harianamanat
Sultan Muhammad Salahuddin adalah Raja Bima yang ke 38 dan Sultan Kesultanan Bima ke 14 dilahirkan di Bima pada 15 Zulhijah 1306 (14 Juli 1889). Memerintah (1915-1951).
wafat di Jakarta pada tanggal 14 Juli 1951 dalam usia 64 tahun.
Pada saat beliau wafat banyak sahabat beliau yaitu tokoh-tokoh nasional yang datang ke rumah sakit, seperti KH. Agus Salim, Muhammad Natsir, Mohamad Roem, Mr. Syafruddin Prawiranegara, PM Hardi dan atas arahan Presiden Soekarno, memberikan penghormatan terakhir dengan menyemayamkan jenazah beliau di gedung Proklamasi Jl. Pegangsaan Timur no. 56 Jakarta dan dimakamkan dengan upacara kenegaraan.
Menurut pengakuan Almahurmah HJ.SITI MARYAM (Putri Sultan Bima yang ke tujuh) bahwa Presiden Soekarno sempat berkata: “Beliau adalah pahlawan”, dan selama 40 hari tahlilan almarhum di adakan di Gedung Proklamasi.
Sultan Muhammad Salahuddin dimakamkan di pemakaman Karet Bivak , dan dibebaskan langsung oleh Presiden Soekarno untuk tidak membayar pajak untuk selama-lamanya dan dibebaskan pula untuk diberikan ornamen atap dan lain sebagainya sehingga berbeda dengan kuburan lainnya.
Dalam hal ini Presiden Soekarno memberikan keistimewaan bagi Sultan Muhammad Salahuddin selayaknya seorang Pahlawan
Beliau memang sudah lama mendahului kita, namun warisan kepemimpinan dan perjuangan semasa hidup akan terus menjadi pondasi hidup masyarakat Bima..
Warisan tersebut tidak hanya terkhusus untuk masyarakat Bima saja, namun untuk seluruh bangsa dan negara Indonesia yg di cintainya.
Dengan alasan itulah kami, masyarakat Bima sangat berharap bahwa Sultan Muhammad Salahuddin mendapatkan pengakuan dari negara, yang kami rasa sangat pantas Beliau dapatkan yaitu berupa gelar Pahlawan Nasional.
Gelar tersebut selain untuk pribadi, namun juga akan menjadi kebanggaan yang luar biasa bagi kami masyarakat Bima, untuk memiliki seorang tokoh Pahlawan Nasional, yang bisa menjadi panutan terutama bagi generasi mudah Bima untuk bisa mencontoh sikap cinta tanah air dan nasionalisme tinggi Beliau.
Prof.Dr. Imran Ismail dalam buku Bima(1945-1950) Perjuangan Fisik Dan Organisasi, menulis ada 10 nilai-nilai kepahlawanan yang ditorehkan oleh Sultan Muhammad Salahuddin.
Yang kemudian ada beberapa poin penambahan daripara akademisi dan budayawan Bima torehan-torehan tersebut adalah sbb:
- NASIONALIS SEJATI.
Jiwa nasionalis Sultan Muhammad Salahuddin ditunjukan beliau dengan mengeluarkan Maklumat pada tgl 22 November 1945, dimana poin terpenting dari maklumat tersebut menyatakan bahwa Kerajaan Bima adalah suatu daerah istimewa yang berdiri di belakang negara Republik Indonesia.
Beliau secara tegas mengakui kemerdekaan RI.
Beliau adalah salah satu dari sedikit tokoh seperti Hamengkubuwono ke IX yang paling pertama menyatakan dukungan atas kemerdekaan RI.
Pidato Presiden Soekarno pada saat kunjungan ke Bima pada tahun 1950 menjadi bukti pengakuan beliau atas jiwa nasionalis seorang Sultan Muhammad Salahuddin.
Presiden Soekarno mengapresiasi langkah Sultan Muhammad Salahuddin dan rakyat Bima, dan meminta untuk terus menjaga amanat Proklamasi.
Isi Maklumat :
Kami Sultan Keradjaan Bima, menjatakan dengan sepenuhnya, bahwa:
Pemerintahan Keradjaan Bima, adalah suatu Daerah Istimewa dari Negara Republik Indonesia dan berdiri di belakang Pemerintah Republik Indonesia.
Kami menyatakan, bahwa pada dasarnya segala kekuasaan dalam daerah pemerintahan Keradjaan Bima terletak ditangan kami, dan oleh karena itu berhubung dengan suasana dewasa ini , maka kekuasaaan-kekuasaan jang sampai sekarang ini tidak ditangan kami dengan sendirinya kembali ke tangan kami.
