Ramadhan Yaa Ramadhan (3)

    WADAH UNTUK KEMBALI MENATA HATI.
    Oleh. Dr. Muhammad Irwan H. Husain, MP.

    Harian amamat.com,- Beruntunglah orang-orang yang dipertemukan kembali dengan bulan ramadhan tahun ini. Sepanjang waktu dia meminta kepada Allah SWT untuk dapat berjumpa lagi dengan bulan ramadhan berikutnya, karena ramadhan tahun-tahun sebelumnya dirasakan belum dapat dilaksanakan secara maksimal.

    Hal ini disadarinya, bahwa bulan ramadhan, dimana setan dan keturunannya yang sudah dibelenggu untuk tidak mengganggu manusia yang berpuasa, namun manusia masih saja melakukan hal-hal yang melanggar ajaran Islam. Apalagi pada bulan-bulan lainnya, setan secara bebas menggoda, mengganggu serta mengarahkan manusia pada tindakan-tindakan yang penuh dengan kedustaan.

    Ramadhan, di dalamnya mengandung perintah berpuasa di siang hari merupakan ajang untuk melawan kehendak dan bujukan nafsu. Nafsu yang terdapat dalam diri setiap manusia selalu berseteru antara yang mengarah kepada hal-hal kebaikan dan nafsu yang mengarah pada perbuatan-perbuatan yang buruk.
    Pemenang pertarungan kedua nafsu ini sangat bergantung pada akal manusia yang berfungsi untuk mempertimbangkan dan memutuskan apakah perbuatan dan tindakan yang dilakukan adalah baik atau buruk, terpuji atau tidak terpuji.

    Berkenaan dengan nafsu ini, Allah SWT telah berfirman salah satunya terdapat dalam surat Yusuf “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”. (QS. Yusuf, 53).

    Manusia yang beriman dan bertakwa akan cenderung mampu mengatasi bisikan nafsu yang jelek, karena dalam dirinya telah tertancap iman yang kokoh, hati maupun jiwanya selalu menyatu dengan segala perintah Allah SWT untuk menegakkan kebenaran. Segala keputusan yang diambil berdasarkan petunjuk akal yang sehat, meskipun setiap saat setan tetap mengintai untuk mencari kelemahan dan kekurangannya walau membutuhkan waktu yang lama.
    Sebaliknya, orang yang beriman tetapi tidak bertakwa, jiwanya selalu berada dalam jajahan nafsu, terbelenggu oleh bisikan setan yang mendorong untuk melakukan tindakan menyimpang sehingga segala keputusan yang diambil cenderung tidak adil, dzolim dan jauh dari petunjuk akal.

    Setan selalu membisikkan bahwa tindakan itu adalah benar dan dia menari-nari kegirangan karena telah memenangkan pertarungan dan menggiring manusia ke lembah kenistaan dan kedustaan.

    Ramadhan adalah momen terbaik bagi manusia beriman untuk menata kembali hati dan jiwanya. Melalui rangkaian ibadah wajib dan sunah yang dilakukan pada siang dan malam harinya akan menjadi penawar hati yang cenderung untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.
    Hati dan jiwa manusia akan kembali tertata dengan baik ketika manusia mampu menjaga segala penyakit yang terdapat dalam hatinya.

    Hati manusia merupakan tempat bersemayamnya berbagai sifat sekaligus penyakit. Sifat cepat marah, malas, serakah, suka berbohong atau berdusta merupakan jenis-jenis penyakit yang ingin diberantas oleh ramadhan.
    Ramadhan melalui tempaan ibadah puasa merupakan wadah dan kesempatan terbaik bagi manusia untuk membersihkan hati dan jiwanya dari berbagai komplikasi penyakit yang ada.
    Ramadhan merupakan obat yang sangat mujarab dan ampuh untuk menyembuhkan berbagai penyakit kronis yang berada di dalam hati manusia.

    Menata hati dari berbagai jenis penyakit bukanlah pekerjaan yang mudah, karena tidak sedikit kita menyaksikan banyak orang yang berpuasa di bulan ramadhan namun tidak mampu menata hatinya baik masih berada di dalam bulan ramadhan atau sesudah ramadhan berakhir.
    Banyak orang yang mengaku berpuasa ramadhan namun tidak mampu menahan amarah.
    Banyak yang melakukan puasa namun masih mengumbar kata-kata yang penuh kebohongan dan kedustaan.
    Banyak yang berpuasa namun tidak mampu menahan mata dan lidahnya dari membicarakan orang lain (ghibah), banyak yang berpuasa namun dalam hati dan jiwanya masih terjangkit sifat rakus, tamak dan serakah.

    Orang-orang tersebut meskipun mampu menahan dirinya dari hal-hal yang membatalkan puasa tetapi tidak mampu menahan dari hilangnya pahala berpuasa.

    Berkenaan dengan sifat marah Rasulullah Saw telah bersabda :”Bukanlah orang kuat itu karena pukulan, tetapi sesungguhnya orang yang kuat itu ialah orang yang dapat mengusai dirinya ketika dia marah.

    Al-Ghazali mengatakan bahwa marah adalah seberkas api dari neraka Allah yang menyala-nyala membakar hati manusia. Hal itu tampak pada mata seseorang yang sedan marah. Barangsiapa yang marah, berarti telah tertarik ke dalam urat nadi setan, karena setan itu dijadikan dari api.

    Oleh karenanya melemahkan marah merupakan perkerjaan yang terpenting dalam agama, salah satunya melalui tempaan puasa pada bulan ramadhan.

    Berkenaan dengan kebohongan, Rasulullah saw telah bersabda “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik dan diam. Pada hadis lain Rasulullah saw bersabda :”Barang siapa yang banyak bicaranya, maka dia banyak jatuhnya. Barang siap yang banyak jatuhnya, maka ia banyak dosanya. Dan barangsiapa yang banyak dosanya, maka neraka itu lebih patut baginya.

    Hadis lainnya Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya sebagian besar kesalahan-kesalahan anak Adam itu terletak pada lisannya.
    Ramadhan menghadirkan manusia beriman yang sabar, rajin, berderma, jujur dan lainnya.
    Jika manusia telah mampu mengatasi penyakitnya maka tatanan kehidupan manusia akan berada dalam kedamaian dan kenyamanan.
    Setiap permasalahan diputuskan dengan adil dan bijak, segala hambatan dan ujian dilaluinya dengan sabar dan tabah, segala kebutuhan hidup dimanfaatkan secara sederhana dan tidak berlebihan, segala pembicaraan dan janjinya diucapkan dengan penuh kejujuran dan ditepati.

    Tempaan ramadhan telah mampu menjadikan manusia yang memenangi perlawanan dengan musuh bebuyutannya yaitu nafsu.

    Mari kita berikhtiar secara maksimal untuk menata hati selama bersama ramadhan. Kemampuan menahan berbagai godaan merupakan wujud dari orang yang sabar. Kemampuan menahan lapar, kemampuan menjaga dari ghibah dan berdusta merupakan ciri orang yang mampu menjaga lisannya.

    Kemampuan untuk membangkitkan semangat untuk berusaha dan bekerja melakukan perbuatan baik merupakan jawaban terhadap hati yang malas, kemampuan untuk membatasi menumpuk harta dan memberikan orang lain merupakan jawaban dari penyakit serakah dan rakus.
    Hati dan jiwa yang ditata dengan baik bulan ramadhan dengan sendirinya akan berjalan baik selepas bulan ramadhan.
    In syaa Allah.

    selamat ber Buka puasa….