Ramadhan : Komitmen Jati Diri oleh :Dr.M.Irwan H.Gani

    RAMADHAN : KOMITMEN JATI DIRI

    Oleh Dr. Muhammad Irwan Husain Gani, MP

    harian amanat.com.

    Ramadhan untuk kesekian kalinya berada ditengah umat manusia beriman.

    Ia hadir sepanjang tahun bersama orang yang berkomitmen tetap menjadikan Islam sebagai agama yang dianutnya hingga akhir hayat.

    Komitmen yang kokoh terucap oleh sosok manusia yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk jalan keselamatan hakiki dunia dan akhirat.

    Ramadhan hadir untuk mengokohkan jadi diri manusia yang telah berkomitmen tetap beriman dalam panj-panji Islam agar menjadi manusia yang bertakwa.

    Melaksanakan puasa wajib dalam bulan ramadhan dan puasa-puasa sunah pada bulan yang lainnya adalah manivestasi dari ikrar manusia yang berkomitmen menjadikan jati dirinya pelaksana setia perintah wajib yang terdapat dalam rukun Islam.

    Pertanyaan yang selalu hadir pada setiap diri, sudahkah sosok manusia takwa yang ingin diwujudkan oleh gemblengan puasa ramadhan yang bertahun-tahun kita laksanakan terwujud? Sudahkan gemblengan bulan ramadhan melaui berpuasa telah menghadirkan sosok manusia takwa sejati? Manusia bertakwa (muttaqien) adalah manusia mukmin multazim yang berkomitmen terhadap pelaksanaan ajaran islam secara utuh (kaffah) yaitu akidah, ibadah dan muamalah?.

    Sejujurnya kita menjawab belum atau masih berada ditengah-tengah.

    Kita masih belum merasakan takwa sejati, sehingga momen ramadhan yang hadir sekarang ini adalah kesempatan terbaik untuk kita mewujudkannya..

    Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan oleh ALLAH SWT untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadhan tahun 1443 H. Hati gembira, bahagia disertai terharu karena bulan yang banyak membawa hikmah dan ganjaran kembali hadir menyapa kita.

    Bertemu dengan bulan ramadhan tahun ini merupakan harapan dari setiap insan beriman yang takwa, karena disadari buah perjuangan melawan dan mengendalikan nafsu pada ramadhan tahun lalu belum mencapai titik puncak, masih ada bolong-bolong yang terlewati.

    Disadari pula bahwa kehadiran bulan Ramadhan tahun ini sasananya tidak sama dengan tahun-tahun lalu, karena kondisi dan keadaan yang dihadapi sangat berbeda.

    Maka bersyukurlah kita kepada Allah SWT, karena masih diberi kesempatan untuk dapat menyapa dan bertemu dengan bulan Ramadhan tahun ini.

    Ramadhan kembali hadir tatkala manusia berada dalam kehidupan yang penuh dengan perjuangan menghadapi aneka ragam ujian dan cobaan.

    Manusia tengah berhadapan dengan situasi ekonomi, sosial dan politik yang dinamis, yang menuntut adanya kebesaran jiwa untuk menghadapinya.

    Ada misi suci yang dibawa oleh ramadhan, bahwa menata kehidupan yang lebih baik bagi hari ini, hari esok dan seterusnya telah ada bersama kita.

    Ramadhan menyapa kembali manusia yang sibuk dengan kehidupan dunia yang mempesona dan menggoncang keimanan.

    Ramadhan hadir tatkala segelintir manusia yang mempertontonkan kemewahaan dan penumpukan harta maupun uang ditengah sebahagian besar manusia lain yang masih berkutat sekuat tenaga agar mampu memenuhi berbagai kebutuhan hidup.

    Ia hadir tatkala manusia saling bersaing untuk mengikuti segala kehendak nafsu dunia dan mendangkalkan serta mengalahkan persiapan menuju kehidupan akhirat.

    Sebagian manusia tengah berlomba untuk menggapai kebahagiaan dan kesejahteraan duniawi sementara sebahagian yang lainnya sedang merana, tidak berdaya dan menderita.

    Orang yang beriman dan bertakwa sangat merindukan datangnya bulan ramadhan dan diperlakukan sebagai tamu yang mulia.

    Kemuliaan ramadhan akan dapat digapai manakala kita turut memuliakannya.

    Ia datang dengan membawa berbagai aroma kebaikan yang mengadung keberkahan.

    Aroma tersebut ditebarkan kepada orang-orang yang merindukan sekaligus melaksanakan puasa.