Kami menjatakan dengan sepenuhnja, bahwa perhubungan Pemerintahan dalam lingkungan Keradjaan Bima bersifat langsung dengan Pusat Negara Republik Indonesia;
Kami memerintahkan dan Pertjaja kepada sekalian penduduk dalam seluruh Keradjaan Bima, mereka bersifat sesuai dengan sabda kami yang ternyata di atas.
Presiden Sukarno sangat mengapresiasi sikap sultan dengan datang ke Istana Bima.
Pada tangga13 Nopember 1950 Presiden Soekarno berkunjung ke Bima untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada Sultan Bima dan rakyatnya yang telah setia mendukung RI.
- PEMIMPIN YANG MELINDUNGI HARKAT Dan MARTABAT PEREMPUAN BIMA SERTA PEDULI ATAS ISU KESETARAAN GENDER.
Masa pendudukan Jepang antara tahun 1942-1945 cukup mencekam. Perempuan Bima ingin dijadikan sebagai Jugun Ianfu di barak-barak Jepang dan dikirim keluar daerah.
Sultan Muhammad Salahuddin melawan dengan memerintahkan para Camat dan Gelarang serta seluruh masyarakat yang memiliki anak gadis untuk segera dinikahkan.
Peristiwa itu dikenal dengan “Nika Baronta “ atau kawin berontak.
Nika Baronta adalah pernikahan massal yang terjadi di seluruh pelosok Bima, sebagai bentuk penyelamatan harkat dan martabat wanita Bima saat itu.
Bagi perempuan yang belum sempat dinikahkan, terpaksa harus berdandan compang camping dan makan sirih. agar pasukan Jepang tidak tertarik pada mereka.
Melalui Nika Baronta, perempuan Bima diselamatkan oleh Sultan Bima dengan kebijakannya.
Bisa dikatakan, Bima sebagai satu-satunya daerah di Nusantara bahkan di Asia, yang pernah diduduki Jepang namun tidak satupun wanitanya yang dijadikan jugun lanfu.
Pada tahun 1922, Sultan Muhammad Salahuddin mendirikan Sekolah Kejuruan Wanita di Raba.
Sekolah ini dikenal dengan Kopschool.
Sultan Muhammad Salahuddin juga merespon dan mendukung berdirinya salah satu organisasi perempuan di Bima pada tahun 1949 yang bernama Rukun Wanita.
Organisasi ini diketuai oleh SBS Yulianche.
Sultan Muhammad Salahuddin juga mendukung berdirinya organisasi Aisyah Bima pada tahun 1938 yang diketuai oleh Jaenab AD Talu.
- CINTA ILMU PENGETAHUAN.
Sekitar 38 kitab ilmu agama Islam menjadi koleksi Sultan Muhammad Salahuddin yang kini masih tersimpan rapi di Museum Samparaja Bima.
Disamping itu, arsip surat surat penting di era kepemimpinannya 1915-1951 masih ada di Museum Samparaja.
- PENULIS.
Karena cinta ilmu pengetahuan, Sultan Muhammad Salahuddin juga merupakan seorang penulis.
Di Museum Samparaja Bima terdapat sejumlah naskah khutbah Jumat yang ditulis langsung oleh Sultan Muhammad Salahuddin.
Salah satu karya monumentalnya adalah Kitab Nurul Mubin, yang disunting dari kitab terdahulu yaitu kitab yang ada sejak masa Sultan Abdul Qadim pada abad ke-18.
Kitab Nurul Mubin itu kemudian diterbitkan oleh Penerbit Syamsiah Solo pada tahun 1932.
- PEMIMPIN VISIONER
Masa kepemimpinannya adalah masa pergerakan kemerdekaan.
Dimana dinamika perjuangan mewarnai kehidupan masyarakat Bima.
Berbagai organisasi perjuangan tumbuh subur bagai jamur di musim hujan.
Para pendiri organisasi kepemudaan dan kemerdekaan itu, merupakan pelajar dan mahasiswa yang dikirim Sultan Muhammad Salahuddin untuk belajar ke luar daerah, baik itu di Bali, Makassar hingga Pulau Jawa.
Sultan Muhammad Salahuddin memfasilitasi dan mendukung berbagai organisasi pergerakan kemerdekaan.
Sultan Muhammad Salahuddin juga memberikan otonomi dan memberikan peluang sebesar besarnya kepada rakyat Dompu untuk melepaskan diri dari Bima sehingga pada September 1947 Tajul Arifin Sirajuddin dinobatkan menjadi Sultan Dompu.
- PENDIRI NAHDATUL ULAMA.
Tokoh NU Syekh Hasan Syechab salah satu pengurus Hoofd Bestuur Nahdatuel Oelama dari Batavia berkunjung ke Bima pada tahun 1936.
