Sang Pengembara Muchlis DJ Tolomundu itu Telah Pergi

harianamanat.con

KABAR DUKA.Innalillahi wainnailaihirojiun.


Telah berpulang ke rahmatullah sahabat kita Muchlis Dj. Tolomundu (Muvhlis Djafar Ahmad) (62 th).

seorang tokoh muda milik Bima.

dipergaulan aktivis Jakarta dipanggil LEO MAMBORA, pernah menjadi wartawan Tempo dan Matra.

Dae Lis wafat di RS Fatmawati Jakarta sekira pukul 20.00 WIB tadi, karena sakit jantung.

Pemakaman akan dilaksanakan siang ini Selasa, 13 September 2022, ba’da salat dhuhur, di Pemakaman Tanah Kusir.

Rumah duka: Discovery Terra Blok B No. 28 Bintaro Jaya, Tangsel.

Mohon dimaafkan atas segala kekhilafan dan kesalahan almarhum. AlFatihah.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. Lillahi maa akhaza wa lahu maa yu’thi ( Seungguhnya kita adalah milik Allah dan sungguh kepadaNya kita kembali. Milik Allah apa yg diambil dan milikNya pula apa yang diberi). InsyaAllah Almarhum mendapat tempat terbaik disisiNya.

Kepergian almarhum membuat lara hati beberapa sahabatnya.

Inilah kesan para sahabat untuk Dae Lis :

Sewaktu saya Ketum PERCASI NTB ( 2006- 2010) saya memimpin 25 orang delegasi NTB ke kejurnas Catur di Batam.
Delegasi NTB ada yg baru pertama naik pesawat. Ada yg baru pertama nginap di hotel berbintang.

Saat itu dinda Muchlis adalah orang kepercayaan Gub Riau Kepulauan di Batam.
Delegasi kami diinapkan di hotel berbintang. Sementara delegasi kaya dari Jakarta, Jabar, Jatim dll nginap di Wisma Haji.

Delegasi NTB yg “gawah” satu malam langsung menghabiskan semua isi kulkas hotel. Cucian dari pakaian “busuk” semua diserahkan ke laundry.
Pokoknya delegasi NTB pesta pora dan saya yakin tahun 2006 itu mungkin seratusan juta habis utk delegasi NTB. Itu jasa alm dinda Muchlis. Menetes air mata saya saat menulis ini. Alfatihah utk dinda Muchlis😭.

LEO MAMBORA(Kisman pangeran)

Orang yg sangat berjiwa sosial, dermawan, dan tidak bisa menolak permintaan bantuan teman yg sedang kesempitan.
Bahkan tak pernah berharap pemberiannya dikembalikan.

Karena sifatnya yg luar biasa baik itu, ia bnyk teman. Orang pun lantas merasa kehilangan akan sosok Leo Mambora ketika mendengar berita ia wafat, Senin malam 12 Sept 2022 di RS Fatmawati, Jaksel.

“Leo” (huruf “e’ dibaca seperti kata leon) adalah nama panggilan khas Dompu-Bima yg diambil dari kata “Lis” pada nama Muchlis. Sementara “Mambora” artinya “menghilang”.

Ya, bung Muchlis suka tiba2 “menghilang” dr pergaulan teman2, juga dari lingkungan keluarga. Setelah lama tak diketahui kabar beritanya, tiba2 muncul mengajak teman2 untuk ngumpul berbincang-bincang apa saja. Dia yg traktir.

Kebiasaan mentraktir teman sudah dilakukan sejak sekolah di SMPN 1 Mataram.

Tempat Leo mengajak teman2 ngumpul pun berkelas, di hotel atau resto mahal. Kalau dia berbuat begitu berarti kantongnya sedang tebal.

Lahir di Bima 29 Pebruari 1960, Bung Muchlis mrpkn anak sulung dr pak Djafar Achmad, mantan Kakanwil Depsos. Buyutnya dari garis bapak, Syeh Abdul Gani, adalah keturunan Arab dari Bangil, Jatim. Beliau saudagar sekaligus penyebar agama Islam di Dompu.

Sejak usia 18 tahun, ketika duduk di kelas 3 SMAN 1 Mataram, Muchlis sudah berkibar sebagai penulis artikel (kolomnis) nasional. Sejumlah karyanya pernah dimuat di Harian Kompas. Saat itu dia setidaknya sudah sejajar dg Gus Dur yg juga dikenal sebagai kolomnis media besar nasional.

Nama “Tolomundu” sudah disematkan dalam identitas dirinya sejak menjadi kolomnis.

Tolomundu mrpkn sebuah kawasan dekat Istana Bima. Di derah itulah bung Muchlis lahir, sekaligus tempat asal ibundanya yg sekarang masih ada di Mataram.

Selepas SMA Muchlis menjadi wartawan Tempo di Surabaya, sesudah berhenti kuliah dr Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial, Bandung, tempat bung Hatta Taliwang juga meraih sarjana.

Di Tempo Surabaya Leo Mambora berada di bawah p Dahlan Iskan yg menjadi Kepala Biro Tempo Surabaya.

Bbrp tahun di Tempo, bung Muchlis lalu keluar dan balik ke Mataram.

Sekitar th 1986 ia ke Jakarta gabung dg majalah Matra yg mengusung konsep gaya penulisan bertutur yg dirintis Tempo. Karena gaya penulisan yg sama dg Tempo, Muchlis merasa cocok dg Matra.

Di situ dia bertemu Andy F Noya dan sejumlah jurnalis yg kini punya nama besar.

Hingga akhir hayat, alm Leo Mambora masih rajin menulis buku yg diilhami dari hsl perjalanannya ke bnyk tempat.

Begitulah sekelumit ttg Bung Muchlis Dj Tolomundu alias Leo Mambora, yg menurut seorang teman, “setan pun takut padanya karena sulit mencegah kedarmawanannya dalam membantu teman yg kesusahan.”

Selamat jalan sohib, semoga kebaikanmu menolong sesama manusia menjadi andalan amalanmu untuk menjejakkan kaki di surganya Allah SWT.

Engkau sudah membuktikan anjuran agamamu, Islam, untuk menjadi sosok yg berguna dan bermanfaat bagi sesama manusia.

Kami segenap Kerabat kerja PT.AMANAT BIMA RAYA (harianamanat.com)tak lupa mengucapkan belasungkawa yang dalam.

Insyaa Allah Dae Lis Husnul khotimah.alfatihah. *Sri Miranti*