendali
Dalam rilis resminya pada 3 November 2025, BPS NTB melaporkan bahwa neraca perdagangan daerah pada September 2025 mencatat surplus besar senilai US$ 161,77 juta, dengan nilai ekspor mencapai US$ 173,7 juta dan impor hanya US$ 11,93 juta.
Secara kumulatif, sepanjang tahun 2025, NTB telah menorehkan surplus perdagangan sebesar US$ 400,31 juta.
Surplus tersebut menjadi sinyal kuat bahwa daya saing ekspor NTB masih tinggi, terutama dari komoditas perhiasan/permata (64,55%), tembaga (32,17%), serta ikan dan udang (2,85%). “Surplus perdagangan berarti cadangan devisa daerah meningkat dan ruang fiskal semakin luas,” ungkap Kepala BPS NTB, Dr. Wahyudin.
Dari sisi stabilitas harga, inflasi Oktober 2025 tercatat hanya 0,35 persen month-to-month, masih dalam batas aman dan di bawah rata-rata nasional.
Penyumbang inflasi utama berasal dari kenaikan harga cabai merah, emas perhiasan, ikan layang, dan udang basah. “Fluktuasi ini wajar menjelang akhir tahun dan tidak menimbulkan tekanan ekonomi berlebihan,” jelas Wahyudin.
Kestabilan harga juga tercermin dari kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 0,65 persen dibanding bulan sebelumnya. Artinya, pendapatan petani tumbuh lebih cepat dari pengeluaran mereka.
Peningkatan ini didorong naiknya harga komoditas unggulan seperti gabah, jagung, tembakau, cabai merah, dan hortikultura lainnya.
Produksi padi NTB tahun 2025 bahkan meningkat 16,65 persen menjadi 1,70 juta ton, dengan luas panen mencapai 322.500 hektare—naik 14,48 persen dibanding tahun 2024.
Hal ini memperlihatkan keberhasilan pemerintah daerah menjaga ketahanan pangan dan menstabilkan pasokan beras di pasar.
Pariwisata Mulai Rebound, Tantangan Masih Ada
Meski sektor pertanian dan perdagangan menunjukkan tren positif, sektor pariwisata masih menghadapi tantangan.
Data BPS memperlihatkan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada September 2025 turun 3,13 poin menjadi 45,67 persen, sedangkan hotel nonbintang turun 4,36 poin menjadi 33,86 persen.
Penurunan jumlah wisatawan, baik domestik maupun internasional, diakui menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah. Namun Gubernur Iqbal tetap optimis bahwa pariwisata NTB akan kembali menggeliat dengan berbagai event unggulan.
“Potensi pariwisata kita luar biasa. MotoGP Mandalika, Festival Pesona Tambora, hingga event budaya lokal akan terus kita perkuat. Kuncinya adalah kolaborasi dan promosi kreatif agar wisatawan datang tidak hanya saat acara besar, tetapi sepanjang tahun,” tegas Iqbal.
Langkah Strategis Pemprov: Jaga Harga dan Daya Beli
Memasuki akhir tahun, Pemprov NTB fokus menjaga kestabilan harga bahan pokok menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Penjabat Sekretaris Daerah NTB Lalu Mohammad Faozal menyatakan, pemerintah menyiapkan strategi jangka pendek dan panjang agar inflasi tetap terkendali.
“Untuk jangka pendek, kami perluas Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Operasi Pasar bekerja sama dengan BULOG dan Dinas Ketahanan Pangan. Sementara jangka panjang, kami susun Peraturan Gubernur tentang tata kelola komoditas strategis seperti cabai dan bawang merah,” jelas Faozal saat High Level Meeting TPID NTB, Selasa (4/11/2025).
Selain itu, kerja sama dengan Bank Indonesia (BI) dan TP-PKK dilakukan untuk mengedukasi masyarakat melalui kampanye beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Program ini tidak hanya menjaga harga beras tetap terjangkau, tapi juga meningkatkan literasi pangan masyarakat.
Perwakilan BI NTB, Andhi Wahyu Riadno, menambahkan, inflasi NTB hingga akhir tahun diperkirakan tetap berada pada sasaran 2,5% ± 1%. Meski demikian, ia mengingatkan perlunya kewaspadaan di tiga wilayah utama—Kota Mataram, Kabupaten Sumbawa, dan Kota Bima—yang kerap mengalami lonjakan harga komoditas menjelang akhir tahun.

Fondasi Ekonomi Kian Kokoh
Kinerja positif di berbagai sektor menandakan bahwa fondasi ekonomi NTB semakin kuat dan berimbang. Kombinasi antara surplus perdagangan, pertumbuhan pertanian, serta inflasi yang terkendali menjadi bukti bahwa strategi diversifikasi ekonomi mulai menunjukkan hasil nyata.
“Dengan sinergi lintas sektor yang solid dan komitmen memperkuat ekonomi rakyat, NTB siap menjadi daerah yang tidak hanya tumbuh, tapi juga tangguh dan inklusif,” tegas Gubernur Iqbal.
Ia menambahkan, transformasi ekonomi NTB bukan sekadar menggeser ketergantungan dari tambang ke sektor lain, tetapi juga membangun kemandirian jangka panjang. “Kita ingin NTB menjadi contoh bagaimana daerah bisa maju dengan bertumpu pada potensi rakyatnya sendiri,” pungkasnya.
Dengan arah kebijakan yang jelas dan dukungan berbagai pihak, NTB diyakini mampu menutup tahun 2025 dengan kinerja ekonomi yang stabil, berkelanjutan, dan menjadi penopang pertumbuhan kawasan timur Indonesia.(Dis)