Sultan Muhammad Salahuddin didaulat menjadi ketua NU.
Bersama Hasan Sychab, Sultan Muhammad Salahuddin juga mendirikan sekolah Darul Ulum Bima.
- TOLERAN dan INKLUSIF.
Di masa pemerintahannya Sultan Muhammad Salahuddin memberikan dukungan terhadap berdirinya partai politik seperti Perindra pada tahun 1939.PIR dan PNI pada tahun 1949.
Disamping itu Sultan Muhammad Salahuddin sangat toleran terhadap ummat non muslim.
Memberikan tanahnya kepada Misionaris di Raba Bima untuk dibangunnya Gereja.
Sultan juga mengajarkan warganya di wilayah Donggo untuk saling menghargai dan toleransi antar umat beragama, wilayah tersebut merupakan contoh toleransi yang sesungguhnya dimana dalam satu rumah hidup rukun agama yang berbeda begitu juga masyarakatnya bahu membahu dalam keberagamaan.
- TOKOH PENDIDIKAN.
Pengurus Yayasan Islam Bima H.Abubakar H.Ma’alu.SH menyebut ada 60 sekolah yang telah dibangun sejak masa aktif Sultan Muhammad Salahuddin sebagai sultan hingga terbentuknya Yayasan Islam Bima pasca Bima bergabung dengan NKRI.
Sekolah Kita didirikan di setiap Kejenelian. Sekolah Desa di setiap desa yang kemudian menjadi Sekolah Rakyat dan Sekolah Dasar hingga saat ini.
Sekolah Agama seperti Darul Ulum juga didirikan.
Pendidikan Moderen mulai dibangun pada tahun 1920.
Sultan Muhammad Salahuddin mendatangkan para guru non muslim untuk mengajar ilmu pengetahuan umum di Bima.
Hingga saat ini, keturunan HBS Yulianche menjadi saksi sejarah tentang jiwa toleran dan inklusifnya seorang Sultan Muhammad Salahuddin.
Memberikan beasiswa pada rakyat yang berperstasi hingga ke luar negeri Mekkah Madinaah dan Negara lainnya.
Membeli rumah di Makkah dan diwakafkan, untuk dijadikan asrama bagi para pelajar dan para Jemaah Haji yang berasal dari Bima, dan beberapa kota besar lainnya yaitu Yogyakarta, Makassar dll untuk dijadikan asrama bagi para pelajar Bima.
Meskipun sultan tidak lagi menjadi berkuasa tetapi sultan semasa hidupnya tetap memberikan beasiswa bagi rakyatnya agar tidak putus sekolah.
Sehingga Bima bisa menjadi seperti sekarang ini terkenal dengan para guru-guru agama hingga kepelosok Nusantara.
- . ULAMA
Sebagai seorang ulama, Sultan Muhammad Salahuddin sangat peduli terhadap pendidikan agama Islam.
Pendirian sekolah Islam dibarengi dengan pemberian hibah tanah kesultanan untuk mebiayai dunia pendidikan mulai dari penbangunan sekolah, gaji guru hingga bea siswa untuk para pelajar Bima hingga ke Mekkah, Madinah dan negara lainnya.
Hingga kini sultan terus memberikan bantuan kepada Mesjid, dan perangkat masjid di Bima serta para guru agama lewat Yayasan Islam yang dahulunya bernama Mahkamahtus Syariah yang mengelola tanah-tanahnya.
- PELOPOR PEMBANGUNAN.
Banyak Bangunan bersejarah yang dibangun pada masa Sultan Muhammad Salahuddin seperti Asi Mbojo, Pendopo Bupati, Kantor Walikota lama di Raba, Masjid Al Muwahiddin, Dam Rawa Baka dan sejumlah fasilitas publik lainnya.
Bangunan itu hingga kini masih berdiri megah mengawal perubahan zaman.
- MENYELAMATKAN BENDA-BENDA BERSEJARAH DARI TENTARA JEPANG.
Sewaktu tentara Jepang masuk ke Bima, meminta kepada Sultan dan Permaisuri Siti Aisah agar segala peninggalan berharga seperti keris, mahkota, ceret dan lainnya yang terbuat dari emas dikumpulkan dan akan dilebur untuk dijadikan gigi palsu tentara Jepang.
Sultan dengan tegas menolak dan segera mengamankan benda-benda berharga tersebut dan menggantikan dengan emas batangan untuk dijadikan gigi palsu tentara Jepang.
Hingga kini benda-benda bersejarah yang terbuat dari emas bisa kita saksikan sampai anak cucu ke depan sebagai bukti kejayaan Kerajaan Bima dan tersimpan di Museum Asi Mbojo yang merupakan ex Istana Bima.
(Sumber : Dr.Dewi Ratna Muchlisa)