    Rasulullah telah bersabda : “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

    Bulan yang telah Allah menjadikan puasanya sebagai kewajiban dan mendirikan sholat malam hari sebagai ibadah tambahan.

    Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebaikan di dalamnya, samalah dengan orang yang melaksanakan suatu fardhu pada bulan lainnya, dan barang siapa yang mengerjakan yang fardhu di bulan ramadhan samalah dia dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan yang lain.

    Doa orang-orang yang merindukan hadirnya ramadhan seperti yang diucapkan oleh Yahya Ibnu Kasir “Ya Allah, selamatkanlah kami sampai datangnya Ramadhan, dan serahkanlah Ramadhan kepada kami, serta terimalah (penggunaan ) Ramadhan itu dari kami salam sebuah pengabulan”.

    Orang-orang yang benar-benar tidak ingin momen ramadhan terliwat begitu saja, mereka telah berdoa selama enam bulan agar mereka dapat bertemu kembali dengan bulan ramadhan.

    Betapa tidak, di bulan ramadhan itu kesempatan terbaik untuk menata hati, berjiwa sabar, menutup mata dari penglihatan yang sia-sia, menutup telinga dari pendengaran yang tak bermakna, semangat untuk meringankan dan membuka tangan lebar-lebar untuk memberi dan menolong, peluang untuk menghilangkan egois dan keserakahan dan mengikis kesombongan serta memberantas kedholiman dan ketidakadilan.

    Ramadhan kembali datang menyapa, tertuju kepada orang yang beriman yang percaya akan banyak hikmah yang diraih dengan kehadirannya dan telah memenuhi syarat wajib menjalankan puasa.

    Beraneka sikap yang dilakukan setiap insan dalam menyambut hadirnya bulan suci dan Mubarak ini.

    Ada yang menjemputnya dengan biasa-biasa saja karena memang tidak bermakna bagi kehidupannya di dunia terlebih di akhirat.

    Ada yang menerima kehadirannya sebagai waktu untuk membebaskan tanggungjawab sebagai umat Islam, hanya melaksanakan tanpa ada upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitasnya.

    Ada yang menyambutnya dengan kebahagiaan dan suka cita, karena sebagai ladang untuk menebar benih dan bibit amal kebaikan, serta meraih dan mengambil segala apa yang dibawa bulan ramadhan untuk dinikmati dan dirasakannya.

    Momen ramadhan adalah kesempatan emas untuk semakin mengokohkan diri dari kondisi yang terdapat dalam firman Allah surat Ali-Imran 14 yang artinya “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.

    Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.
    Semoga kita termasuk golongan yang ketiga dan menjadikan ramadhan tahun ini untuk mencapai derajat takwa melengkapi seluruh amaliah yang telah dilakukan pada masa-masa sebelumnya.

    Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kekhilafan tahun lalu yang ta terhitung banyaknya.

    Menjadikan Al-Qur’an untuk ditelaah dan memahami maknanya dengan khatam berkali-kali, semakin memperluas jaringan kerja melalui silaturrahim, menambah suplai kekayaan tidak hanya materi tetapi rohani, dan terus menyebarkan ilmu-ilmu kebaikan walau hanya seuntai kalimat, terlebih dalam catatan-catatan tertulis, membuang jauh-jauh sikap mementingkan individu berubah menjadi orang yang gemar berderma, menjadi orang yang gemar mendoakan orang lain setelah diri dan keluarga, dan berbagai perbuatan yang bernilai ibadah yang mendapat pahala yang berlipat dibulan Ramadan ini.

    Selamat datang bulang yang mulia, bulan yang suci, bulan yang penuh kenikmatan dan keberkahan.

    Kehadiranmu akan mampu membawa diri kami menjadi orang yang mau berubah dari keadaan sebelumnya.

    Kedatanganmu telah menyuburkan persiapan kehidupan akhirat kami yang kering kerontang karena nafsu duniawi yang terlalu merajalela.

    Kau menyapa kami yang tengah merindukanmu. Kau muncul disaat noktah-noktah kesabaran hampir pupus dalam diri karena tidak tahan dengan episode fragmen kehidupan dunia yang tidak jelas arah yang dituju.

    Kau datang menghapus dahaga emosional yang tengah menderu, menghilangkan rasa lapar yang tak pernah merasa kenyang, membangkitkan senyuman yang bernilai sedekah yang hampir kalah dengan berkerutnya dahi dan menumbuhkan jiwa apa adanya setelah berkutat dengan perlombaan mengejar materi kehidupan dengan mengikuti arahan hawa nafsu.

    Selamat menjanlankan ibadah puasa hari ini…….. semoga amaliah kita hari ini mendapat ridho dari Allah SWT.