Ramadhan Yaa Ramadhan (4)

    MENAHAN DAN MEMBATASI KEINGINAN
    Oleh : Dr. Muhammad Irwan H. Husain, MP.

    Harian amanat com,- Bulan ramadhan telah beberapa hari kita laksanakan, Insyaa Allah hari-hari ke depan hingga berakhirnya ramadhan tahun ini akan tetap bersama kita. Tentunya dalam mengisi aktivitas ramadhan beberapa hari yang telah lewat dan yang akan datang berbeda di antara setiap manusia, meski sama-sama menjalankannya seperti berpuasa di siang hari yang dirangkai dengan tambahan ibadah-ibadah sunah lainnya, menjalankan sholat tharawih dan thadarus Al-Qur’an di malam harinya.

    Bagi orang beriman yang menjalankan puasa, salah satu yang dibatasi di bulan ramadhan adalah keinginan untuk merasakan sesuatu pada siang hari.
    Keinginan yang berada dalam setiap diri manusia berbeda dan jumlahnya tidak terbatas. Manusia akan berlomba-lomba untuk mewujudkan berbagai keinginan tersebut secara maksimal.

    Dalam ilmu ekonomi, seberapapun keinginan itu telah terpenuhi tidak akan mencapai maksimal karena sifat manusia yang tidak pernah puas. Setelah keinginan yang satu terpenuhi muncul pula keinginan untuk memiliki yang lainnya. Upaya manusia mewujudkan berbagai keinginan tersebut berlangsung sepanjang usia kehidupan, dan bila hal ini tidak diberi batasan pada waktu-waktu tertentu maka akan menghantarkan manusia pada jurang kenistaan.

    Allah sengaja menghadirkan bulan Ramadhan setiap tahunnya, sebagai sarana untuk menahan dan membatasi upaya manusia dari dorongan memenuhi berbagai keinginannya.

    Ramadhan hadir untuk memberikan kesempatan kepada jiwa agar beristirahat dan melakukan wisata (rekreasi) dengan membebaskan diri manusia dari dorongan keinginan. Selama sebulan penuh ramadhan akan mengokohkan jiwa manusia beriman untuk menahan diri dari berbagai keinginannya pada siang hari. Jiwa harus dipaksa untuk mampu dan dapat menahan keinginan setelah sebelas bulan selalu mengikuti kehendak nafsu untuk memenuhi berbagai keinginan tersebut.

    Keinginan yang dilarang pada bulan ramadhan pada siang hari bagi orang yang melakukan puasa adalah melakukan makan dan minum serta hubungan suami isteri karena keduanya memiliki energi yang kuat. Kedua keinginan ini akan membawa dampak terhadap kemampuan diri membatasi keinginan-keinginan yang lainnya seperti mata memandang, telinga mendengar, mulut berucap dan berbicara, kaki melangkah, tangan menjamah dan lainnya, yang semuanya mengarah pada batal dan hilangnya pahala ramadhan.

    Ada hal positif yang dapat diperoleh manusia yang berpuasa dilarangnya memenuhi keinginan-keinginan ini di bulan ramadhan.
    Berkenaan dengan manusia yang mampu membatasi keinginan, dalam sebuah hadis Qudsi Allah berfirman :” dia telah meninggalkan makanannya, minumnya, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan mengganjarnya. Setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipatnya (HR. Bukhari).

    Sangatlah beruntung bagi orang yang mampu menahan dan membatasi keinginannya pada waktu berpuasa, karena telah mampu mengendalikan sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Hasil yang diperoleh dari menahan dan membatasi keinginan tidak hanya diperolehnya pada waktu sekarang terlebih akan diperolehnya pada masa mendatang.

    Manusia yang mampu membatasi keinginannya berarti dia telah mampu mengendalikan jiwanya dari hal-hal yang dinikmati dan dirasakan sesaat dan lebih bersifat duniawi. Rasa kenyang karena banyak makan dan kepuasan berhubungan suami isteri dapat menyebabkan terjadinya kegembiraan yang melampaui batas, seseorang akan menjadi lupa diri, melahirkan kesombongan dan cenderung kufur kepada nikmat.

    Puasa merupakan jalan untuk menghindari gejolak yang melampaui batas tersebut. Jika keinginan makan dan berhubungan suami isteri menguat, maka akan timbul rasa senang pada harta, sebab kedua keinginan tersebut tidak akan tercapai kecuali dengan adanya harta.

    Rasulullah saw bersabda “Tiada amalah yang lebih baik yang disenangi oleh Allah Ta’ala daripada lapar dan dahaga. Pada hadis lain Rasulullah saw telah bersabda “Semulia-mulia kalian di sisi Allah Ta’ala ialah orang yang paling lama lapar dan berpikirnya. Dan orang yang lebih dibenci oleh Allah Ta’ala dari kalian adalah tukang makan, tukang minum dan penidur. Dengan demikian orang yang mampu menahan dan membatasi keinginan untuk makan dan minum selama berpuasa adalah orang yang mengejar dan mengharapkan kemuliaan di sisi Allah SWT.

    Menahan dan membatasi keinginan selama berpuasa juga mampu mempersempit aliran darah yang merupakan jalan bagi setan untuk menggiring manusia ke arah hal-hal yang negatif. Melalui aliran darah setan membujuk manusia untuk melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan kemarahan.

    Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya setan itu mengitari anak Adam melalui peredaran darahnya. Maka persempitlah tempat peredaran setan itu dengan lapar dan dahaga (HR. Bukhari).

    Dengan demikian menahan dan membatasi keinginan untuk menumpahkan kemarahan dengan berpuasa mengindikasikan bahwa manusia beriman telah mampu memutuskan dan menghentikan pergerakan setan di dalam tubuh yang mengikuti aliran darah.

    Tantangan yang dihadapi manusia beriman untuk menahan dan membatasi keinginan dalam bulan ramadhan sangatlah banyak. Manusia-manusia lain meskipun tergolong beriman dengan sengaja menggangu dan menggoda orang yang berpuasa dengan menyajikan aneka suguhan yang mengarah pada timbulnya keinginan yang dapat membatalkan puasa dan mengotori jiwa. Suguhan-suguhan melalui alat-alat elektronik baik berupa makanan maupun yang lainnya benar-benar mengganggu konsentrasi orang berpuasa. Namun, iman yang telah kuat melekat dalam diri gangguan dan keinginan untuk merasakannya dapat ditahan dan dibatasinya.

    Perjalanan kita dalam menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan ini masih relatif lama, sehingga dibutuhkan kesabaran dan jiwa yang kokoh untuk mampu mengatasi berbagai godaan dan keinginan yang ada dalam diri. Kemampuan mengatasi dan membatasi keinginan yang tidak terbatas telah menghantarkan kita menjadi pemenang, terutama sekali yang berkenaan dengan keinginan perut.

    Rasulullah saw bersabda kepada Aisyah “Hendaklah kamu terus menerus mengetuk pintu syurga, niscaya pintu itu akan dibukakan bagimu”.

    Aisyah bertanya. “Bagaimanakah caranya kami terus menerus mengetuk pintu syurga?. Beliau bersabda “Dengan lapar dan dahaga atau dengan berpuasa”.

    Dengan berpuasa dapat mencegah terjadinya kemarahan dan menumbuhkan kesabaran. Puasa merupakan obat mujarab untuk menahan dan membatasi keinginan sekiranya belum memiliki kemampuan.

    *Kiranya bermanfaat…
    *Selamat Berbuka Puasa…