Ramadhan Yaa Ramadhan (9)

    GEMAR BERDERMA, MENGIKIS KEKIKIRAN (9)
    Oleh : Dr. Muhammad Irwan H. Husain, MP.

    Ramadhan telah memasuki fase sepuluh hari terakhir, dimana fase ini ramadhan mencurahkan seluruh berkah dan hikmah yang tersisa bagi manusia beriman yang berpuasa. Beruntunglah manusia beriman yang berpuasa masih bersama ramadhan hingga fase ini. Oleh karenanya, mereka mengurangi segala kegiatan yang bersifat duniawi, berpacu untuk mengejar keberkahan yang dapat diraihnya. Ia termotivasi untuk melakukan segala amal baik yang dapat membebaskannya dari api neraka, mereka mengurangi istirahat malamnya untuk menanti dan menggapai turunnya lailatul qadar atau malam kemuliaan pada tanggal-tanggal ganjil. Ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah ditingkatkan frekuensi dan kualitasnya, demikian halnya dengan ibadah yang berhubungan dengan sesama manusia.

    Salah satu hikmah yang terlihat dalam bulan ramadhan adalah timbulnya rasa kebersamaan yang muncul dalam setiap diri baik yang berada (kaya) maupun yang biasa membantu sesama yang keadaannya belum lebih baik (miskin) bahkan dari orang miskin sekalipun saling membantu sesamanya. Sikap keperdulian kepada sesama diwujudkan dalam bentuk menyalurkan harta yang dimiliki baik dalam bentuk barang maupun uang dalam jumlah yang sedikit banyaknya relatif. Disadarinya bahwa harta dan kekayaan yang dimilikinya hanyalah titipan Allah dan bersifat sementara. Di dalam dirinya selalu teringat perintah Allah untuk berinfaq, mendermakan hartanya kepada jalan Allah. Hatinya selalu tersayat dan bersedih bila melihat saudara seiman yang datang keluar masuk rumah atau berada dipinggir-pingggir jalan untuk meminta-minta. Dia memahami pula tentang hadis nabi yang menyatakan sangat terhina orang yang melakukan minta-minta kecuali dalam keadaan terpaksa.

    Memperhatikan keadaan sesama dengan berderma merupakan perintah agama yang wajib dilaksanakan oleh manusia terutama yang tergolong kaya. Allah berfirman “Dan nafkahkanlah (belanjakanlah harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (Al-Baqarah; 195). Orang yang sering berderma sangat takut harta titipannya itu diambil kembali oleh Allah dengan cara yang tidak semestinya, seperti tertimbun oleh longsoran tanah, hangus terbakar oleh api, terseret dan dibawa oleh derasnya banjir, hancur runtuh akibat gempa bumi. Ia takut harta itu akan membawa fitnah bagi dirinya, sehingga kerap ia keluarkan untuk jalan Allah baik yang bersifat wajib, sunah maupun sukarela. Ia takut belum mendapatkan aliran pahala yang terus mengalir bila harta yang ada belum diberikan untuk kepentingan orang lain sebagai amal jariahnya.

    Rasulullah saw bersabda : ”Rusak binasalah orang-orang yang memperbanyak harta, kecuali orang yang mengkhususkannya (membelanjakannya) untuk kepentingan hamba-hamba Allah, sedemikian dan sedemikian, tetapi amat sedikit yang bernuat semacam itu (HR. Bukhari dan Muslim). Bagi muslim beriman dan berpuasa, bulan ramadhan merupakan kesempatan terbaik untuk menambah kegiatan untuk berderma. Kesempatan emas untuk menyalurkan harta, uang dan kekayaannya untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Dia tidak mau hidupnya terbebani oleh banyaknya harta yang tidak disalurkan, yang membuatnya dada menjadi sempit dan hati suntuk sehingga tidak dapat memperoleh nikmatnya hidup. Di sekelilingnya ia melihat banyak orang miskin yang dapat menjalani kehidupan mereka dengan apa adanya tanpa memikirkan harta yang dimilikinya. Ia tidak mau dijuluki sebagai orang yang kaya harta tetapi mendapat predikat dari Allah orang yang menyandang kemiskinan secara spritual. Imam Ghazali mengatakan pandanglah dunia ini dengan cara yang tepat. Jangan engkau sepenuhnya menyandarkan hidupmu kepada harta kekayaan. Jika engkau terbiasa menggantungkan diri pada kekayaan, maka pasti akan bersedih manakala berada dalam kemiskinan.

