Walikota Bersih di Negeri Antah Berantah oleh Dr.Firmansyah

    Walikota Bersih Antah Berantah

    M Firmansyah.

    Di negeri antah berantah. Ada kota kering dan tandus. Kota mungil dikelilingi gunung. Panas, berdebu namun tetap dinikmati warga kota. Mau apa lagi.

    Kota kecil baru saja mulai bergerak. Dipimpin anak muda. Dia walikota termuda. Baru saja dipilih.

    Dia ingin dedikasikan hidupnya tuk kotanya. Tidak perduli keluarganya.

    Anggaran kota terbatas. Visinya terbang jauh. Dia tanggalkan hasrat pribadi demi masyarakatnya. Kota ini sembrawut. Walau lampu kelap kelip. Sampah plastik terbang kesana kemari.

    Taman-taman kota tidak terawat. Bunga dan ilalang bersaing tumbuh. Seperti tidak bertuan. Kota anta berantah seperti kota mati. Padahal katanya mau majukan pariwisata.

    Langkah sang walikota muda diawali prinsip. Jadikan kota kembali asri. Dia sendiri pimpin, turun lapangan. Mengajak warga hidup bersih. Gerakan ayo bersihkan halaman sendiri digelorakan.

    Pemilik ruko, pimpinan lembaga dan perusahaan dihadirkan. Satu pintanya bersihkan halaman dan jalan depan halaman masing-masing. Pedangang kaki lima bertanggung jawab, tuk kebersihan skitar tempat jualnya.

    Proyek pengolahan sampah jadi prioritasnya. Entah jadi kompos, energi atau apapun. Terpenting tidak ada lagi sampah di sembarang tempat.

    Dia sendiri turun. Dipagi buta, temani petugas kebersihan. Dia perbanyak petugas kebersihan. Dia sejahterakan mereka.

    Taman Kota ditanami bunga-bunga indah. Satu kantor satu air mancur slogannya. Bahkan dia beri penghargaan bagi kantor, Swasta dan pemerintah yang indah air mancur dan taman bungannya.

    Sungai-sungai kota ditata. Berdampingan dengan food court Kota. Orang menikmati kopi, makanan dengan pemandangan sungai dan gunung. Inilah hakekat Kota. Bersih, indah dan sibuk ekonominya.

    Alhasil. Masyarakat daerah tetangga sering kesini. Menghilangkan penat setelah bekerja. Akhir pekan, hotel-hotel terisi penuh. Home stay mulai bermunculan. Mereka temukan keindahan dan ketenangan berbiaya murah.

    Warga kota terus diajar hidup bersih. Mulai dari dirinya, dia sendiri memulai. Sementara urusan birokrasi dititipnya ke sekertaris daerah.

    Bunga-bunga mulai mekar. Air mancur kota memberi keteduhan. Sang walikota memandang syahdu keindahan kota.

    Dia walikota sholeh dan berintegritas. Dia Hargai kebersihan tanpa sisa. Dia ingat pesan agamanya, kebersihan bagian dari iman. Walahu’alam.