Sumbawa dan Selangor serta Lelaki Tua dari Laut oleh Muchlis Dj.Tolomundu(7)


• PAK LANGKANG
MENYUSURI KOTA, tidak tampak ada hiburan malam kecuali warga berbelanja atau makan. Ada beberapa spot penjual makanan dengan tenda kaki lima. Setelah toko-toko tutup praktis kota ini tidur.
Sejak dulu kota ini miskin hiburan, apalagi saat pandemi. Tapi, dulu, di rumah tertentu, di balik pintu tertutup, kerap berlangsung permainan catur atau kartu remi—bisa sekadar game, bisa juga ajang taruhan.

Dulu, ada dua rumah di tengah kota tempat mengobrol sore atau malam. Rumah Pak Langkang, saudagar ternak berjejaring nasional. Dua putranya teman saya satu SMA. Seorang seangkatan saya, satunya adik klas. Dan mereka jagoan main pingpong. Para juara tenis-meja.
Hampir tiap hari saya mengobrol dengan para pengacara dan Pak Saudagar. Selalu di lantai atas rumah bercat putih biru di jalan protokol itu pada sekitar hari-hari persidangan mengadili para pemuda yang didakwa sebagai pelaku Peristiwa November 1980.


Kediaman Pak Langkang menjadi markas rombongan teman-teman pengacara dari Jakarta yang diberi kuasa sebagai pembela.
Rumah yang lain, dengan catatan bila tuan rumah sedang tidak berkelana ke mancanegara, itulah kediaman sastrawan Dinullah Rayes, sang penyair pengembara. Satu dari banyak puisinya memetaforakan rakyat yang berratusjuta, pemilik kedaulatan dan suara, tetapi hajat hidupnya tidak mahapenting bagi penguasa—kecuali sebagai angka statistik ketika sensus dan penambah suara saat
pemilu; Mereka, rakyat itu, adalah—metafora Rayes dalam puisinya—kecoa belaka.

Begitulah, ketika negeri dibelenggu penguasa otoriter, para tamu mudah puas batin disuguhi keindahan rasa atau bahkan jalan sekadar pelampiasan rasa melalui diksi dan frasa puisi.

Bila kemudian lapar, tinggal memampiri kedai nasi goreng daging rusa di pojok perempatan tak jauh dari rumah Rayes. Menu ini digandrungi warga dan pelancong, selalu laris sampai lewat tengah malam. Saya menikmati kekenyalan serat daging rusa dalam aroma bawang putih bersama sahabat Sigit Wratsongko.
Kepala Dinas Kehutanan itu melahap suguhan terlarang, juga dengan nikmat. Itu kala dahulu. Sekarang, saat Anda membaca kisah ini, tiada lagi penjual nasi goreng daging rusa. Mungkin kian sulit mendapatkan daging rusa (Cervus Timorensis). Kerap disebut Rusa Timor atau Rusa Jawa, satwa itu memang termasuk dalam daftar annex CITES (Convention on International Trade in Endangered Species), yaitu daftar satwa yang harus dilindungi dan terlarang untuk diburu maupun diperdagangkan.
Meratifikasi Cites, bunyi UU dan PP kita senafas dengan itu. Tapi ada celah untuk menangkarnya, diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan. Sebagian cucu dari rusa yang ditangkar menjadi hak penangkar—bisa diperdagangkan.

Pada masa lalu warga kampung tepian kota mudah menemukan rusa. Sering terjadi pada musim kemarau ketika rusa mesti keluar dari hutan turun mencari air ke dataran seputar tepi hutan atau kaki gunung. Bisa jadi juga populasi rusa menurun. Mungkin juga warga semakin mematuhi larangan berburu rusa. Aneh juga, warga doyan daging rusa tapi tidak tampak ada upaya pemerintah atau swasta
membudidayakan rusa.

Logika awam, CITES melarang memburu dan memperdagangkan rusa tentu untuk melindungi populasinya. Mestinya budidaya rusa bisa mengurangi tekanan populasi sekaligus memenuhi kebutuhan daging. Penangkarannya menjadi kreasi obyek wisata yang memikat.

Menginap di kota ini, menjelang tidur pikiran melayang oleh perihal budidaya rusa tanpa melanggar aturan CITES, UU, dan PP. Membayangkan Istana Bogor dengan sebagian halamannya bertaburan rusa, lebih sebagai klangenan penghuni istana—yang mungkin diam-diam tak hirau larangan. Dan menikmati daging rusa secara berkala. Eh, mungkin istana digolongkan sebagai penangkar rusa. Dagingnya lezat sebagai sop segar dan gurih sebagai dendeng, meski berserat lebih lebar dan kenyal. Sejak lama jadi menu favorit di tiga resto sisi kiri jalan menuju pusat kota dari Bandara Pekanbaru, Riau.

Ah, sudah waktunya tidur. Investasi malam untuk meraih esok yang lebih segar. Begitu kata bos saya pada masa yang telah lewat.