Sumbawa dan Selangor serta Lelaki Tua dari Laut oleh Muchlis Dj.Tolomundu

Kisah ; Gunung dan Batu-Batu.(episode 1)

Bumi bekas wilayah Kesultanan Sumbawa. Memiliki seluruh dan semua syarat untuk menjadi makmur dengan penduduk dua kabupaten tak lebih dari 700 ribu—yang kehidupannya tidak mencerminkan limpahan kekayaan bumi yang dimukiminya.

Sebagian bahkan meninggalkan anak istri, mengais remah di negeri-negeri jiran. Luasnya 8.400 km2, lebih luas sedikit dari Kesultanan Selangor—negeri makmur berpenduduk hampir 6 juta yang menjadi ‘pusat’ dari Federasi Malaysia.

Dua kesultanan ini, sama warga dan para sultannya, berdarah Gowa-Makassar dan Bugis. Kesultanan Sumbawa kala berabad silam, puluhan tahun lebih mula lahir ketimbang Selangor.
Tiga sisi yang hampir mengelilinginya adalah laut. Di timurlaut ada teluk terbesar dengan ragam isinya, ada Moyo di sana dan pulau pulau kecil bertebaran.

Garis pantainya panjang dan di sebelah barat adalah selat dalam dan lebar—juga dekat dengan mulut selatan Selat Lombok dan Selat Makassar sebagai Alur Laut Kepulauan Indonesia—di jalur perdagangan dunia : Pasifik – Samudera Hindia dan sebaliknya.

Seperti Pulau Batam di dekat Selat Malaka. Semula pulau kosong, lantaran posisi geografisnya sejak 1970an dikembangkan awalnya hanya sebagai base logistik kontraktor bagi-hasil Pertamina dan terminal penyimpanan minyak. Akan halnya Selangor—sama dengan Singapura—terletak di tepi Selat Malaka yang dangkal dan sudah sangat padat serta tidak lagi layak untuk masa depan ketika kapal kapal antar samudera harus dibuat lebih meraksana demi efisiensi biaya logistik.

Memiliki hamparan dataran luas, sebagian menjadi padang rumput bagi ternaknya. Sebagain lagi, dengan potensi air yang meruah, menunggu tindakan teknologi irigasi dan pertanian—menyusul bendungan besar yang ada dan sedang dibangun: Mamak, Bintang Bano, Tiu Kulit—untuk ekstensifikasi lahan pangan.

Hutan & pegunungannya berbaris berjajar-jajar dengan keanekaragaman hayati dan keragaman kandungan mineralnya.


SEKELILING tampak dominan coklat. Warna tanah. Kerontang.
Baru saja menyeberangi Selat Alas, dari Pelabuhan Kayangan, Lombok. Keluar dari area Pelabuhan Poto Tano. Lantas bimbang di simpang jalan ketika sejenak berhenti di pertigaan arah Sumbawa Besar – Taliwang.


Rada malas menengok pemandangan sisi kiri jalan. Di perairan celah gili ada monumen kegagalan di sana : usaha kami membudidaya mutiara yang dimodali dengan kelonggaran finansial dari Ismail Husni dan kesiapsediaan teknologi dari Busra Hasan tinggal kisahnya saja.

Timbul juga rasa enggan berbelok ke kanan untuk sekadar memampiri kenalan lama di Bappeda Sumbawa Barat yang sudah menjabat bupati. Lain waktu bisa mampir. Tidak juga sekadar singgah menyapa seorang pemilik hotel bungalow di bibir pantai Teluk Jelange.

Ketika belia, ia adalah termuda di antara mahasiswa dan pelaut AL yang pada pertengahan Juni 1984 mencoba merenangi Selat Lombok. Start dari pantai timur Karangasem, Bali menuju Ampenan, pantai barat Pulau
Lombok. Dari Irian Jaya saya mampir di Karangasem hendak menyaksikan ikhtiar itu. Turut menyeberang, tentu dari atas speedboat Angkatan Laut. Mereka berencana dalam 11 jam merenangi arus dan gelombang di antara hiu buas pada perairan sangat dalam dengan jarak lebar selat 43 kilometer. (Majalah Tempo, 23 Juni 1984).


Perempuan yang bersemangat itu adalah cicit orang terkaya Lombok sampai dekade 1970an. Moyangnya memulai usaha sebagai pekerja konstruksi di zaman akhir kolonial, kemudian bisnisnya merentang dari Surabaya – Banyuwangi – Lombok. Tuan dari amat luas sawah di Lombok dan tuan atas banyak sekali kavling serta properti di kiri kanan jalan dari pelabuhan Ampenan hingga Labuhan Haji di Lombok Timur. Bila hendak membeli tanah atau properti warisannya, notaris mesti minta persetujuan lebih 100 cucu dan cicit yang bermukim di berbagai negara.

Salah seorang di antara cucunya adalah Achmad Baiquni, menjabat direksi berbagai bank BUMN—terakhir Dirut BNI. Situs kedaton Sang Datuk yang berarsitektural art-deco dengan kombinasi atap gaya lokal, setelah dipugar kini kembali mentereng menjadi Rumah Langko. Mestinya figurnya jadi inspirasi menggelorakan kewiraswastaan. Tapi namanya tak secuilpun diheritagekan, misalnya sekadar disematkan sebagai nama sepotong jalan di Mataram. Mengapa? Sudahlah, nanti saja kita bahas. Dan nanti saja memampiri cicitnya di Jelange.*