Ramadhan Yaa Ramadhan (8)

    L-QUR’AN CAHAYA KEHIDUPAN, MENEMBUS KELAMNYA DUNIA
    Oleh : Dr. Muhammad Irwan H. Husain, MP.

    Perjalanan bulan ramadhan secara perlahan akan menuju batas waktunya bersama kita di tahun ini. Ramadhan masih setia untuk mencurahkan segala keberkahan yang dimilikinya untuk orang beriman yang berpuasa.

    Bulan ramadhan tidak bisa dilepaskan dari pedoman kehidupan manusia yaitu Al-Qur’an, yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril sebagai petunjuk hidup manusia di bumi. Al-Qur’an menyinari bumi dengan cahayanya, menyirami manusia dari kekeringan jiwa, membawa keberkahan, petunjuk bagi manusia untuk memilih jalan keselamatan atau kehancuran. Kitab yang memberi safaat, pembela dan memberikan kedudukan yang tinggi bagi manusia di hari kiamat dan lain-lain keutamaan yang dimiliki oleh Al-Qur’an.

    Allah berfirman ….”maka ketahuilah barangsiapa mengikuti petunjukKu, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka (Qs.Taha; 123)

    Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah pertama kali pada tanggal 17 Ramadhan, setiap hari dikumandangkan melalui corong-corong masjid maupun di rumah pribadi.

    Ratusan juta umat manusia penganut agama Islam tidak diragukan lagi sering membaca, meskipun masih ada juga orang yang tidak bisa membacanya. Kita bersyukur dan beruntung termasuk orang yang bisa membaca terlebih memahami artinya dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

    Orang beriman yang gemar membaca Al-Qur’an, hatinya selalu terpaut dan bergetar seluruh badannya bila mendengar Al-Qur’an disenandungkan secara tartil dan berirama, menyejukkan dan menentramkan jiwanya.

    Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetar lah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambah lah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal”.(Qs. Al-Anfal; 2).

    Rasulullah saw bersabda “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya” (HR. Muslim dari Abu Umamah).
    Bagi orang yang beriman dan taqwa, telah menjadikan membaca Al-Qur’an sebagai kebutuhan mutlak yang lebih dari sekadar isi dan kandungannya. Atas petunjuk Al-Qur’an dia melalukan hal-hal yang baik dan menjauhi hal-hal yang telah dilarang.

    Tidak ada satu kegiatan pun yang dilakoninya lepas dari petunjuk Al-Qur’an. Dia menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an dan menjalankan perannya sebagai pemimpin, memutuskan suatu perkara dengan adil, menjalani aktivitas ekonomi dengan jujur, sederhana, tidak curang dan jauh dari riba.

    Tidak menumpuk harta dan kekayaan dengan cara manipulasi, korupsi dengan menghalalkan segala cara dan monopoli. Gemar menyalurkan zakat dan sedekah dan berpihak pada orang miskin, tidak memamerkan harta, keturunan, menghindari riya dan tidak ingin dipuji, tidak mengejar jabatan dengan menyikut dan mendholimi orang lain.

    Al-Qur’an telah mendarah daging dalam dirinya, sehingga umat-umat yang taqwa ini mampu menata kehidupannya dengan baik dan benar.
    Bagaimana dengan kita? Apakah kita telah mampu mencapai seperti orang yang bertaqwa di atas?.

    Kita bertanya ada diri sendiri apakah ketika Al-Qur’an dikumangdang kan hati kita bergetar mendengarnya? Apakah Al-Qur’an yang dibaca dan dilombakan telah mampu diimplementasikan dengan baik dan benar?. Jika, sudah kenapa sering terjadi berbagai malapetaka dan musibah sehingga alam sering memuntahkan isinya yang melanda di depan mata manusia?.

