BNPT RI Perkuat Identifikasi Manajemen Risiko

harianamanat.com

BOGOR,- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) berkomitmen untuk memperkuat identifikasi manajemen risiko mengingat semua kebijakan penanggulangan terorisme memiliki risiko yang mungkin terjadi.

“Setiap kebijakan, aktivitas kita mengandung risiko. Maka, penting untuk mengukur atau memperkuat manajemen risiko,” ucap Sekretaris Utama BNPT RI Bangbang Surono, A.k., M.M., CA., dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) kebijakan strategis manajemen risiko terintegrasi berbasis teknologi informasi di lingkungan BNPT RI di Kantor Pusat BNPT Sentul, pada Selasa (31/10).

Identifikasi manajemen risiko selaras dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) yang mengamanatkan seluruh kementerian/lembaga/daerah wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan.

“Hal ini selaras dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 tentang SPIP. Mengamanatkan bahwa seluruh kementerian/lembaga/daerah wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. Melalui penerapan unsur-unsur SPIP yang meliputi lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan pengendalian internal yang dilaksanakan menyatu dan menjadi bagian integral dari kegiatan di lingkungan kementerian/lembaga/daerah,” tambahnya.

Selain memperkuat manajemen risiko lingkup internal, menurut Inspektur BNPT RI, Catur Iman Pratignyo, SE., QIA., CFrA., CGCAE BNPT RI diharapkan juga harus mampu melakukan manajemen risiko lintas sektor yang berkaitan dengan penanggulangan terorisme.

“BNPT harus mengampu manajemen risiko tingkat sektor dalam penanggulangan terorisme. Harus kita rumuskan bersama dengan TNI, Polri, Badan Intelijen Negara (BIN), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan instansi terkait lainnya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan ini, Direktur Deradikalisasi BNPT, Brigjen. Pol. R. Ahmad Nurwakhid, S.E., M.M., turut menjelaskan manajemen risiko dalam perspektif intelijen.

“Dalam ilmu intelijen, manajemen risiko disebut teori prediksi antisipasi. Beragam risiko mungkin terjadi, mulai dari terjadinya aksi terorisme yang berdampak pada ketidakpercayaan masyarakat hingga konflik sosial. Maka kalau sudah ada prediksi, perlu diminimalisir risiko,” tutupnya.(HMS)