Pembangkangan Putri, Sop Ikan dan Wane oleh Muchlis Dj.Tolomundu


Perkisahan Muchlis Dj.Tolomundu

Blass … Seketika suhu panas kering menerpa begitu keluar dari pintu pesawat diapron Bandara Sultan Salahuddin, Palibelo.
Tampak kerontang seputaran bandara ditepi telukBima.

Setelah semua bagasi aman di dalam mobil, kami beriringan tiga mobil meluncur keluar dari bandara.

Rombongan kami 4 orang dari Jakarta dan 5 orang dari Rusia.Terbang dari Makassar, mampir hendak melihat bagian timur pulau Sumbawa. setelah terpukau menikmati eloknya alam Raja Ampat di Papua.

Di Bima kami disuguhi sekujur perbukitan seputar seberang bandara dominan coklat,warna tanah dan bebatuan.

Begitu gersang. Miskin hijau pepohonan. Tapi para tamu memang ingin melihat batu-batu. Bukan pepohonan hijau.

Tampak beberapa kawanan kerbau, sapi, kuda dan kambing dengan giginya mengais rumput kering didataran kaki pebukitan.

Merespon keluhan tamu asal Jakarta mengenai suhu, “Dua puluh menit sampaikota. Kamar hotel berAC,” kata Aman Jaharudin yang menjemput.

Eh baru tiga menit melaju dia mengarahkan mobil pertama yang dia setir sendiri berbelok kanan menanjak bukit,ternyata memasuki rumahmakan tak jauh dari bandara.

KENDURI IKAN

Juspinang dingin segar sepet menyambut kami.

Sembari menyedot habis isi gelas kesegaran,sebagian kami memuji tepatnya suguhan welcome drink—yang barangkali telah dipesan lebih dulu oleh Aman Jahar alias Mpore.
Isi gelas pertama tandas,tentu saja buntutnya kami meminta dibuatkan lagi juspinang yang mengejutkan itu.
Pemilik rumahmakan,HajiAswadnamanya,lebihbanyak tersenyum melihat para tamu yang kehausan. Sigap dia meminta anak buahnya menyiapkan lagi pesanan juspinang.
Pak Haji bertubuh gempal yang sebelumnya lama menjalani usaha kuliner di Bali mengisahkan, dulu buah pinang penting dalam kehidupan warga Bima. Laki perempuan biasa memamah buah pinang,daunsirih,sedikit kapur,terkadang gambir dan tembakau.Kini kebiasaan itu nyaris tidak dilakukanlagi.

Meyakini kebiasaan para tetua bahwa daging buah pinang berkhasiat menyehatkan, “Maka kami suguhkan dalam packaging yang berbeda,” kata Aswad.
Dengan raut gembira ia menjelaskan, rasa seger-asem-sepet yang menonjol dari jus pinang untuk pengondisian mulut dan indera cecap—seperti fungsiroti yang menetralkan—menjelang menyantap menu spesial rumah makan ini: sop ikan.

Kami ber12 sekaligus dengan 2 pengemudi duduk mengelilingi empatsisi meja kayu besar persegi panjang. Menunggu sop ikan!
Dari ketinggian pebukitan pandangan pada arah barat dihiasi oleh perairan teluk Bima. Pada tepian teluk sampai jauh tampak dataran pesisir seperti digambar dalam kerat kotak-kotak tambak bandeng dan garam mungkin lebih seribuan hektar luasnya. Mencelahi hamparan tambak itu, melintang. runway bandara sepanjang lebih 2000meter.
Kemudian, delapan mangkuk besar sop ikan, delapan ikan berukuran besar jenisikan karang—antara lain kakap merah dan kerapu—yang dibakar tanpa bumbu apapun tersaji dimeja. Juga udang dan cumi serta tumis kangkung.Semuadengankelengkapannya: sambel, lalap, dan lain-lain. Di atas meja tak terlihat bandeng,oi mangge pataha, dan uta maju. Saya pikir, mungkin bukan di sini tempatnya. Ada pici—semacam dabu-dabu.Cukuplah untuk sementara pelipur rindu cecap kuliner etnik khas.
Kemudian, makan siang bagai kenduri sop ikan.

Menu itulah yang jadi sasaran.Kuahnya sedap. Bening. Tercecap rasa segala bumbu. Rasa jahe dan sereh serta daun jeruk yang menonjol menyegarkan kuah lezat itu. Dagingnya lembut. Kesegaran ikan dan cara memasaknya memungkinkan potongan-potongan daging ikan dari menu itu masih terasa teksturnya pada lidah. Saya menikmati lemak manis gurih pada kepala ikan kakap.Berulangkali sop ikan dituangkan dari mangkok-mangkok besar kemangkok kecil para tamu.
Seharusnya porsi untuk 20 orang itu diludeskan oleh hanya12 orang.
Itupun teman-teman dari Rusia yang semuanya berpostur besar tegap masih menghunus garpu untuk menuntaskan ikan-ikan bakar.Mereka tertawa heboh menghadapi sajian. Sungguh kenduri ikan—melulu ikan. Adapun nasi dan beberapa jenis sambel kecap, terasi, tomat, pici diminati hanya oleh para penjemput. Para tamu tampak menikmati kelezatan rasa daging ikan murni.

Usai berpilin lidah dengan kesegaran ikan-ikan besar dan formula bumbu sop ikan yang sedap segar itu, Haji Aswad menemani ngobrol ringan dengan menyajikan buah pisang. Dan selembar peta. Ia menunjukkan dari laut mana mengambil ikan-ikan segar tadi. Ternyata bukan dari perairan teluk di depan rumah makan. Melainkan dari teluk berperairan lautdalam, yaitu Teluk Waworada,tiga jam dengan mobil menempuh perjalanan menanjak melewati jajaran gunung kearah timur dari pertigaan bandara.

Pak Haji menyebut salah satu tempat: Karumbu.

Saya ingat nama itu. Sebulan sekali, pada masa silam, seorang bapak dan anaknya datang ke rumah kami membawa banyak udang besar. Bisa seukuran lengan bocah.Disebut Kabalu. Mereka dari Karumbu. Menginap semalam – dua malam di rumah.Bulan depan mereka datanglagi. Dengan Kabalu lagi.Sesekali dengan telur penyu.

Foto Cover ; Elok Wali Gani