Si Cantik dari Bima di Arena Porprov NTB ke-XI

harianamanat.com

Kab Bima,- Pekan Olah Raga Provinsi NTB Ke-XI telah berakhir.

Dan Patut di acungi Jempol, Penyelenggaraanya Sukses, aman terkendali.
Walaupun ada beberapa yang harus di benahi, mengingat NTB akan menjadi Penyelenggara PON 2028 mendatang.

Mohan Roliskhana yang Walikota Mataram itu patut pula mendapatkan Apresiasi.

Sebagai Tuan Rumah, Mohan sudah menjadi Tuan Rumah yang luar biasa.
Wajar jika Walikota yang Ganteng ini mendapat pujian dari seluruh peserta Porprov dan warga sekitar Venue Penyelenggaraan.

Tapi tulisan ini akan cerita beberapa kisah lain dari Penyelenggaraan Porprov.

Yuk, kita intip beberapa Atlet Cantik milik Kontingen Kabupaten Bima, yang ikut menyumbangkan Medali Emas, Perak dan Perunggu pada Porprov kali ini.

  1. MAHARANI.

Atlet Voli kelahiran April 2002.

Gadis cantik asal Desa cenggu, Kecamatan Belo, berusia 22 tahun ini adalah pemain Opposite pada Tim Voli Kabupaten Bima.

Sebagai Penyerang atau Spike, Maharani memiliki kecerdasan dalam menempatkan bola-bola sulit, dan pada saat skor sulit.

Maharani, cantik pintar dan humble ini mengenal olah raga Voli sejak kelas dua SD.
Ia sering menonton ibu dan tetangganya bermain voli.

Awalnya Maharani kecil sering melakukan passing.
Melihat bakatnya tersebut, ibunya mulai mengajak Maharani kecil setiap latihan Voli di kampungnya.

Maharani mulai mengikuti kompetisi voli mewakili Kecamatannya, sejak duduk di bangku SMP.
hingga akhirnya dia sering di ajak ikut Kompetisi Klub Voli Putri di kecamatan Belo.

Pada Kejuaraan piala Walikota, Piala Bupati, Piala Karang Taruna dan piala Gubernur, Tim Voli Putri Kecamatan Belo selalu juara, bahkan melibas klub dari daerah lain.

Maharani menjadi pemain andalan kabupaten Bima sejak Porprov 2018 lalu.

Di lapangan Voli, Maharani sangat cemerlang.
Gayanya yang cuek, lincah, lucu dan selalu tersenyum membuat penonton menempatkan sebagai pemain Favorit.

Ia mulai cemerlang saat terpilih sebagai Pemain favorit Voli termuda pada Kompetisi antar Klub yang di selenggarakan PLN dan Bank Mandiri di Sumbawa.

saat ini Maharani tengah bersiap untuk ikut Liga Bank Mandiri.

Dan pada partai Final Porprov NTB ke -XI, smash nya meruntuhkan pertahanan KSB.
Dan tanpa berpikir panjang, Maharani langsung bersujud syukur, usai smash yang dilakukannya tidak mampu di kembalikan, sehingga Kabupaten Bima meraih poin kemenangan 3 set langsung atas KSB.

Medali Emas pun di kalungkan kepada Maharani dkk.

  1. BUNAYA.
    Ia adalah Atlet bulutangkis pertama Kabupaten Bima yang sukses menjuarai Tunggal Putri Perorangan maupun beregu.

Bunaya, remaja 15 tahun kelas 1 SMAN I Bolo ini,pernah masuk 5 besar Atlet Tunggal Putri Usia Dini, saat berumur 6 tahun.

Bunaya lahir di Desa Timu, Kecamatan Bolo, kabupaten Bima.

Putri Pengusaha Pertanian Anang Rilfaeni ini belajar Bukutangkis dari Ayahnya.

Bunaya pernah sukses menduduki posisi runner up pada kejuaraan Bulutangkis antar Pelajar se Indonesia, saat itu Bunaya masuk 8 besar.

Pada Porprov NTB ke XI kali ini, Bunaya adalah Atlet Bulutangkis Tunggal dan Ganda Putri Kabupaten Bima yang sukses melaju ke babak semi final, sebelum langkahnya di hadang Atlet Bulutangkis Kota Mataram.

Sebagai Pemain muda usia, Bunaya punya cita-cita meraih Emas dan menjadi Atlet Bulutangkis Nasional.

Bunaya mempersiapkan diri untuk ikut Porprov kali ini hanya dalam waktu 2 bulan.
Itupun dalam kondisi GOR bolo yang sudah rusak.
“Tak ada akar, ranting pun jadi”, itulah semboyannya untuk meraih sukses.