    Sikap berderma merupakan upaya manusia untuk menata hati agar terbebas dari perbuatan tercela. Berderma merupakan terapi untuk menghindarkan diri dari penyakit hati berupa sifat kikir, pelit dan bakhil yang merupakan sifat yang tercela dan dapat menimbulkan dosa. Orang yang pelit, kikir dan bakhil menimbulkan kekerasan dalam hati, kehilangan rasa kasih sayang dan suka bertindak sekehendak dirinya. Sifat kekikiran telah menimbulkan kedengkian dalam diri orang miskin terhadap orang kaya, yang berdampak pada ketidakstabilan sosial kemasyarakatan. Sifat ini sangat tidak disenangi oleh Allah sebagaimana firman-Nya “..Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka..(An-Nisa 36- 37).

    Sifar kikir dan bakhil yang melekat pada diri seseorang merupakan sarana baginya untuk menghadirkan penyakit cinta terhadap harta. Jikapun ada rasa iba kepada orang lain, diberikannya dengan tidak ikhlas dan memilih yang didalam pandangannya tidak bermanfaat dan jelek. Orang yang kikir, pelit dan bakhil sesungguhnya telah melalukan perbuatan dholim kepada orang lain yang membutuhkan. Rasulullah saw bersabda : Jauhilah kedhaliman karena akan menyebabkan kegelapan di akhirat. Dan jauhilah kikir, karena kikir sifat yang telah membinasakan umat-umat terdahulu sebelum kamu (HR. Muslim). Orang yang kikir dan kaya, ia telah mampu membangun istana yang penuh dengan fantasi dan impian, Kehidupan dunia yang sementara memang telah digapainya, namun kehidupan hakiki di akhirat sangat jauh dari jangkauannya. Lagi-lagi Rasulullah mengingatkan :”Tidak akan masuk surga seorang yang kikir dan bakhil”.

    Ramadhan yang telah berada pada fase terakhir, merupakan kesempatan terbaik bagi penyandang sifat kikir dan bakhil untuk berhijrah menjadi seorang dermawan. Waktu yang tersedia dapat dijadikan pembelajaran untuk dilanjutkan pada bulan-bulan setelah ramadhan untuk merubah julukan cinta dunia dan harta menjadi sosok yang mendarah daging dengan sifat kedermawanan. Allah berfirman “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (Al-Hasry, 9). Dengan kedermawanan akan menghadirkan banyak saudara yang semula menjauh menjadi dekat, yang semula ada tirai pembatas menjadi satu kesatuan yang kuat. Al-Ghazali mengatakan orang akan terbebas dari bakhil, jika dia tidak berat membelanjakan harta itu menurut syara dan akal. Sedangkan derajat dermawan tidak akan diperoleh, kecuali dengan membelanjakan harta melebihi kewajiban syara dan kehormatan. Semoga pembelajaran di bulan ramadhan dapat menumbuhkan sosok yang berjiwa dermawan sekaligus mengikis sosok-sosok yang memiliki sifat kikir, pelit dan bakhil.
    Ya, Allah ketuklah jiwa dan diri ini untuk bangkit menjadi orang yang gemar berderma, tidak cinta harta dan abai terhadap keadaan sesama. Jauhilah kami dari sifat kikir dan bakhil yang justru dapat merugikan serta menjauhkan kami dari baunya surgaMu. Aamiin YRA.