Perempuan Harus Miliki Kecakapan Digital

harianamanat.com

Mataram,—Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Teroris (FKPT), NTB, Lalu Abdul Wahid, SH, MH mengatakan seorang perempuan harus memiliki kecakapan digital sebagai upaya pencegahan perkembangan paham radikal dan terorisme dengan pendekatan lunak dalam berbagai bentuk.

Misalnya dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya para perempuan melalui transformasi pengetahuan yang merupakan salah satu cara yang dinilai efektif untuk mencegah berkembangnya paham radikal dan teroris, kata Wahid diwakili Kabid Perempuan dan Anak FKPT NTB, Prof Hj Atun Wardatun, Ph.D, pada acara perempuan TOP (Perempuan Teladan, Optimis dan Produktif) di aula Tambora BPSDM Provinsi NTB kemarin.

Acara Perempuan Top Cerdas Digital, Satukan Bangsa dalam pencegahan radikalisme dan terorisme melalui FKPT NTB bersama Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) yang diikuti seratus peserta kaum perempuan dari berbagai organisasi dibuka KaSubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT RI, Kolonel Czi, Rahmad Suhendro.

Tiga materi disampaikan dalam kegiatan Perempuan TOP antara lain Kolonel Czi Rahmad Suhendro berbicara soal kebijakan dan strategi pelibatan perempuan dalam konsep pentahilix penanggulangan terorisme.

Prof Hj Atun wardatun, Ph.d berbicara soal peran perempuan dalam pencegahan radikalisme di keluarga dan lingkungan melalui kearifan lokal dan media sosial.
Materi tentang Cerdas Digital, Satukan Bangsa diisi Hj Dina Y Soelaeman, salah seorang pengamat Timur Tengah dari Unpad.

Menurut Wahid lebih jauh, keterlibatan perempuan dalam terorisme sudah mulai bergeser, yang awalnya berperan pada tataran sebagai supporting kemudian mulai bertransformasi menjadi aktor utama.

Mereka aktif menyebarluaskan kekacauan dengan menggunakan media online untuk melakukan berbagai pertemuan virtual.

Menyebarkan berbagai isu hoaks yang menimbulkan kecemasan dan kepanikan di masyarakat.

Dia mencontohkan, aksi teror yang dilakukan perempuan, pertama di kompleks markas Polri pada 31 Maret 2021 lalu, dimana dia menerobos masuk kompleks dan melakukan tembakan dengan senjata laras pandek.

Juga, seorang perempuan menerobos istana negara pada 25 Agustus 2022.

Dari contoh ini, keterlibatan perempuan dalam aksi teroris adalah persoalan cukup pelik.

Perempuan yang dikenal sosok lemah lembut, sebagai pembimbing anak lantas menjadi teroris, ungkapnya.

Oleh karena itu BNPT bersama FKPT meletakkan perhatian pada keterlibatan perempuan dalam pencegahannya melalui Bidang perempuan dan anak, karena perempuan adalah ujung tombak dari kelompok terkecil keluarga.

Sementara itu Kolonel Czi, Rahmad Suhendro mengatakan, di era saat ini merekrut pelaku terorisme sudah mengalami perubahan dari cara lama, misalnya secara kekeluargaan, pertemanan, ketokohan dan melalui lembaga keagamaan bergeser ke cara baru, diantaranya melalui website, medsos bahkan dilakukan secara terbuka dan pembaiatan melalui media.

Adapun mereka menjadi teroris disebabkan beberapa hal, diantaranya selain mencari jati diri juga soal kebutuhan untuk saling memiliki, keterhubungan dan afiliasi yang sangat kuat serta ingin memperbaiki apa yang mereka yakini sebagai ketidakadilan serta mencari sensasi.

Sedangkan Dina Y Soelaman, pengamat Timur Tengah dengan tegas mengatakan, stop hoaks dari sekarang, saring-saring dahulu dan sebar kemudian.

Cukup banyak hoaks sekarang dan segala bentuk propaganda, katanya.

Selain itu dia juga mengungkap data terkait dengan data 2018 bahwa setiap hari ada sekitar 200 ribu tweet pro ISIS per hari.

Dan mereka mampu merekrut 40 ribu orang untuk bergabung ke Suriah dari 110 negara dunia.

Karenanya melalui kaum perempuan kita harus mencegah bagaimana agar saudara kita kita tidak terpengaruh dengan paham-paham tersebut, ungkapnya. (Jik)