Sumbawa dan Selangor serta Lelaki Tua dari Laut oleh Muchlis Dj.Tolomundu (11)

GOSONG BERSIASAT
Burung buruk rupa namun paling banyak digunjingkan, dinilai eksotik dan karena itu menjadi primadona, adalah burung Gosong (Megapodius reinwartdtii). Burung berbulu legam dengan segala keunikannya ini diyakini warga setempat mengandalkan bantuan jin untuk membangun
sarangnya. Juga untuk mengerami telur sampai menetaskan anak.


Banyak kisah seputar keunikan gosong. Sarangnya membukit sampai setinggi lebih dua meter, dan telurnya tiga kali lebih besar dibanding telur ayam. Sedangkan bentuk tubuh burung langsing ini lebih kecil ketimbang ayam. Sarangnya banyak menyebar pada bagian tertentu di seantero Moyo. Jarak antara satu sarang dengan lainnya sekitar 200 meter. Tahun pertama, tinggi sarang mungkin hanya 60 cm. Kemudian berangsur meninggi hingga lebih 2 meter. Dibangun dari campuran tanah, sampah hutan dan ranting kayu, umumnya sarang berbentuk kerucut dengan garis tengah dasar 6,5 meter.

Dengan kakinya, Gosong mengais tanah, menendang ranting, mengumpulkan serasah. Burung bertungkai kaki tinggi kurus ini—karena itu tak memerlukan bantuan jin—punya kemampuan menendang sejauh 5–7 meter. Dengan daya mampu tendangan itu gosong memobilisasi material untuk membangun rumahnya. Di sarang itulah induk Gosong bertelur pada November sampai Maret. Satu induk bertelur paling banyak 9 butir setiap musim.


Penduduk Labu Aji dan Sebotok—dua desa di pulau Moyo di luar kawasan konservasi taman buru—percaya induk gosong segera pingsan setelah bertelur akibat terlampau besar telurnya. Itu sudah menjadi cerita turun temurun— yang berdampak tidak mencerahkan pikiran warga setempat.Sesungguhnya induk gosong tidak pingsan, karena telurnya keluar dalam keadaan lembek. Lapisan paling dalam dan paling bawah di dasar sarang adalah tanah abu yang cukup gembur, selalu bersuhu panas, dan tidak dicapai rembesan air pada musim hujan. Di sanalah induk gosong bertelur.

Kulit telur menjadi keras kemudian oleh proses alam dengan bantuan panas tanah abu, telur lantas mengalami proses inkubasi sampai menetaskan anak tanpa induknya mengerami. Biasanya induk gosong akan keluar dan menutup sarangnya segera setelah bertelur. Sang anak keluar sendiri dari sarang sekitar 10 hari kemudian dengan sehat bugar.
Lapisan tengah sarang gosong adalah tanah humus yang selalu lembab bercampur akar-akar kayu dan serasah lainnya.

Fungsinya menahan rembesen air ke tanah abu di bawahnya. Lapisan ketiga, tanah bercampur daun kering, ranting dan dahan kering serta serasah lainnya. Lalu tanah tak padat, dengan daun kering, di lapisan paling luar sarang.Bagian tertentu sarang dilubangi oleh induk gosong untuk masuk bertelur. Kemudian ditutupnya kembali setelah keluar sarang usai bertelur. Pada sarang itu dibuatnya 4 – 7 lubang penyesatan—bukan yang mengarah ke lokasi telurnya. Penduduk menduga, induk gosong mencoba mengelabui biawak. Atau mungkin menyiasati kehendak manusia pemburu telur. “Bahkan burung berkemampuan merekayasa benteng perlindungan bagi keturunan,” kata Ir. Sigit Wratsongko, Kepala Dinas Kehutanan Sumbawa.


Di Pulau Moyo sepintas semua tampak tenang. Keseluruhan pulau hening senyap ditangkup hijau lebat pepohonan. Tetapi ada kalanya gaduh para pemburu tak berijin mengganggu kehidupan burung gosong. Populasinya sekarang diperkirakan tinggal 3.000 ekor. Penduduk Labu Aji terbiasa memburu telur dan burung yang mereka sebut Bertong itu. Bermukim di luar kawasan konservasi, mereka menerobos batas kawasan—kadang menginap seminggu dalam kawasan—untuk mengambil sarang Tawon dan
memerah madunya, maupun memburu Rusa/Menjangan dan menjerat Gosong. Ketika tiba musim hujan, masa bertelur Gosong, para pemburu biasanya panen telur terlarang itu.