Puing-Puing Waktu (11/Tamat) oleh Muchlis Dj.Tolomundu

BEBERAPA TAHUN setelah nyaman berbahagia di rumah yang jembar itu, suami Uwak wafat. “Semua keluarga tabah menerima,” kata Ibu mengabariku melalui telepon.

Ihwal duka dan belasungkawa lah yang kian sering saling dikabari di antara teman- teman seiring makin tua usia kami. Daniel, temanku membolos, memberi kabar bahwa Jamil tewas dalam kecelakaan sepeda motor. Joewel, saudara kembar Daniel, meninggal menyusul Johanes kakak mereka. Zulkifli, yang kemudian menjadi arsitek spesialis masjid, mengabari adiknya wafat.

Tujuh tahun setelah suaminya berpulang, lalu Uwak menyusul. Mangkat dengan tenang di tengah semua anak dan mantu serta para cucu yang menungguinya di rumah sakit.

Ang juga mengirim pesan bahwa Fung sekeluarga sedang berduka. Dalam ingatanku, sekeluarga Fung pindah ke Jawa setelah semua tiga kakak-adik ini lulus SD. Belum genap 10 tahun menetap di Jawa santer kudengar mereka menjadi satu keluarga dari 5 Terkaya Indonesia. Posisi yang kemudian selama puluhan tahun hingga kini tetap bertahan. Dan selalu menjadi berita media massa mainstream maupun media sosial.

“Papanya Fung meninggal dunia karena sakit,” Ang menulis pesan. Kubayangkan Ang—yang memilih nyaman di kampung dan meneruskan toko ayahnya—mungkin masih memendam hasrat masa bocah SD. “Sekeluarga Fung datang ke kampung dengan jet pribadi membawa abu jasad mendiang.” Begitulah Ang menutup pesannya.

Belakangan Fung sendiri mengirimiku kabar, abu jasad papanya (di masa lalu biasa kusapa ‘Om Restoran’ itu) telah ditabur oleh anak cucu di tengah perairan teluk tepi barat kota ini . “Itu pesan Papaku ketika sakit. Abunya harus ditabur di teluk di kampung halaman,” tulisnya.

Pesan dari Fung tadi, sungguh kuingat dengan pasti, ketika itu tak urung telah memaksaku membacanya berulang-ulang. Teringat lagi olehku bocah temen-temen TK dan orangtua mereka yang tak pernah kembali setelah karnaval truk berkelambu

melambai itu. Kuketik jawaban untuk Fung. “Pada zaman ini, kita tidak tahu pentingnya seseorang masih memiliki kampung halaman. Tapi, Papamu ada benarnya. Mau di mana lagi kampung halaman kita—tempat kita merasa berakar dan bertaut dengan puak maupun leluhur, sedangkan luka dan gembira masa silam kita, juga kakek nenek kita lahir, hidup, mati dan dikuburkan di sana.”

Memiliki tempat untuk kembali, tempat terakhir yang dikehendaki—sebelum akhir……….

Hasrat dan kerinduan Om Ima yang tak pernah sanggup ia raih hingga kemarin, ketika virus maut itu merenggutnya. medio Bima-Labuhan Bajo 2020