harianamanat
Sejarah mencatat Perjuangan panjang tidak pernah hilang oleh waktu.
Penghargaan dan kebanggaan ini milik seluruh Indonesia.
Kiprah keteladanan Sultan Muhammad Salahuddin tentu dapat menjadi inspirasi bagi generasi Bima untuk terus berkarya dan menjaga nilai-nilai perjuangan Sultan untuk negeri.
Dedikasi Sultan dalam mencerdaskan rakyatnya sehingga mendirikan sekolah-sekolah dimasa Invasi kedudukan jepang dan Belanda.
Bagaimana Sultan melakukan komunikasi Diplomasi dengan Jepang agar tidak menguasai Sumbawa maupun Dompu dengan Peperangan yang berakibat pada penderitaan rakyat.
Dedikasi, keberanian dan semangat juangnya untuk rakyat dan daerahnya patut menjadi contoh kita semua.
Nah, bagaimana ide dan kisah sehingga Anugerah Gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Muhammad Salahuddin menjadi Perhatian Presiden Prabowo.
Inilah sekelumit perjalanan panjang yang dikisahkan Cucu nya (putri dari almarhumah Puteri Johara binti Muhammad Salahuddin dengan Kolonel Sambara )Dr.Dewi Ratna Muchlisa Kepala Museum Samparaja.
” Sebelumnya kami atas nama Pihak Kesultanan Bima menuampaikan ucapan terimakasih untuk seluruh rakyat Bima yang sudah berpartisipasi dalam mengusulkan Sultan Bima Ndai Hawo sebagai Pahlawan Nasional, Trimakasih kepada seluruh pihak baik Pemerintah Daerah, Gubernur NTB, Bupati Bima, Wakil Bupati Bima, Walikota Bima, Wakil Walikota Bima, Dinas Sosial, teman-teman semua yang tidak bisa satu persatu saya ucapkan…
Alhamdulillah, kita masyarakat Bima Dompu Sumbawa NTB, sangat berbahagia dengan capaian ini.. banyak hal menarik yang menjadi catatan sejarah dibalik suksesnya perjuangan ini..,” ujarnya memulai cerita.
Perjuangan Ndai hawo (Gelar Julukan Raja atau Sultan Bima) Sultan diiringi dengan perjuangan para tim lintas generasi yang juga “berjuang” untuk memperjuangkan pejuang.
” Itu hebatnya.. tidak didapatkan dengan mudah.. membutuhkan waktu belasan tahun untuk menjadikan Ndai Hawo Sultan Muhamamd Salahuddin menjadi Pahlawan kita.
Dibutuhkan penilaian, penelitian, kajian, bukti otentik untuk itu,” ceritanya dengan menahan haru.
Menurutnya ada beberapa Episode dengan orang yang berbeda dalam pengusulan Sultan sebagai Pahlawan Nasional.
Generasi 1.
Generasi ini Ruma Mari sebagai leadernya, tim beliau antara lain pak Sofwan, Pak Israfil, Pak Muslimin AR dan lain -lain terdiri dari para akademisi yg luar biasa juga pk Hilir Ismail, om Beko dan lainnya.
Tim ini meletakkan fondasi awal bagi Pahlawan Nasional Ndai Hawo Sultan M. Salahuddin.
mulai dari membuat buku, mengadakan seminar-seminar dengan menghadirkan para pakar, antara lain Prof Anhar Gonggong, Prof Susanto Zuhdi, Prof Nina Lubis, Henri Chumbert-Loir, dan lain sebagainya di Bima dan Lombok.
Namun upaya-upaya hebat ini masih saja belum berhasil.
Karena memang seleksinya sangat ketat.
Waktu itu saya masih Junior diantara senior-senior hebat dan sedang menempuh S2, dan saya “mengekor” ruma Mari, sambil belajar.
Sehingga urusan-urusan beliaupun saya tau.
beliau (rumah mari /putri Marian) suka menceritakan apa saja yang sudah dilakukannya plus keluh kesahnya.
Hingga Ruma Mari wafat,
menjadikan urusan Pahlawan Nasional sebagai “tanggungan kita bersama
Generasi ke 2.
Dan alhamdulillah, kami mendapat khabar bisa diusulkan kembali.
Bersama Dinas Sosial Kabupaten Bima bu Juhda Saidin dan rekannya membentuk tim antara lain Alan Malingi, Fahru Rizki ihsan dll.