Pada Porprov pertamanya ini, Maharani menyabet dua medali Perunggu yakni pada Tunggal Putri dan Ganda Putri.

  1. Asyifa Nur Prabawati.
    Atlet Wushu Kabupaten Bima.

Wushu merupakan salah satu cabang olah raga yang baru pertama kali di selenggarakan dalam Porprov NTB.

Syukurlah, Asyifa sudah mulai belajar Wushu seiring dengan kesukaannya pada olah raga Pencak Silat.

Asyifa, lahir di Kota Mataram.
ayah dan Ibunya mengajar di Kota Mataram.

Ayah dan Ibunya berasal dari Desa Dena Kecamatan Madapangga.

Mahasiswa Unram Fakultas Ekonomi Bisnis semester II ini, belajar Wushu baru dua bulan menjelang Porprov.

Ia adalah atlet Pencak Silat Kabupaten Bima.
Dirinya ingin menyumbangkan prestasi bagi daerah asal kedua orang tuanya.

Asyifa tidak menyangka, jika nomor Butter Fly Show itu membawanya memperoleh Medali Emas.

Gerakannya yang gemulai, lentur dalam memainkan tongkat dengan gaya ala pendekar Thao Master, membuatnya mendapatkan poin tinggi.

Gadis berwajah ayu dan manis ini, tersenyum sumringah saat wasit memberikan nilai tertinggi di laga final Wushu putri itu.

Emas pun di raihnya.
Mimpinya untuk memberikan Emas bagi Kabupaten Bima terwujud.

Bupati Bima Hj.Indah Dhamayanti Putri, SE langsung hadir memeluknya, menambah kebanggan Gadis yang lahir 19 April 2006 ini.

  1. SYARAFIAH.
    Atlet Atletik pada nomor 4 Km dan 10 Km.

Ia lahir di desa Teta Kecamatan Lambitu.

Menjadi atlet Atletik itu karena kebiasaannya berjalan kaki.

Sejak kecil, Syarah harus berjalan kaki menuju sekolahnya.
Rumah nya di Teta sedangkan SD dan SMP nya di desa Kuta.

Ia harus berjalan kaki sepanjang 7 km, setiap hari untuk mencapai sekolahnya.

Orang tuanya hanyalah buruh tani bawang putih.

Setiap hari ia mengasah dirinya sendiri.
Berlatih dan terus berlatih, di kampungnya desa Teta.

Sambil mengukur waktu kecepatan.

Kebiasaannya tersebut, di intip Wahid (40) asal desa Tente Kecamatan Woha.

Wahid beserta saudaranya Muhidin(45) yang juga mantan Atlet Atletik, mengajari Syarafiah bagaimana teknik berlari yang baik.

Wahid dan Muhidin melihat bakat Syarah.

setiap Minggu, Syarah di jemput turun ke Woha untuk berlatih di Lapangan.

Jika pelatihnya tidak sempat datang, Syarafiah dengan ketekunannya mengunjungi rumah pelatihnya di desa Tente kecamatan Woha dengan berjalan kaki sepanjang 24 KM.

Tahun 2007 pertama kali, Syarah ikut Lomba, dan menyabet Perunggu pada kejuaraan antar Sekolah.

Tahun 2008, Walikota Bima HM.Nur Latif memberinya Sepeda Motor sebagai juara Pertama.

” Itulah hadiah terindah yang saya kenang sepanjang masa, karena saya bisa memberikan orang tua saya sepeda motor, sejak itu saya semakin tekun berlatih,” ujar Guru SD di Kampungnya ini.

Syarafiah, terus sekolah dan berlatih.
Saat menjadi mahasiswa STKIP Taman Siswa, ia lebih senang berjalan kaki menuju kampusnya.

Subuh dini hari ia sudah jalan dari Teta menuju Kampus, terkadang menumpang mobil atau kendaraan warga yang turun ke Bima.

Jika ayahnya tidak sedang berladang, dengan sepeda motor hadiah dari lomba Lari yang di beri nama Nolyku itulah dia diantar pergi kuliah.

Syarafiah sudah 3 Emas yang di persembahkan untuk Kabupaten Bima.
yakni pada Porprov 2018 dan pada Porprov ke XI kali ini.

Untuk mendapatkan Emas di cabang Atletik 4 Km pada p
Porprov kali ini, Syarafiah menyisihkan pelari lainnya.

di hari kedua, Syarafiah hanya mampu menyabet Perak pada 10 km.

Ia pingsan usai memasuki garis finish akibat dehidrasi.

Syarafiah,S.Pd pelari berwajah manis asal Kecamatan Lambitu.

Penulis/Editor :Sri Miranti.

Foto : KONI kab Bima.