Ruma, Muma dan Uma

    MUMA, RUMA, DAN UMA
    Oleh : Syahruna

    Bima, harian amanat.com,- Muma, Ruma, dan Uma adalah Gelar Kehormatan bagi Bangsawan Suku Bima. Suku Bima teridiri dari Tiga Daerah. Yaitu Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu.

    Ketiga sebutan itu mempunyai makna yang sama. Muma sebenarnya asal kata Ruma dan Uma. Ruma dan Uma mempunyai makna yang sama. Sama sama punya makna tempat perlindungan.

    Siapa yang disebut Bangsawan itu ?

    Bangsawan adalah orang-orang yang memiliki kharismatik tinggi, memberikan ketauladan yang dapat digugu dan ditiru dalam berkehidupan, mampu menciptakan kondisi sosial masyarakat yang lebih harmonis, mencerdaskan kehidupan masyarakat, dan mampu mensejahterakan kehidupan sosial serta dapat menjadi pelindung masyarakat.

    Dengan kata lain Bangsawan adalah tempat di mana masyarakat dapat memperoleh petuah, nasehat, penyelesaian masalah, dan mampu memberikan perlindungan.

    Karena mereka tempat dimana orang orang mendapatkan perlindungan dan nasehat, maka mereka ini dikategorikan sebagai Bangsawan. Asal kata “Bangsa dan wan ” yang artinya orang orang yang memiliki jasa baik bagi Bangsa dan masyarakatnya. Negara kita menyebutnya sebagai “Pahlawan”. Yang asal kata “Pahala” dan “wan”. Yaitu orang orang yang mendapatkan pahala dari Allah SWT.

    Bagi Suku Bima orang orang yang berjasa ini diberi Gelar Kehormatan sebagai “Ruma, Muma, dan Uma”.

    Orang dari Suku Bima yang memiliki kelebihan Ilmu dan pengetahuan. Kemudian berguna bagi kemajuan Dana ro Rasa, mampu menata sosial kemasyarakatan yang lebih harmonis, meningkatkan kesejahteraan hidup orang banyak, serta mampu mencerdaskan kehidupan sosial, menjaga keamanan, dan mampu menyelesaikan persoalan persoalan sosial masyrakat, maka atas jasa itulah mereka diangkat sebagai Bangsawan yang diberi Gelar Kehormatan Budaya Bima yang disebut Ruma, Muma, dan Uma.

    Ulama Bima dapat disematkan Gelar Kehormatan Budaya Bima. Disebut Ruma Guru, Muma Guru atau Uma Guru. Lengkapnya menjadi Ruma Guru H. Muhammad Hasan misalnya. Kepada semua Ulama di Bima seharusnya dapat diberikan Pengharagaan Gelar Kehormatan ini.

    Kalau Sebutan “Tuan Guru ” berasal dari Lombok. Sedangkan Kyai berasal dari Jawa. Dan dari Suku Bima kita harus menyebutnya Ruma Guru, Muma Guru atau Uma Guru.

    Sedangkan orang yang memiliki Ilmu Pengetahuan yang lebih dari yang lain kita sebut Ruma Guru Mancewi Loa, Muma Guru Ma Ncewi Loa dan Uma Guru Ma Ncewi Loa.

    Seperti Muma Guru Ma Ncewi Loa ro ma Bisa ra Guna, Prof. DR. Ahmad Thib Raya, Muma Guru Ma Busi ra Ma Mawo Drs. H. Machfud, Muma Guru Ma Disa ra Mancewi Ngau,Jenderal Purn, Pol H. Abd. Gani, Muma Guru Ma Ncewi Loa ro Madisa, Prof. DR. Hamdan Zoelva, Muma Guru Ma Ncewi Loa ro Mancewi Taho, DR. H. Dahlan H. Abubakar, dan Muma Guru Ma Ncewi Loa ro Ma tupa DR. Muslimin dan masih ada banyak yang lainnya yang seharusnya kita lestarikan penyebutan ini sebagai kearifan lokal.

    Banyak anggapan bahwa Ruma, Muma, dan Uma adalah suatu Gelar kehormatan hanya untuk keturunan Kerajaan dan Kesultan Bima Dan Dompu. Pada hal Gelar Tertinggi bagi Keturunan Raja dan sultan Bima Dompu adalah ” Ina dan Ama “.

    Ina Ka’u Ma Ari untuk sebutan pada DR. Hj. Siti Maryam, Ama Ka’u Khai, Ama Ka’u Ferri untuk Sultan Feri. Jika ada Gelar Kehormatan Budaya seperti Muma, Ruma, dan Uma yang melekat pada Beliau -Beliau itu, karena Beliau punya jasa atas pengabdiannya pada Bangsa dan Masyarakat Bima baik dalam menata soial masyarakat yang lebih harmonis, mejaga stabilitas keamanan, mencerdaskan kehidupan masyarakat, sebagai Bangsawan

    Gelar kehormatan ini seharusnya sudah kita sematkan kepada orang orang yang berjasa itu. Ketimbang kita bangga menyebut Gelar kehormatan dari suku lain.

    Kita merasa risih dan geli jika kita dipanggil ” Santabe ta Muma Guru.. ” atau merasa risih jika diundang dalam suatu acara dan pada nama kita disematkan Gelar Ruma, Muma, atau Uma. Padahal itu adalah Gelar Kehormatan yang memiliki makna filosofis yang paling dalam berdimensi sosial dan spiritual.

    Sekarang saatnya kita mulai mencintai budaya kita sendiri. Langkah awal sebagai wujud mencintai budaya itu adalah dengan mengijinkan saya menyebut nama anda yang disematkan dengan Gelar Kehormatan budaya Bima Ruma, Muma dan Uma.

    Atau jika masih malu malu dan merasa geli dan risih disebut Muma, Ruma dan Uma, maka panggillah sahabat atau kerabat dekat dengan sebutan itu.

    Santabe ta Muma…
    🙏

    Syahruna
    Kota Bima, 8/2-2021