    Kenapa kehidupan manusia penuh dengan keresahan dan kegelisahan?. Mengapa Al-Qur’an sebagai cahaya kehidupan seolah tidak seindah dan tidak menarik sebagaimana mestinya? Mengapa kebanyakan manusia beriman mengaku Al-Qur’an sebagai pedoman hidup justru melakukan berbagai tindakan berlawanan dengan Al-Qur’an?.
    Untuk menjawab sebagian kecil rangkaian pertanyaan di atas adalah manusia wajib kembali kepada Al-Qur’an. Jika manusia terlambat menyadari dan menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk yang terpercaya, maka bumi akan semakin kelam.

    Kehidupan manusia semakin tidak terarah, kedamaian dan ketentraman hidup hanyalah fatamorgana, kesejahteraan yang digapai hanyalah kepalsuan, kekayaan dan kemiskinan semakin berlomba untuk meraih kemenangan, kedustaan dan ketidak adilan semakin merajalela.

    Al-Qur’an telah memberikan solusi tepat dan jitu sebagai petunjuk untuk memecahkan persoalan di atas. Manusia modern sekarang harus mampu memainkan instrumen dalam menampung setiap tetesan dan hikmah-hikmah yang terdapat dalam Al-Qur’an.

    Kemajuan hakiki dari proses pembangunan manusia bukan diindikasikan oleh adanya gedung mewah dan kemajuan teknologi. Namun kemajuan hakiki hanya dapat diperoleh dengan rangsangan dan dorongan Al-Qur’an.
    Manusia beriman masa kini harus menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya yang menerangi dunia tempat kehidupan manusia yang makin terasa kelam. Cahaya Al-Qur’an harus mampu menembus bumi dari kelamnya aktivitas manusia yang terus menimbulkan berbagai musibah dan malapetaka.

    Kita berupaya untuk menghindari ramalan Rasulullah saw yang artinya “Akan keluar suatu kaum yang mereka meminum Al-Qur’an seperti mereka meminum susu” (HR. Thabrani). Hadis ini mengisyaratkan bahwa “kelak akan bermunculan orang-orang yang suka membaca Al-Qur’an dengan lagu yang indah dan diiringi suara emasnya dan membuat pendengarnya terkagum-kagum.

    Namun, sayangnya mereka tidak memikirkan sama sekali bagaimana dan apa makna yang terkandung di dalamnya. Bagaikan orang yang minum susu, karena sudah paham kalau susu itu enak, maka pada waktu meminumnya tidak pelan-pelan, tapi langsung ditelan begitu saja.

    Hadis lain Rasulullah saw bersabda “Kelak ada tiga golongan yang akan diseret oleh Allah SWT ke neraka yaitu (1) orang yang mati dalam peperangan agar disebut pahlawan; (2) orang yang membaca Al-Qur’an agar disebut Qori; (3) orang yang menginfakkan hartanya agar disebut dermawan. (HR. Abu Hurairah)


    Ramadhan masih bersama kita, terus sama-sama meyisishkan waktu sesaat untuk menfokuskan membaca Al-Qur’an dan diaplikasikan dalam kehidupan. Cahayanya dapat diraih dan mampu menghempas kelamnya kehidupan dunia yang penuh permainan dan sendagurau ini.

    Kita terus manfaatkan sisa-sisa keberkahan ramadhan yang melimpah dengan membaca dan memahami maknanya, kita terus baca pada bulan lainnya, agar Al-Qur’an selalu terpatri dalam jiwa. Ya Allah, sinari tubuh dan raga ini dengan cahaya Al-Qur’an. Terangi dunia ini dengan sinar Al-Qur’an, jadikan ia sebagai penyejuk hati dan jiwa kami, jadi penenang ketika susah, jadi obat ketika sakit.

    Jangan Engkau biarkan kami menjadi gemar membaca tapi tidak mengerti makna, jangan jadikan kami mengabaikannya ketika kami mengejar kesenangan kehidupan dunia. Jadikan hati kami selalu rindu dan terus memegangnya setiap hari, ridhoi ya Allah apa yang kami ikhtiarkan, berikan pahala yang berlipat bagi kami terlebih di bulan ramadhan ini. Aamiin YRA.

    Selamat Berbuka Puasa.