” karena tidak boleh pengusulan dan lainnya itu dari anggota keluarga, jadilah saya tim bayangan yang tidak boleh tercatat namanya,”
Tim bekerja di museum Samparaja Bima, melengkapi lagi buku-buku yang sudah ada, mengkaji, diskusi-diskusi dan lain sebagainya.
Kemudian dilengkapi dgn vidio singkat oleh H. Nurdin. Namun upaya-upaya ini masih saja belum meloloskan Ndai hawo.
dan masih saja dianggap bukti bwlik lengkap.
” bisa dibayangkan bagaimana capeknya” ujarnya Doktor Dewi mengenang.
Kemudian Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bima Andi Sirajudin mulai mencari cara lain.
ditangan pak Andi dan mba Sri kemudian mengundang para Jendral tahun 2021 bulan Oktober akhir antara lain Jendral Tandiyo Budi yang sekarang menjabat wakil Panglima TNI.
selama empat hari beliau-beliau ini mengecek langsung, dan beliau bertanya pada saya apa kendalanya sehingga belum lolos.
Saya sampaikan tanda bintang, beliau berkata itu gampang lengkapi bukti-bukti itu yang penting dan argumen kita, ujar sang jendral meyakinkan kami.
Beliau juga mengatakan pada saya, “yang dibutuhkan itu buktinya mba, bukti nika baronta, bukti beasiswa dan pendidikan dn bukti fisik lainnya.”
Setiap saya jelasin kehebatan Sultan beliau selalu nanya.. buktinya mana?? Bukti bukti dan bukti, duh pak, akhirnya saya bongkar hampir 7 dos dokumen dalam waktu singkat dan harus dibaca satu persatu.
Dan Alhamdulillah, ketemulah bukti-bukti otentik Sultan yang benar-benar memajukan pendidikan memberikan beasiswa dan sekolah-sekolah, dan itu jumlahnya sangat banyak.
Selanjutnya bukti NIKA BARONTA, kita buat kesaksian berupa vidio dibantu om Ihsan dan om Lance, kesaksian orang yang pernah ada dan menyaksikan peristiwa itu.
Juga vidio kesaksian anak dari Kyai Haji Said Amin Dr. Mutawali, yang pernah disekolahkan waktu umur 10 tahun ke Mekkah.
Dan pak Jendral meminta dikirimkan segera bukti-buktinya, dan dibuatkan juga PPT nya untuk beliau presentasi di depan Pak Presiden Prabowo.
Dan untungnya circle saya dibidang naskah yang berhubungan erat dengan sejarah tentunya orang-orangnya ya itu itu juga.
Tim penilai pun sudah berganti.
Dan angin segar sudah mulai nampak, dan jadilah pertemanan menjadi kemudahan dalam hal kita menjelaskan argumen-argumen tentang Sultan berdasarkan dokumen-dokumen.
Karena memandang sejarah tidak bisa disamaratakan daerah yang satu dengan daerah lain.
Ada kebijakan ada diplomasi yang dilakukan Sultan untuk wilayahnya.
untuk asetnya
untuk rakyatnya
untuk negerinya
itulah mengapa Sultan Muhammad Salahuddin menjadi Pahlawan dibidang Pendidikan dan Diplomasi.
Dan uniknya kita juga memperjuangkan beliau juga melakukan Diplomasi kepada orang-orang yang memegang kepentingan untuk hal ini.
Dengan kita mengangkat peninggalannya seperti naskah-naskah, menjadi bukti bahwa Ndai Hawo pejuang literasi pejuang dunia pendidikan dan tentunya Diplomasi.
Inilah kisah kisah Mendayung hingga satu dua pulau terlampaui.
kita mengangkat peninggalannya berupa naskah.
terangkat pula kisah perjuangannya.
Karena naskah adalah sumber otentik sumber primer kita.
Perjalanan yang memang lelah dan capek tetapi tiada kata itu untuk sebuah pengabdian dan perjuangan. Ketika anak memperjuangkan Sang Ayah.
dilanjutkan cucu memperjuangkan Sang Kakek.
Perjalanan panjang untuk Hawo ra Ninu,” pungkasnya sembari menyeka air mata harunya.
Sumber : Dr.Dewi Ratna Muchlisa
Editor : Sri Miranti
Foto : Koleksi Museum Samparaja
